Menikah dengan Ayah Angkatku

Menikah dengan Ayah Angkatku
Maafin Papih


__ADS_3

Indrawan menghela nafas, dia harus menjawab pertanyaan Laras dengan kata - kata yang bisa di pahami olehnya. Dia yakin Laras sudah mulai curiga akan perasaannya. Karena Laras bukan anak kecil lagi dan juga dia anak yang pintar. Jangan sampai Laras merasa terbebani dan menghindar darinya.


Dia tahu Laras ketakutan karena perlakuannya. Dia merutuki kebodohannya yang sampe ketiduran bareng gadisnya.


"Karena papih sayang sama Laras." jawabnya degan tangan masih mengelus rambutnya.


"Pih, sayang seperti apa yang papih maksud?" tanya Laras lagi.


Indrawan sejenak mengentikan usapannya, dia berusaha mencari jawaban yang pas atas pertanyaan Laras.


"Papih gak tahu sayang, yang jelas papih sayaaaang sama Laras. Maaf ya kalau Laras kesal dan kecewa sama papih. Papih janji gak bakal ngulang lagi. Tadi malem papih gak bisa tidur jadi papih ke sini. Dan melihat Laras udah tidur. Papih ikutan tidur jadinya." ungkap Indrawan dengan jujur.


"Pih, kita gak boleh seperti ini, kasihan mamih. Papih ini papihnya Laras pengganti ayah. Laras takut pih, kalau sikap papih kaya gini." ucap Laras sambil terisak.


Indrawan membalikkan tubuh Laras agar menghadap ke dirinya.


"Sayang tatap mata papih." ucap Indarawan

__ADS_1


Laras menatap mata Indrawan masih dengan linangan air mata.


Indrawan mengusap lelehan air mata Laras dengan kedua tangannya. Acapkali gadis di depannya nangis hatinya terasa sakit. Apalagi kali ini menangis karena ulahnya.


"Maafkan papih karena papih gak bisa menahan diri, papih juga bingung dengan perasaan papih. Yang pasti papih sayang sama Laras, dan masalah mamih, kamu tahu sendiri bukan, mamih sekarang udah berubah. Jalan akhir hubungan papih sama mamih sepertinya cerai. Mamih sudah menghianati papih. Dia bahkan sudah lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri sama ibu. Papih juga tak mau mengekang lagi mamih. Dia yang menginginkan berpisah dengan papih. Papih akui papih salah, maaf banget udah bikin Laras takut karena sikap papih. Tapi papih mohon tetap seperti Laras yang papih kenal. Jangan berubah karena kejadian hari ini hemmmm.... " panjang lebar Indrawan menjelaskan, dia takut kalau tidak jujur Laras akan pergi dan meninggalkan dengan kekecewaan yang mendalam karena sikapnya.


Laras menatap wajah laki - laki yang selama ini dia anggap sebagai pengganti ayahnya. Dia perlahan masuk kedalam dekapan papihnya.


Indrawan menghembuskan nafasnya, dia lantas tersenyum lalu memeluk erat gadis dalam dekapannya.


"Tidur lagi sayang ini masih pagi, jangan bersedih kita datang kesini untuk liburan." ucap Indrawan mengelus punggung Laras penuh kasih sayang


Indrawan pun ikut terlelap setelah memastikan gaidsnya tidur lagi.


Mereka tidur hingga Matahari pagi muncul dan menyapa semesta.


Indrawan terbangun dia merasa tangannya sedikit kebas, karena jadi tumpuan kepala Laras. Dia tersenyum menatap wajah polos itu.

__ADS_1


Cup.. (bibirnya)


Cup... (keningnya)


"Piiih... ish kenapa sih papih cium Laras.. papih genit deh".. ucap Laras dengan suara serak khas bangun tidur..


Indrawan terkekeh mendengar celotehan Laras.


"Moodboster sayang.." jawabnya


"Apaan sih pih, masa iya dengan kiss".. Laras berkata sambil mengerucutkan bibirnya


Cup... Indrawan mendaratkan ciuman nya lagi melihat bibir Laras yang manyun.


"Ini akan jadi kebiasaan sayang, kamu harus terbiasa. Jangan manyun lagi donk nanti papih kiss lagi. Dan gak jalan - jalan. Cepetan mandi kita sarapan abis ini." Ucap Indarawan


"Pih mandinya di kamar papih ya, jangan di sini." Ucap Laras. Dia takut kalo papihnya mandi di kamarnya papihnya khilaf.

__ADS_1


"Iya sayang". Jawab Indrawan sambil turun dari ranjang dan melangkah ke kamarnya.


__ADS_2