
Laras bangun dari duduknya, dia berjalan sedikit berjinjit kakinya terasa perih karena lecet di tambah mungkin kemasukan pasir yang menempel di kakinya.
Indrawan bergegas menyusul langkah kaki Laras. Dia jalan sambil memegang tangan Laras.
"Papih gendong ya? sakit banget kan". katanya
"Gak usah pih malu, kaki Laras lecet piiih, sakit." jawabnya
"Piiih istirahat dulu ya pih, main photo dulu sunset nya indah banget" Tambahnya lagi
Indrawan terkekeh, walau kakinya lecet masih sempat - sempatnya mikirin di photo pikirnya.
Mereka duduk di dekat dengan batang pohon nyiur, angin sore dan indahnya pemandangan tepi pantai membuat hati adem dan nyaman.
Sementara Laras asik photo - photo Indrawan pergi membeli cemilan dan minuman.
Sambil menikmati matahari terbenam mereka kini asik ngobrol sambil makan cemilan.
"Piiiih, nanti kalau aku ulang tahun kita jalan - jalan lagi ya pih." pinta Laras
"Siap nona.." jawab Indrawan
"Tapi jangan jauh - jauh, kita ke Pangandaran aja, kata teman aku Pangandaran juga tempatnya oke pih." ucap Laras
__ADS_1
" Iya, papih akan turutin semua keinginan Laras, asal Laras ikutin semua yang papih katakan." jawab Indrawan
"Mau kado apa?* tanyanya lagi ke Laras
"Apa ya, gak mau apa - apa, kadonya jalan - jalan aja udah." Jawabnya
"Pulang yu, udh mau malem." ajak Indrawan
"Piiih, sekalian makan aja yu. Aku mau makan di sini pinggir pantai, makan seafood. gak usah balik ke hotel dulu sekalian aja sekarang. Nanti kalau udah di hotel gak usah keluar lagi kaki aku sakit bolak baliknya." pinta Laras
"Ya udah... ayo kita pesan tempatnya" Indrawan memapah Laras
"Piih makasih ya selalu menuruti apa yang Laras pinta". katanya dengan mulut penuh makanan.
"Jangan ngomong sambil makan sayang, nanti tersedak." balas Indrawan sambil memberikan minum untuk Laras.
"Kenyaaaang..." kata Laras setelah mereka selesai makan
Indrawan terkekeh, gadis ini kalau lapar heboh dan kenyang juga heboh.
Dengan sedikit di papah Laras dan Indrawan kembali ke hotel. Mereka masuk ke kamar masing - masing untuk membersihkan diri.
Menjelang tengah malam, Indrawan tak juga memejamkan matanya. Padahal dia sangat lelah rasanya. Tapi matanya enggan juga terpejam. Dia rindu gadis kecilnya, tapi untuk menemuinya dia urungkan niatnya. Benar kata Laras kalau sering menemuinya dan ke kamarnya secara diam - diam lama - lama pasti tidak bisa menahan diri dan takutnya khilaf.
__ADS_1
Dia terus membolak balikan badannya. Dia akhirnya mengambil ponselnya dan membuka galeri photonya dan Laras, lumayan bisa sedikit mengobati rindunya.
Di kamar sebelah, sama halnya seperti Indrawan Laras juga tak bisa tidur dia merasa kakinya sedikit bengkak dan sakit. Di tambah tidurnya gak nyaman, dia menunggu Indrawan dia berharap papihnya datang dan tidur bersamanya lagi seperti malam sebelumnya.
Tapi yang di tunggu tak juga datang, akhirnya Laras berjalan dengan sedikit tertatih ke pintu penghubung dan membukanya.
Indrawan asyik membuka photo kebersamaannya hingga tak sadar Laras menghampirinya.
"Piiih. "Katanya sambil duduk di pinggir ranjang papihnya
"Loh sayang, belum tidur ini udah malem banget."Ucap Indrawan sambil bangun dan duduk di sandaran ranjang.
"Laras gak bisa tidur piiih, kakinya sakit dan bengkak. Lihat deh pih." jawabnya sambil menaikkan kakinya ke ranjang
Indrawan melihat ke arah kaki Laras, lalu mengusapnya.
"Besok beli obat ke apotek, sekarang Laras tidur ya sambil papih pijitin pelan." katanya
" Laras mau tidur sama papih di sini, gak usah di pijit kakinya di usap - usap aja rambutnya ya piiih." katanya sambil membaringkan tubuhnya.
Dia masuk ke pelukan Indrawan yang masih bersandar. Indrawan akhirnya tidur juga sambil memeluk Laras dan tangannya mengusap rambut Laras sesuai permintaannya.
Cup
Dia mengecup dahinya, Laras tersenyum sambil memejamkan matanya. Dan mereka tertidur hingga pagi
__ADS_1