
Indrawan terus meneruskan aksinya hingga Laras meremas rambut di kepalanya Sampai acak - acakan. Dia tahu Laras menuju titik pelepasan.
Saat mendengar Laras menjerit Indrawan tersenyum. Tak lama cairan itu keluar. Dia menyedotnya hingga cairan itu habis.
Dia melihat Laras dengan keringat bercucuran, setelah pelepasannya Laras terlihat menggemaskan.
"Enak?" Tanya Indrawan
"Piiih tadi itu kenapa?" Tanyanya dengan suara ngos - ngosan
"Itu hal alami sayang, tingkat akhir dari rasa nikmat ya seperti tadi." Ucap Indrawan sambil mengendus kembali leher Laras.
"Sekarang giliran papih sayang."Ucapnya lagi
"Eh... maksudnya? Tanya Laras
"Di mainin kaya tadi punya papih, bukain sayang semuanya" Ucapnya lagi sambil menggulingkan tubuhnya ke samping Laras.
Laras terdiam, dia bingung atas permintaan papihnya. Harus gimana dan ngapain dia bingung.
__ADS_1
Indrawan yang tahu Laras kebingungan, dia menuntun tangan Laras. Dia menatap Laras dengan sayu.
"Buka sayang, terus mainin pake lid*h". Ucapnya
Laras pun mengikuti instruksi dari ayahnya, secara teori dia paham maksud ayahnya. Tangannya gemetaran meraba benda tersebut di balik cel*na papihnya.
Dia tertegun tatkala melihat benda di hadapannya, panjang dan besar. Rasanya takut sekali. Apa iya muat itu yang ada di benaknya. Merasa tak ada pergerakan Indrawan membimbing tangan Laras dan mengajarinya apa yang harus di kerjakan oleh Laras.
Dengan rasa yang deg - degan Laras mengikuti arahan Indrawan, dia mulai menggerakkan tangannya perlahan.
Perlahan Laras menurunkan kepalanya dan membuka mulutnya, rasanya sangat aneh.
Tak lama Indrawan pun mengeluarkan suara.
"Sayaa...aang." Racau Indrawan sambil tangannya menggenggam the twins.
Cairan kental membasahi muka Laras, dia awalnya bingung ko bisa seperti itu. Bau amis menyeruak. Dia hampir saja muntah. Indrawan membantu Laras membersihkan cairan itu.
Mereka beriringan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu Indrawan menidurkan Laras, dia menarik selimut lalu tidur Kembali, setelah merasakan plong di tubuhnya.
__ADS_1
####
Siang itu Indrawan terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum mengingat kembali kejadian sebelum tidur tadi. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua. Dia menatap tubuh gadis kecilnya, ah iya bukan gadis kecilnya sekarang, tapi lebih kepada gadis menuju dewasa. Dia pun terkekeh.
Banyak bercak merah keunguan di leher gadisnya, sampai ke the twins. Setelah puas menatap wajah Laras dia pun bangun dan mandi. Dia berniat untuk pesan makanan, perutnya sudah keroncongan minta di isi.
Di kamar Laras baru saja membuka matanya, dia meraba ke samping tak ada Indrawan di sampingan.
Dia duduk di sandaran tempat tidur dengan lengkap dengan selimutnya. Dia mengintip ke dalam selimut, ah masih polos. Dia tersenyum mengingat tingkah konyolnya bersama sang papih. Kini dia bisa membantu papihnya tanpa harus merugikan dirinya. Dan dia berharap Indrawan tetap seperti itu tidak meminta lebih.
Dia lalu beranjak dari ranjang dan dengan membuka selimut dia menuju kamar mandi tanpa memakai apapun.
Setelah segar dia memakai baju yang mini sekali, dia menuju ke ruang tamu menemui papihnya.
"Udah bangun sayang?" Tanya Indrawan sambil menepuk pahanya agar Laras duduk di pangkuannya.
"Udah piiih, Laras lapar pih." Ucap Laras
"Papih lagi pesan makanan sayang, Lapar ya abis ngeluarin tenaga extra, gimana suka kan??" Tanya Indrawan sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Laras tak menjawab dia malah masuk ke pelukan Indrawan sambil menahan malu.