Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 50. Memberikan Seorang Cucu


__ADS_3

Saat larut malam, Mama Siska baru saja keluar dari dapur menuju kamarnya di lantai dua. Namun, saat menaiki anak tangga ia mendengar suara seseorang dari ruang kerja. Ia melihat pintu di sana sedikit terbuka. Akhirnya, Mama Siska pun berjalan ke sana untuk memastikan siapa yang berada di sana.


“Seharusnya kalian putar otak dong! Masa begitu saja harus saya juga yang turun tangan! Pokoknya saya tidak mau tahu semua yang ikut dalam proyek ini saya jatuhkan sanksi besar!”, teriak Angga dari dalam ruangan itu.


Ternyata Angga sedang menelepon karyawannya. Ia sangat kewalahan karena banyak pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini. Dan ia juga sama sekali tidak bisa hadir secara langsung untuk meng-handle-nya.


Tapi, Mama Siska yang mendengarnya tidak terlalu peduli. Yang ia inginkan adalah anaknya bisa membuahkan hasil seorang cucu untuknya. Ia pun merasa kesal karena Angga masih di ruang kerjanya di tengah malam begini.


Tok... Tok... Mama Siska mengetuk pintu yang sudah di buka lebar olehnya.


“Angga....! Kamu ngapain jam segini masih disini?”, tanya Mama Siska pelan namun merapatkan giginya.


“Ini Ma, lagi banyak kerjaan”, jawab Angga biasa saja.


“Kamu itu gimana sih? Istri lagi sakit bukannya di temenin malah di tinggal sendirian sampe larut malam gini! Kalau terjadi sesuatu sama Mila gimana?”, ucap Mama Siska tak kalah kuat dari suara Angga tadi.


Tentu saja suara Mama Siska terdengar sampai ke telinga Mila. Tapi, dengan kondisinya itu ia tidak bisa banyak bergerak padahal rasanya ia juga penasaran. Namun, bukan hanya Mila saja. Bahkan Reina dan Farhan juga mendengar teriakan Mama Siska.


Reina langsung buru-buru mengintip dari pintu kamarnya. Diikuti oleh Farhan.


“Astaghfirullah... Angga lupa Ma”, jawab Angga dan langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


“Apa? Lupa?”, ucap Mama Siska yang semakin Marah.


Mama Siska mendekati Angga dan langsung menarik telinga Angga. “Dasar anak kurang ajar! Baru nikah udah lupa sama istri sendiri! Suami macam apa kamu!”, ujar Mama Siska marah sambil tetap menarik telinga Angga dan menuntunnya keluar dari ruang kerja.


“Ampun Ma... Ampun..!”, teriak Angga kesakitan.

__ADS_1


“Bukannya berusaha ngasih mama cucu, malah kerja mulu yang kamu pikirkan!”, oceh Mama Siska.


Mama Siska masih terus menarik telinga Angga hingga di depan pintu kamarnya. Mama Siska membuka pintu itu dan langsung mendorong Angga hingga hampir terjatuh ke lantai. Setelah menganggap semua aman, Mama Siska menutup kembali pintu kamar itu.


Namun, saat berbalik ia menemukan sepasang kekasih yang lainnya sedang mengintip dari kamar mereka. Tentu saja Mama Siska juga geram melihatnya. Ia menarik napasnya meletakkan kedua tangannya di pinggang.


“Kalian juga! Ngapain masih berdiri disana! Ma..suk!” teriak Mama Siska pada Reina dan Farhan.


Keduanya pun gelagapan. Mereka buru-buru menutup pintu kamarnya. Sangat menyeramkan ketika melihat Mama Siska yang sedang murka itu.


“Bisa nggak sih kalian serius ngasih Mama cucu!!!”, teriak Mama Siska lagi yang tinggal sendirian di depan kamar.


Sedangkan Papa Roy hanya diam saja berbaring di kasurnya. Ia tidak mau terlibat dalam hal itu. Karena ia tahu betul bagaimana jika istrinya sedang marah.


Angga yang masih kaget dengan perlakuan mamanya terhadap dirinya masih terpaku di balik pintu. Setelah Suara Mama Siska tidak terdengar lagi barulah ia bisa melemaskan tubuhnya.


