Menikah dengan Ayah Angkatku

Menikah dengan Ayah Angkatku
Menguak sedikit Tabir


__ADS_3

"Sayang bangun. Udah sore, pulang yu." Bisik Indrawan di telinga anaknya.


Laras membuka matanya, sambil menggeliat.


"Jam berapa pih? " Tanyanya


"Sudah mau jam 4, ayo pulang. Nanti kita nonton dan dinner untuk merayakan kelulusan kamu. Ajak mamih sekalian mumpung mamih di rumah. Jarang - jarangkan mamih ada di rumah."


"Beneran pih?.. Tanya Laras sambil memamerkan senyumnya yang merekah.


Indrawan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia lalu berjalan ke arah mejanya, memakai jas dan mengambil tasnya.


Mereka keluar dari ruangan menuju ke lobby. Sepanjang perjalanan menuju lobby Laras bergelayut ke papihnya dengan perasaan senang. Karena dia akan pergi jalan dengan kedua orang tuanya. Jujur aja itu membuat dia sangat bahagia, karena selama di asuh oleh keluarga Indrawan ia merasa kesepian dan juga kurang kasih sayang.


Banyak karyawan yang menyapa mereka, dan hanya di jawab dengan senyuman oleh mereka. Indrawan walaupun seorang atasan tapi dia tidak sombong pada bawahannya, karena dia merasa dia membutuhkan mereka untuk bekerja, apalah artinya seorang atasan jika tidak ada bawahan. Begitu fikirnya.


Sampai di lobby mereka langsung masuk ke mobil, dan sang supir langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah kediaman Indrawan.

__ADS_1


Sampai pintu gerbang, penjaga rumah langsung membukakan pintu gerbang, dan mobil berhenti di pintu masuk rumah.


Laras keluar dari mobil lalu berlari kedalam rumah.


"Sayang jangan lari nanti jatuh." Teriak Indrawan.


Tapi Laras cuma nyengir lalu berjalan dengan tergesa gesa ke dalam rumah.


"Miiiih, Miiih Laras pulang Miiih. Teriaknya


Merasa tak ada sahutan dari sang mamih, dia langsung menuju ke dapur.


"Ibu pergi non, barusan sama teman - temannya". Jawab Mbok Imah.


Terlihat gurat kekecewaan dari raut wajah Laras mendengar jawaban sang asisten rumah tangga tersebut.


Dia lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya, di tangga dia berpapasan sama Papihnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa ko kaya mau nangis gitu?" Tanya Indrawan. Melihat raut wajah anaknya yang tadi sumringah sekarang berubah menjadi sendu.


"Mamihnya pergi pih, gak jadi aja nonton sama dinnernya, aku mau istirahat pih cape." Jawabnya sambil menahan air mata agar tak jatuh. Berlalu meninggalkan papihnya yang masih berdiri di tangga.


Indrawan hanya menghela nafas, merasa kasihan ke anaknya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari istrinya. Padahal dulu dia yang paling antusias untuk mengadopsi Laras.


drttt... drttt.. Suara ponsel mengejutkan Indrawan dari lamunannya..


"Halo Max."


"Halo tuan, ternyata dugaan kita selama ini benar tuan, nyonya sekarang ada di hotel XX bersama dengan lelaki muda yang tempo hari ada di Poto." Jawab Max, lelaki kepercayaan Indrawan.


"Awasi terus jangan sampai lolos, dan kirim photonya, besok harus sudah ada di meja kerja saya." Indrawan mejawab sambil mengepalkan tangannya.


"Kamu benar - benar sudah berubah Ismaya, bukan saja dengan anak kita, tapi denganku. Sikapmu semakin membuat ku tambah muak dan tambah mantap untuk berpisah denganmu." Batinnya


Ia merasa sudah gagal dalam membina rumah tangga dengan Ismaya, semenjak Ismaya di vonis tidak memiliki anak atau mandul dia berubah menjadi dingin. Bahkan sama anaknya. Dulu mereka berfikir jika mengadopsi anak akan menambah keluarganya harmonis karena hadir buah hati yang selama ini di nantinya. Tapi ternyata istrinya berubah total dua tahun belakangan ini, dan itu di sinyalir karena adanya orang ketiga.

__ADS_1


2 tahun lebih Indrawan sabar menghadapi Ismaya, tapi Ismaya seolah makin tak peduli. Dia seolah menutup mata dengan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. Selama itu pula istrinya sudah tidak memberikan hak nya sebagai suami istri.


__ADS_2