
Sore yang hangat. Mila berjalan di trotoar sambil membawa sebuah bungkusan di tangannya. Ia merasa hatinya kali ini tidak seperti biasanya. Begitu tenang. Ia menikmati sorenya.
Di sela perjalanannya, ia melihat seorang pengemis. Ia menjadi teringat akan dirinya. Begitu susahnya saat tidak memiliki apa-apa. Dan sangat sakit harus menahan lapar berhari-hari.
Mila pun berniat untuk memberikan uang pada pengemis tersebut. Ia merogoh tas sandangnya. Setelah mendapatkan uangnya, ia pun memberikan uangnya kepada pengemis itu.
Tapi, tanpa diketahui oleh Mila, seseorang telah memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Mila lupa menutup tasnya saat itu. Namun, ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh tasnya. Ia berbalik melihat siapa orang itu. Dan kebetulan orang itu melihatnya juga dengan raut wajah yang sedih.
Dalam hati Mila sangat terkejut. Ia melihat seorang wanita yang tengah berjalan dengan seorang pria. Dan wajah wanita itu terdapat luka lebam. Namun yang membuat Mila heran ialah ia seperti mengenal wanita itu. Ia terus saja mengingat-ingat.
Setelah beberapa ia berjalan, tiba-tiba hp-nya pun berdering. Ia melihat nama yang tertera adalah Angga. Dengan malas ia menerima panggilan itu.
Angga: “Kamu dimana?”
Mila : “Di jalan!”
Angga : “Iya. Dimana?”
Tut... Mila pun memutus panggilannya. Angga yang di seberang sana pun mengumpat atas tidak sopannya Mila terhadapnya.
Lalu, tidak lama pun Mila masuk ke dalam gerbang rumah. Dan Angga sampai terheran melihatnya. Ingin rasanya Angga langsung memarahinya. Tapi, ia mencoba untuk sabar menghadapi Mila.
Mila masuk begitu saja. Ia sama sekali tidak memandang Angga. Ia begitu memang sengaja. Karena rasa marahnya pada Angga belum memudar.
“Hei! Aku di sini! Kamu sengaja tidak melihatku!”, seru Angga kesal.
__ADS_1
Mila pun menghentikan langkahnya. Angga langsung berjalan mendekatinya. Pandangan Mila pada Angga seorang mengisyaratkan “mau apalagi?”. Ia begitu malas untuk berbicara pada Angga.
“Aku cuma ingin mengajakmu makan siang”, ucap Angga.
“Ah, soal itu, aku udah membeli soto di warung sebelah perempat tadi, nih”, jawab Mila sambil menunjuk bungkusan yang di bawanya.
Angga menatap bungkusan yang Mila pegang itu, “Oh, ya udah. Baguslah. Kalau begitu aku balik ke kantor lagi ya”.
Mila hanya acuh. Tapi, yang Mila tangkap seperti ada rasa kecewa di wajah Angga. Mila benci harus memikirkannya. Kalau sudah begini, Mila mulai merasa tidak enak pada orang itu dan selalu merasa bersalah.
Setelah Mila melihat Angga telah pergi, ia pun kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di kamar, ia langsung terduduk di pinggir ranjang. Dengan kesal ia meletakkan tas sandangnya di sampingnya. Belum lagi hilang pikirannya tentang wanita tadi, kini ia pun telah dihantui rasa bersalah.
Stop Mila, kamu nggak perlu merasa bersalah. Angga memang pantas di gitukan. Tapi, dia udah repot-repot pulang demi ngajak aku makan. Kasian juga sih.... Duh.. Apaan sih! Jangan pikirkan dia lagi deh!, celetuk Mila dalam hati.
Mila menepuk-nepuk kepalanya untuk menghilangkan pikirannya tentang Angga. Saat ia tengah mengambil nafas dalam-dalam, matanya tertuju pada sebuah foto. Mila pun menjadi teringat. Karena wanita yang ia temui tadi mirip dengan yang wanita yang ada di foto itu.
Mila cepat-cepat memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Setelah itu, ia langsung mengambil foto itu. Kini ia yakin, jika wanita itu adalah Tasya. Yang membuatnya khawatir adalah luka lebam di pipi dan sudut bibirnya.
Ia ingat kembali ucapan Reina. Bahwa Tasya sudah menikah dengan pria lain. Lalu, ia ingat kembali jika Tasya sedang berjalan dengan seorang pria. Apakah itu suaminya? Ucap Mila dalam hati. Lalu, ada apa dengannya? Apakah dia korban KDRT? (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Tak hentinya Mila memikirkan Tasya. Ia ingat wajah sedih itu. Mila jadi ingin memberitahukannya kepada Angga. Karena, Tasya adalah wanita yang di cintai Angga. Tapi, selalu saja ada argumen yang selalu menggagalkan niatnya.
Tapi, gimana kalau aku salah? Bisa-bisa Angga marah sama aku. Ah, udah deh jangan ngurusin rumah tangga orang! Lagian dia kan baru nikah masa udah begitu. Nggak.. Nggak.. Aku pasti salah. Tapi, wajahnya..... Duh! Aku ini kenapa sih! Mikirin orang mulu!, ucap Mila dalam hati. Ia terus saja bergelut dengan pikirannya.
Mila buru-buru keluar dari kamarnya membawa bungkusan tadi. Ia berjalan ke arah meja makan. Lalu ia letakkan bungkusan itu dan mengambil mangkuk serta sepiring nasi. Setelah ia tuang soto ke dalam mangkuk, ia pun mulai memakannya.
__ADS_1
Sambil mengunyah ia jadi teringat dengan Angga lagi. Bagaimana Angga pulang dan mencarinya untuk makan siang. Dan saat ia menolaknya wajahnya penuh dengan kekecewaan. Lagi-lagi Mila merasa bersalah. Mila adalah orang yang cepat sekali tidak enakan.
Ia jadi berpikir untuk mengajak Angga dinner untuk menghilangkan rasa tidak enak di hatinya. Tapi, ia juga merasakan aneh jika dirinya tiba-tiba mengajak Angga dinner. Seakan dirinya yang ingin berdua dengan Angga. Bisa-bisa Angga akan berpikir jika Mila sudah memberikan lampu hijau padanya. Begitulah yang Mila pikirkan.
Nafsu makan Mila jadi hilang. Ia terus saja memikirkan Angga. Setelah berpikir agak lama akhirnya ia pun mengambil hp-nya dan mengirimkan pesan kepada Angga.
Isi pesan Mila:
Hei! Mr. Arogan. Nanti malam dinner yuk!
Mila menarik napasnya. Ia degdegan menunggu balasan dari Angga. Mila berharap jika Angga menolak ajakannya. Dengan begitu ia tidak perlu berduaan dengan Angga dan rasa tidak enak di hatinya juga hilang.
Drrtt.. drrtt, HP Mila begetar. Saat itu ingin meletakkan hp-nya tapi kaget saat merasakan getarannya. Ia melihat jika Angga sudah membalas pesannya.
Isi pesan Angga :
Oke. Dimana?
“What? Dia langsung bilang oke? Tanya dulu kek, kenapa aku tiba-tiba ngajak dinner!” Gumam Mila kesal.
Mila pun membalas pesan Angga dengan kesal.
Isi pesan Mila:
TERSERAH
__ADS_1
Di seberang sana, Angga yang melihat pesan Mila pun tersenyum. Ia tahu jika isi pesan Mila yang terakhir itu menunjukkan kekesalan Mila pada dirinya. Namun, Angga menjadi teringat sesuatu. Ia pun tersenyum dengan sebuah rencana untuk Mila.
***