
Malam semakin larut, Indrawan menatap teduh kedua orang kesayangannya yang sedang terlelap di blankar. Dia tak bisa memejamkan matanya sedikitpun, padahal dari kemarin malam dia belum tidur sama sekali. Tapi entah kenapa rasa ngantuk itu belum juga menyerang nya. Dia merasa seperti mimpi bisa melihat lagi Laras apalagi ada buah hati di sampingnya. Bayi yang di ketahui bernama lengkap Gabriel Indrawan itu terlihat seperti Poto copy an wajahnya, dari mata, bibir dan alis persis seperti dirinya. Dia merasa beruntung masih di pertemukan dengan anaknya sebelum tutup usia.
Indrawan naik ke atas blankar untuk tidur memeluk keduanya. Merasa ada pergerakan Laras terbangun.
"Piiih.." Ucapnya serak ciri khas orang bangun tidur
"Eh kebangun ya.... maaf ya." Ucap Indrawan
" Belum tidur piiih? " tanya Laras sambil duduk
" Belum ngantuk, kenapa sayang?" Tanya Indrawan
"Aku lapar piiih " Ucap Laras malu - malu
"Oke papih pesankan makanan ya, mau makan apa?" Tanya Indrawan
"Nasi goreng kayanya enak piiih, anget." Jawab Laras
Indrawan mengambil ponselnya dia memesan food di aplikasi sesuai pesanan Laras.
" Mau kemana?" Tanya Indrawan yang melihat Laras turun dari blankar
"Mau duduk di sofa biar nggak ganggu dek Gabriel." Ucap Laras
Indrawan mengikuti Laras dibelakangnya semenjak infusan nya di cabut Laras terlihat sehat sehingga dirinya tidak begitu khawatir.
__ADS_1
"Kalau ngantuk tidur aja piiih... " Ucap Laras sambil duduk di sofa
"Papih gak ngantuk." Jawab Indrawan sambil ikut duduk di samping Laras.
Indrawan merengkuh tubuh Laras sambil mengusap kepalanya.
"Papih marah gak rumahnya di jual?" Tanya Laras hati - hati
Indrawan menguraikan pelukannya lalu menatap wajah Laras.
"Itu rumah kamu, kenapa harus marah. Semua yang papih miliki adalah milik kamu juga sayang." Ucap Indrawan
"Itu kan rumah baru dan belum ditempatin." Ucap Laras sambil membalas tatapan Indrawan
"Papih sangat berterima kasih sama kamu sayang, sudah rela mengorbankan kehidupan kamu demi anak kita. Kamu keluar dari sekolah, membesarkan anak kita mengubur dalam cita-cita kamu, pasti terasa berat untuk kamu dan sekarang papih minta jangan pernah pergi lagi mari kita besarkan anak kita bersama-sama karena dia butuh orang tua yang lengkap untuk tumbuh kembangnya. Kita nikah kalau sudah di Jakarta." Ucap Indrawan
Laras menatap tidak percaya ucapan dari Indrawan.
"Terus mamih?" Tanya Laras
"Setahun yang lalu papih resmi cerai dari mami kamu dan papih sudah enggak tahu lagi kabar mami kamu dan keluarganya semenjak kecelakaan yang papih alami karena ulah dari Pak Rusdi." Ucapnya lagi.
"Kecelakaan?" Tanya Laras
Indrawan pun menceritakan tentang kecelakaan yang dia alami bersama dokter Mita dan tentang Pak Rusdi yang sekarang mendekam di penjara karena berusaha untuk mencelakai dirinya.
__ADS_1
#Flash back
Siang itu Indrawan memasuki kantor polisi karena mendapat telepon bahwa memang benar Pak Rusdi lah dalang dari kecelakaan yang dia alami saat akan menemui Laras.
Setelah mendapat keterangan dari polisi dengan ditemani pengacaranya dia menjumpai Pak Rusdi. Saat melihat kedatangan Indrawan Pak Rusdi langsung berdiri hendak menyerang Indrawan.
"Kenapa kamu gak mati? Jika Ismaya tidak bisa bersama kamu sebaiknya kamu mati sialan." Ucap pak Rusdi sambil melayangkan tangannya.
Tetapi dengan sigap beberapa polisi disana menenangkan Pak Rusdi.
"Bapak salah orang, yang salah bukan saya. Justru saya sangat menyayangi Ismaya sebelum ismaya menghianati saya, tapi saya juga manusia biasa kalau terus disakitin tidak mungkin bertahan terus menerus." Ucap Indrawan
"Jangan pernah merasa menang Indrawan lihat aja kamu juga harus mati di tangan saya." Ucap pak Rusdi
Karena merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi dan berbicara dengan Pak Rusdi juga percuma akhirnya Indrawan dan pengacaranya pulang.
"Tolong urus perceraian saya dengan ismaya." Ucap Indrawan kepada pengacara
#Flashback off
Terima kasih ya reader tercinta untuk semua like dan komennya... saya gak bisa bls komen nya satu satu...
Author juga mohon minta dukungannya untuk like and komen di karya author yang satunya ya..
__ADS_1