
Malam itu Indrawan masuk ke apartemennya, dia buru - buru masuk ke dalam karena harus balik ke RS. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat ruangan gelap gulita. Kemana Laras pikirnya, ko lampu belum dinyalain semuanya.
Indrawan buru - buru mandi, setelah itu ganti baju dengan pakian casualnya. Dia mengambil ponselnya di atas nakas. Untuk menghubungi Laras, tapi ternyata nomornya tak aktif. Dia menghela nafas, kemana perginya dia gak pernah seperti ini sebelumnya, kalau mau kemana - mana pasti pamit batinnya.
Dia pun meyimpan ponselnya ke saku celananya, saat itu dia mengambil baju untuk salin besok pagi ke kantor, dia melihat ada kertas di atas ranjangnya, lalu dia mengambilnya, surat apa pikirnya. Setelah membuka dan membaca, Indrawan mendadak lemas tubuhnya, Laras pergi dari hidupnya bahkan sampai tega menjual rumah yang belum sempat mereka huni, dengan alasan ada nyawa yang harus dia biayai, dia berfikir mungkin untuk membiayai ibu dan adik - adiknya. Dia lalu duduk mengingat perlakuan nya kepada Laras beberapa hari ini. Perasaan Indrawan saat itu antara marah dan takut Laras pergi dari apartemen. Dia sungguh terpaksa melakukannya karena ancaman dari pak Rusdi.
Niat untuk kembali ke Rumah Sakit dia batalkan, hari ini rencananya dia akan ke rumah Andre, dia berharap Sofia dan Laras ada di sana. Karena yang dia tahu Sofia adalah teman Laras bahkan sudah di anggap sebagai saudara sendiri.
Indrawan menembus keramaian kota besar, kota yang tak pernah mati dengan mengendarai mobilnya. Hatinya resah, mengingat Laras juga keadaanya sedang sakit. Dia tak ingin Laras sampai kenapa - kenapa. Di yakin Laras menemui Sofia karena dia sakit, untuk di rawat sama Sofia.
Hampir satu setengah jam Indrawan sampai di kediaman Andre, tapi pas sampe sana asistem rumah tangganya bilang kalau Andre tidak ada di tempat, Indrawan pun meminta ART Andre untuk menghubungi dirinya, tak lama ponsel Indrawan berbunyi, mereka bicara panjang lebar, akhirnya memutuskan untuk bertemu di suatu tempat yang dekat posisinya sama mereka dan Andre punemghubungi Sofia agar ikut bertemu.
Mereka bertemu di sebuah kafe, Andre dan Sofia terlebih dahulu sudah datang baru menyusul beberapa menit kemudian Indrawan.
__ADS_1
Indrawanpun menanyakan tentang keberadaan Laras kepada Sofia.
"Laras mana fia?" Tanya Indrawan
"Laras... Laras di apartemen om." Sahut Sofia
"Jadi Laras tidak sama kamu?" Indrawan bertanya kembali dengan muka panik
"Nggak om, kami bertemu pas awal gak masuk sekolah sekitar 5 hari yang lalu." Ucap Sofia
"Ja... jadi jadi maksud om Laras pergi? Pergi kemana dia, terus janinnya gimana?" Sofia bertanya sambil menangis setelah membaca surat Laras.
"Maksudnya janin?" Tanya Indrawan
__ADS_1
"Laras sedang hamil om... dia sakit karena hamil om...." Ucap Sofia dengan membentak Indrawan
Sementara Indrawan melongo mendengar penuturan dari Sofia badannya lemas seperti tidak ada tenaga sama sekali.
Sementara itu Andre sibuk menenangkan Sofia yang menangis tersedu-sedu.
Indrawan pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Andre yang melihat itu semua dia langsung cepat tanggap membimbing Indrawan untuk duduk di kursi.
"Jadi Laras belum memberitahu om kalau dia hamil?" Tanya Andre bijak
Indrawan menggeleng ia ingat waktu itu Laras pernah berkata kepadanya ingin bicara penting tapi dia malah sibuk mengurusi Ismaya sehingga Laras tidak diberi kesempatan untuk berbicara kepadanya dan sekarang dia mengerti kenapa di suratnya tersebut dia berkata ada nyawa yang harus dia biayai.
__ADS_1
Karena melihat kepanikan dari Sofia dan Indrawan Andre pun akhirnya mengajak duduk untuk berembuk mencari Laras akhirnya merekapun bertiga memutuskan untuk pergi ke Bandung besok pagi karena kemungkinan besar Laras pergi menemui orang tuanya seingat Indrawan Laras itu tidak punya siapa-siapa lagi kecuali ibunya di Bandung.