Ia melihat ke arah Mila yang tengah duduk di atas kasur sambil melihat kearah dirinya. Ia pun memaksakan senyumannya agar suasana tidak terlalu tegang.


“Hah? Aku nggak nungguin kakak kok...”


“Eeeheemm!”, Angga berdehem.


“Hah? Oh. Mas... Maksudnya. Hehe”, Mila agak salah tingkah. “Kalau Mas mau kerja ya nggak apa-apa kok”.


Agak tengsin rasanya mendengar Mila tidak menunggunya sama sekali. Padahal ia sudah percaya diri sekali tadi.


“Jadi, beneran nih saya boleh lanjut kerja?”, tanya Angga penuh harap.

__ADS_1


Ya, memang pekerjaannya masih banyak. Ia begitu bersyukur jika Mila tidak keberatan dirinya tetap bekerja walau sudah tengah malam.


Mila pun menganggukkan kepalanya. Angga pun tersenyum dan mengucapkan Terima kasih pada Mila sambil mengelus pipi Mila. Di situ, Mila agak kaget. Dadanya terasa berdesir saat pipinya di sentuh oleh Angga.


Setelah itu, Angga pun berjalan keluar kamar. Tidak lupa ia melambaikan tangannya sambil menutup pintu dengan perlahan. Dan saat Angga membalikan badannya, ternyata Mama Siska dengan wajah yang sudah merah padam berada di belakang Angga. Mama Siska sengaja tetap berada di sana karena ia tahu jika Angga akan keluar lagi dari kamarnya. Angga melihat Mamanya sudah seperti ada api di sekujur Mamanya. Angga sangat terkejut dan ketakutan melihat mamanya seperti itu.


Mama Siska memang tidak mengatakan apa-apa. Mama Siska membuka pintu kamar Angga lagi selebar-lebarnya. Angga hanya diam di sana. Ia menyuruh Angga untuk memutar tubuhnya menghadap ke kamar dengan isyarat jari telunjuknya.


Angga tidak bisa membantah lagi. Ia pun langsung melakukan apa yang Mamanya ing inginkan. Setelah itu, Mama Siska berjalan ke belakang badan Angga. Dan...


Buuggh! Mama Siska menendang Angga sangat kuat hingga terpelanting dan tengkurap di lantai.


“Astaghfirullah!”, ucap Mila kaget melihat Angga terjatuh.


“Ma...!”, teriak Angga kesal sekaligus kesakitan.


Mama Siska cepat-cepat mengambil kunci di pintu dan langsung mengurung keduanya dikamar. Angga tidak bisa apa-apa lagi. Mila pun merasa tidak enak dan ingin membantu Angga berdiri.


“Tetap di sana! Aku bisa bangun sendiri”, ucap Angga saat tahu Mila bergerak.


Angga bangun dari tengkurapnya sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau patah. Ia tertatih-tatih berjalan ke arah kasur. Dan perlahan merebahkan dirinya.


“Jangan terlalu di pikirkan ya apa kata Mama”, ucap Angga sambil merintih dan mengatur posisi tidurnya. “Aku janji tidak akan berbuat itu sampai kita saling mencintai yang seperti kamu bilang”.


Angga melihat ke arah Mila. Dan ternyata Mila telah tidur dengan posisi membelakanginya.


Lalu, di kamar pengantin baru satunya lagi. Ya, suasananya tidak jauh berbeda dengan Angga dan Mila. Farhan sudah terdengar mendengkur dengan posisi membelakangi Reina. Sebenarnya Reina menginginkan malam pertama yang indah bersama Farhan. Tapi itu tidak pernah terjadi. Farhan selalu saja tidur lebih dahulu dengan dalih sangat lelah karena pekerjaannya yang begitu banyak.

__ADS_1


Apa mau dikata. Reina hanya bisa pasrah dengan semua tindakan Farhan yang telah berubah padanya. Ia tahu, namun ia tetap diam. Ia masih tetap berharap jika Farhan akan berubah nantinya.


***


__ADS_2