Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 54. Kejar-Kejaran


__ADS_3

“Mil? Kok kamu diam aja?”, tanya mama Siska lagi.


“Ha? Oh, itu Ma, Mas Angga lagi di kamar mandi”, jawab Mila berbohong.


Angga membuang napasnya lega. Ia bersyukur karena Mila tidak membongkar aibnya.


“Eh, loh kok kamu pakai bajunya Angga?”, Mama Siska bertanya lagi karena heran melihat Mila.


“Abisnya di lemari gak ada baju yang cocok untuk Mila, Ma”, keluh Mila.


“Ha? Tapi, udah mama belikan untuk kamu..”


“Iya sih, tapi yang mama belikan gaun-gaun pesta sama lingerie”, ungkap Mila dengan wajah melas. “Kan gak mungkin Mila pakai lingerie terus Ma”.


“Ahahaha....”, tawa Mama Siska.


Begitu juga dengan Angga. Ia juga ikut tertawa walau harus sekuat tenaga menutupi mulutnya agar tidak terdengar oleh Mama Siska. Mila pun bertambah manyun karena ditertawakan.


“Maaf ya sayang, mama lupa. Abisnya mama ke pikiran pengen punya cucu mulu. Jadi, gimana? Apa mau mama ambilkan baju kamu di kamar tamu?”, ungkap Mama Siska yang masih merasa senang.


Mila menggelengkan kepalanya, “Nanti biar Mas Angga aja Ma yang ambil”.


Angga melotot pada Mila mendengar ucapannya yang belum mendapat persetujuan itu. Tapi, Mila acuh pada Angga karena itu adalah balasan karena ia sudah menutupi aibnya dan juga karena Angga menertawakannya.


“Ya sudah. Kami tunggu di meja makan ya sayang”, ucap Mama Siska sebelum menutup pintu kamar itu.


Dan setelah pintu tertutup, keduanya bisa bernapas lega. Tapi, Mila masih melihat geli pada Angga yang bak wanita jadi-jadian itu.


“Sekarang Mas Angga harus tanggung jawab! Ambilkan bajuku di kamar tamu!”, perintah Mila dengan berani.


“Oh, udah mulai berani kamu ya!”, ucap Angga geram.


Angga melangkahkan kakinya mengejar Mila. Melihat Angga mengejarnya, Mila juga refleks berlari menghindari Angga sambil terus memohon ampunan pada Angga. Mereka berlari keliling kamar dan Mila melempari Angga dengan bantal dan guling tapi, Angga tetap berusaha menggapai Mila.

__ADS_1


Dan akhirnya Mila tertangkap oleh Angga saat ia berada di atas kasur. Mila terus memohon untuk di lepaskan oleh Angga. Angga menuntunnya untuk duduk di atas kasur tapi, tidak melepaskan dekapannya. Keduanya sama-sama terlihat capek dan ngos-ngosan.


“Hah... Hah...”, napas keduanya begitu terdengar.


Angga mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Tangan yang satunya masih tetap memegang Mila. Ia kemudian menelepon Mama Siska dan bilang tidak ikut makan malam bersama karena mereka akan makan di luar.


“Kenapa kita gak makan bareng aja Mas?”, tanya Mila heran.


“Mau berapa lama mereka nunggu kita. Kasihan dong”, jawab Angga enteng.


Kemudian, Angga menggeser tubuh Mila menghadapnya. Angga pun tersenyum melihat Mila yang sedikit berantakan karena habis lari-larian. Angga mengangkat tangannya dan mendarat di rambut Mila untuk menaruhnya di belakang telinga. Dan tangannya terus menjalar hingga ke tengkuk Mila.


Napas mereka masih begitu terdengar. Ditambah momen yang membuat jantung keduanya berdegup dengan kencang. Mila pun sudah pasrah jika ia mau di apa-apakan oleh Angga.


Perlahan Angga menarik tengkuk Mila agar lebih dekat dengan wajahnya. Mila yang sudah pasrah hanya bisa menutup matanya.


Ya, memang saat ini Angga pun menginginkan yang lebih dari Mila. Tapi, ia sadar akan janjinya. Mila harus tahu jika Angga benar-benar menghargainya. Ia tersenyum melihat Mila yang sudah pasrah itu dengan melihat kedua mata Mila yang sudah tertutup.


Taaak!


“Itu hukuman untuk kamu karena telah berani memerintah saya tanpa persetujuan saya terlebih dahulu! Jadi, kalau ini terulang lagi maka hukumannya lebih dari ini!”, ucap Angga yang sok menjaga image-nya.


Mila sibuk mengusap-usap dahinya yang sangat sakit itu. Ia juga tak henti mengeluh kesakitan atas perbuatan suaminya itu.


