Menikah dengan Ayah Angkatku

Menikah dengan Ayah Angkatku
Kesepakatan


__ADS_3

Kini mereka sedang di pusat belanja Pasar Seni Ubud Bali, mereka berjalan sambil menikmati indahnya sore hari. Indrawan banyak sekali diam, dia masih kesal sama Laras karena pintu penghubung kamar tadi di kunci.


"Pih... ngapain ngajak jalan kalau papih marah sama Laras". kata Laras dengan muka sendu.


Dia sedih karena sedari tadi papihnya terus saja cuek, dia sibuk sama ponselnya saja. Bahkan saat dirinya tersandung pun Indrawan diam saja.


"Papih gak marah, jawabnya. Ayo pilih mau beli apa? sekalian beliin bibi di rumah oleh - oleh." jawabnya.


"Gak mau, papih marah sama Laras." dia berkata sambil berjalan tanpa menoleh papihnya.


Indrawan mengejar Laras dan memegang tangannya, dia membawa Laras melihat salah satu Toko Aksesoris Khas Bali.

__ADS_1



Indrawan memilih beberapa barang sambil tangan satunya tetap memegang tangan Laras.


Dia menawarkan beberapa aksesoris yang unik hasil kerajinan tangan warga sana ke Laras. Tapi Laras tetap menggeleng, hingga akhirnya mereka keluar dr toko dan berjalan hingga di pinggir pantai. Karena berjalan agak jauh kaki Laras terasa sakit dan lecet. Dia juga haus. Tapi dia tetap menjaga gengsinya untuk bertahan tanpa meminta bantuan Indrawan.


Matahari mulai terbenam ketika mereka sampai di pantai, Laras merasa cape dan kakinya sakit langsung duduk di hamparan pasir, air matanya meleleh. Entah kenapa rasanya hatinya sakit sekali papihnya mendiamkannya hanya karena dia tak mengangkat telpon papihnya.


Indrawan ikut duduk di samping Laras, dia melihat kaki Laras merah dan lecet. Lalu membuka sendalnya, dia melihat ke arah Laras yang sedang menatapnya, untuk beberapa saat mereka saling bertatapan. Indrawan membawa Laras kedalam pelukannya.


"Tadi aku lagi mandi piiih, makanya telponnya gak ke angkat". kata Laras lirih

__ADS_1


"Papih tak marah karena Laras tak mengangkat telpon papih, tapi papih kecewa karena pintu penghubung di kunci. Papih merasa sekarang Laras mulai mejauhi papih." kata Indrawan


Laras menatap Indrawan, dia kira Indrawan marah karena tak mengangkat telponnya ternyata karena dia mengunci pintu penghubung.


"Pih, boleh Laras bicara sesuatu sama papih? Tanya Laras


"Mau biacara apa, bicara aja sayang" jawab Indrawan


"Pih, ada alasan kenapa Laras mengunci pintu , Laras tak mau sampai kita melakukan hal di luar batas kita pih, Laras gak mau kita sampai khilaf pih, jika kita egois akan banyak hati yang tersakiti, mamih, keluargaku, keluarga besar papih dan mamih. Mari kita buat kesepakatan pih, kita dekat tapi jangan sampai ada sesuatu hal yang akan merugikan terjadi. Papih jangan sampai merusak masa depan aku. Aku mohon pih, kalau memang Tuhan berkehendak biarlah Tuhan yang menuntun dan menunjukkan jalannya untuk kita, asal jangan sampai ada orang yang tersakiti. Laras yakin, papih tulus menyayangi Laras maka dari itu Laras minta dari papih jangan rusak kepercayaan orang - orang yang menyayangi kita pih." Ucap Laras lirih


Indrawan tertegun mendengar ucapan Laras, ucapan dari anak yang bahkan belum genap 16 tahun, baru saja dia lulus SMP tapi kata - katanya seolah menampar dia yang usianya jauh di atasnya.

__ADS_1


Laras benar, seharusnya dia melindungi Laras bukan merusaknya. Bukankah dia butuh sosok orang yang akan merawatnya kelak dia tua nanti.


like like like nyaaaaa ya


__ADS_2