Menikah dengan Ayah Angkatku

Menikah dengan Ayah Angkatku
Pertengkaran Mamih dan Papih


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.15 ketika Laras sampai di depan rumah. Dia berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah.


Prang......


Terdengar sesuatu yang pecah di dalam rumah, seperti benda yang di lempar.


Laras terkejut bukan main, dia berdiri sambil memegang dadanya yang seolah ingin loncat karena kaget, dia melihat ke arah ruang tamu. Di sana terlihat mamih sama Papihnya sedang berdiri di ruang keluarga. Dan pecahan beling tersebar di ruang keluarga.


"Cuku Maya, saya sudah muak dengan kelakuanmu. Sekarang kamu berubah Maya, dua tahun lebih saya memendamnya, kamu bukan hanya dingin denganku dan anak kita, kamu juga sekarang sudah berani selingkuh di belakangku". Teriak Indrawan

__ADS_1


"Hah, anak.... anak siapa? saya tidak punya anak, kamu tidak bisa memberikanku anak, kamu itu mandul. Dulu aku berfikir kalau aku mungut anak biar bisa buat pancingan. Tapi emang kamunya mandul, jadi gak punya anak. Iya bener aku selingkuh, aku selingkuh biar aku hamil dan punya anak, dokter itu pasti kerja sama sama kamu menuduh aku yang mandul. Kamu pasti membayar dokternya. Jadi, kita lihat kalau sampai aku hamil berarti kamu yang mandul. " Ismaya tak kalah dari suaminya dia pun bicara sambil teriak teriak.


"Maya..... yang bilang kamu tidak bisa punya anak bukan aku, tapi dokter di rumah sakit. Dan saya tidak membayar dokter agar memvonis kamu mandul. Asal kamu tahu Maya, bagi aku ada dan tidak ada anak tak jadi masalah. Kita punya Laras, dia anak kita sekarang. Berhenti bersikap konyol Maya, saya tidak pernah menuntut anak dari kamu Maya, mungkin itu takdir kita. Mari kita terima takdir dengan lapang dada. Kita punya Laras aku yakin hati kecil kamu juga menyayangi Laras. Dia anak yang pintar, dia juga anak yang baik. Jika kita tulus menyayanginya aku yakin, dia juga akan tulus menyayangi kita."


Ucap Indrawan, bicaranya sedikit keras tapi tidak teriak seperti tadi.


"Aku tidak mau Indrawan, bagiku anak itu pembawa sial. Harusnya dia di adopsi membawa keberuntungan aku bisa hamil, tapi nyatanya apa, aku di vonis mandul sama dokter sialan itu." Teriak Ismaya sambil berlalu meninggalkan Indrawan seorang diri di ruang keluarga.


Deg..

__ADS_1


Indrawan kaget saat melihat Laras berdiri, dengan linangan air mata di pipinya.


Dia berbelok bergegas menghampiri Laras.


"Sayang... ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang. Mamih hanya sedikit cape karena pekerjaannya banyak, jadi dia sedikit emosi. Papih minta, kamu jangan pikirkan kata - kata mamih barusan ya." ucap Indrawan sambil mengusap lembut kepala Laras.


"Papih...."


Laras memeluk Indarawan dengan kuat, dia menangis tersedu-sedu di pelukan papihnya. Dia merasa dadanya sesak dan sakit, ucapan mamihnya terasa menusuk ke ulu hatinya.

__ADS_1


" Sayang.... sudah ya jangan nangis, jangan di pikirkan dan jangan di masukkan ke hati ucapan mamih tadi. Sekarang kamu bersih - bersih dulu, setelah itu turun untuk makan ya." Ucap Indrawan sambil mengusap butiran bening yang turun deras di pipi Laras.


Laras melepaskan pelukannya, dia berjalan dengan gontai menaiki tangga menuju ke kamarnya. Hatinya merasa hancur mendengar uneg - uneg yang di lontarkan mamihnya. Apalagi mamihnya beranggapan kalau dia adalah pembawa sial.


__ADS_2