
Setelah melepas rindu dengan keluarganya, Laras duduk santai dengan adik - adiknya menunggu ibunya yang sedang masak.
Sambil menunggu ibunya selesai masak, Laras mendengarkan cerita ke tiga adik - adiknya, mereka berebut untuk saling bercerita. Laras merasa senang, walaupun dia kini sudah tidak menetap dengan keluarga kandungnya tapi sampai detik ini dia masih bisa berkomunikasi dengan keluarganya, melalui video call. Adik - adiknya tampak antusias menceritakan apa saja yang terjadi pada mereka, terdengar sesekali gelak tawa dari ruang tamu.
Setelah selesai masak Ibu Laras menghidangkan masakannya di ruang tamu, karena di rumah Laras tidak ada ruang makan. Sang supir, Laras dan ke tiga adiknya di panggil ibu untuk makan. Dengan bergelar tikar mereka duduk sambil lesehan. Mereka makan dengan lahap, bagi Laras masakan ibunya tiada bandingnya. Dia amat merindukan masakan ibunya setelah bertahun - tahun lamanya. Sederhana hanya masakan alakadarnya, berbeda jauh dengan di kediaman pak Indrawan yang menunya wah dimatanya. Nasi putih, lalaban, sambel marah, ikan asin, goreng tempe sama tumis daun singkong, menu yang di masak oleh ibunya Laras. Ternyata bukan hanya Laras, sang supir juga ikut menikmati hidangan ibunya bos kecilnya. Jujur dia merasa walaupun masakan ala kadarnya tapi dia menikmatinya rasanya sangat nikmat dan pas di lidah.
"Bu, abis makan kita Ziarah ke makam Ayah ya Bu." Pinta Laras ke Bu Sofia.
"Iya nak, udah hampir 2 bulan ibu juga gak ziarah ke makam Ayah, ibu sibuk menjait." Jawab ibunya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pak nanti anter kami ya ke makam Ayah, gapapa kan pak?"Tanya Laras ke supirnya.
"Iya non, tenang aja saya pasti saya antar, kalo gak di antar justru saya takut bapak marahin saya, tadi dia berpesan supaya saya mengantar ke tempat yang non tuju, biar saya juga bisa menjaga non." Jawab pak supir
Setelah selesai makan siang bersama mereka bersiap - siap untuk pergi ke makam Ayahnya Laras.
Hanya sekitar setengah jam an mereka menempuh perjalanan dari rumah ke tempat pemakaman ayahnya Laras.
"Ayah.. ini Laras datang menjenguk ayah. Ayah yang tenang ya, kami disini baik - baik saja. " ucap Laras sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
Ibunya mengelus rambut Laras, dia juga menabur bunga ke pusara suaminya.
Mereka berdoa bersama, setelah itu mereka mencabut beberapa rumput yang tumbuh di sekitar pusara. Maklum bukan pemakaman elite jadi di sini hanya keluarga saja yang wajib membersihkan pusara keluarga tanpa adanya fasilitas dari pihak pemakaman.
Laras tampak murung di pinggir pusara ayahnya, ayahnya meninggal ketika kecelakaan kerja. Waktu itu ayahnya menjadi kuli bangunan di tempat perusahaan yang pak Indrawan bangun. Itulah kenapa sekarang dia bisa menjadi anak adopsi di keluarga Indrawan. Dulu pak Indrawan dan Istri ikut serta mengantar jenazah ayahnya ke rumahnya, dan setelah itu dia juga menawarkan untuk mengadopsi dirinya agar beban keluarganya sedikit berkurang. Dan Bu Ismaya sangat senang sama Laras karena Laras anak yang lucu dan pintar, dia berharap Laras bisa menjadi pancingan agar dia bisa hamil.
"Nak, pulang yu udah mau sore, nanti kamu kemaleman pulangnya." ucap ibu Sofia, menatap Laras yang tampak sedang melamun.
"Iya Bu, Laras antar ibu dan adik-adik pulang lalu kembali ya Bu". jawab Laras
__ADS_1
Ibunya hanya menganggukkan kepala, air matanya turun dengan deras. Dari lubuk hati yang paling dalam dia tak rela anaknya harus berpisah dengannya. Tapi himpitan ekonomi yang membuat dirinya harus rela melepas salah satu putrinya untuk pisah. Ia yakin di tempatnya yang sekarang Laras hidup berkecukupan dan juga bisa mengenyam pendidikan yang layak. Laras anak yang pintar jangan sampai dia putus sekolah.
Mereka berjalan beriringan untuk pulang, setelah terlebih dahulu menurunkan ibu dan adik - adiknya Laras pamit ke mereka, dan berpelukan karena mereka yakin entah kapan lagi bertemu.