Kemudian, Angga mengganti bajunya dengan memakai kaus berkerah dan celana Jeans. Ia langsung keluar dari kamar untuk mengambil pakaian Mila. Mila pun tersenyum karena Angga tetap mau mengambil baju-bajunya.


Di sela-sela itu, ia masih membayangkan kejadian barusan yang terus membuatnya tersenyum bahagia. Hatinya pun bertanya-tanya ada apa dengan suaminya saat ini. Rasanya lain sekali. Apakah Angga salah minum obat atau ia sedang kerasukan? Entahlah tapi, bagi Mila ia sangat suka dengan Angga yang sekarang.


Tidak lama kemudian, Angga masuk ke kamar dengan membawa sebuah tas besar. Mila pun menebarkan senyumannya karena bisa melihat barang-barangnya lagi.


“Cepat ganti baju!”, perintah Angga.


Mila tidak menyahut, ia sibuk mencari baju yang cocok untuknya. Tapi, setelah mengobrak-abrik isi tas itu, Mila sama sekali tidak menemukan baju yang cocok. Kebanyakan bajunya adalah baju-baju lama yang sudah terlihat kusam. Mila takut jika Angga nantinya akan malu.

__ADS_1


“Ada apa Mil? Jangan bilang kamu nggak punya baju”, ucap Angga yang tahu isi kepala Mila. “Sudah pakai aja yang menurut kamu cocok dan nyaman. Nanti setelah makan kita akan berbelanja baju untuk kamu”, lanjut Angga yang tengah duduk sambil memakai jam tangan.


“Kita ke mall Mas?”, ucap Mila di dekat wajah Angga.


“Kyaa! Sejak kapan kamu ada di sini! Bukannya tadi kamu, tas...”, Angga terkejut melihat Mila yang tiba-tiba di hadapannya seperti hantu.


Hampir saja copot jantung Angga melihatnya. Mana Mila senyumnya terlihat mengerikan lagi. “Jangan tersenyum begitu! Serem!”


Mila pun pindah duduk di sebelah Angga, “Aku tuh, dah lama banget nggak pergi ke mall. Sekedar cuci mata pun gak apa-apa deh. Yang penting bisa jalan-jalan ke luar rumah”.


Benar, Angga paham sekarang. Mila sangat jenuh di rumah. Jalan-jalan akan membuat sedikit rasa penatnya hilang. Angga tersenyum melihat Mila yang begitu bersemangat.


“Tapi, kayaknya kamu belum boleh terlalu capek deh. Kamu kan baru operasi...” ucap Angga yang teringat keadaan Mila.


Namun, dengan cepat Mila membungkam mulut Angga dengan tangannya. “Please Mas, jangan batalin”, pinta Mila dengan wajah berseri-seri.


Tentu saja membuat Angga menjadi tidak bisa menolaknya. Wajah Mila begitu imut saat memohon seperti itu. Angga pun melepaskan tangan Mila dari mulutnya dan mengatakan jika mereka akan tetap pergi. Hal itu membuat Mila sangat gembira.


Mila memandangi wajah Angga. Angga lagi serius memainkan gawainya. Kali ini Mila benar-benar jatuh hati melihat Angga. Tapi, apakah benar?


“Mas, kalau seandainya suatu saat nanti kamu ingat kembali, apa kita akan terus begini?”, tanya Mila yang tiba-tiba punya rasa takut di hatinya mengenai pria miliknya itu.


“Kalau yang kamu maksud pernikahan kita, tentu saja kita akan tetap menjadi suami istri”, jawab Angga sambil membalas pesan di hp-nya.


“Bagaimana dengan Tasya? Kalau kamu ingat kembali bukannya kamu akan ingat cinta kamu pada Tasya sebelum kecelakaan itu?”, tanya Mila lagi.


Angga berhenti mengetik. Ia malah menaruh hp-nya di atas meja. Kemudian, ia melihat Mila. Ia tahu persis mata yang sedang bingung itu.


Angga tersenyum, “Tasya masuk dalam kehidupan saya setelah saya hilang ingatan”.


Mila mengangguk sambil membentuk bibirnya seperti huruf O. Ada rasa lega saat mendengar penjelasan Angga. Namun, Mila langsung sadar dengan kalimat terakhir itu.


“Hah? Loh kok Mas tahu? Dan yakin bener kalau kita tetap seper...ti... ini”, ucap Mila yang semakin menekankan suaranya saat ia sadar. “Jangan bilang kalau Mas sudah ingat semuanya!”

__ADS_1


Senyuman Angga semakin lebar mendengar ucapan Mila. Angga mengangguk menyatakan jika ucapan Mila itu benar.


***


__ADS_2