
Flashback On.
“Pak!”, sapa Frans pada seorang polisi yang ia lewati.
“Hai Frans. Udah mau pulang?”, tanya polisi itu melihat Frans yang telah membawa alat-alatnya.
“He..he... Iya Pak”, jawab Frans tersenyum malu-malu.
Polisi itu pun tersenyum pada Frans. Kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya lagi.
Sore itu, Frans sedang berjalan di tepi jalan yang sunyi. Ia berjalan sambil menghitung uang yang dia dapat dari menyemir sepatu. Hari itu ia sangat gembira sekali. Karena tidak seperti biasanya banyak sekali yang menjadi pelanggannya.
Lalu, ia begitu terkejut. Karena seseorang melewatinya tengah berlari sangat cepat dan terlihat panik. Setelahnya, ia pun melihat dari kejauhan beberapa orang yang berlari seperti mengejar pria tadi.
Saat itu, Frans agak takut. Dalam hati ia tidak mau terlibat. Makanya, ia langsung bersembunyi. Namun, ia melihat semuanya. Pria itu tertangkap oleh orang-orang yang mengejarnya kemudian, di hajar oleh mereka satu-persatu. Frans merasa kasihan pada pria itu. Kalau di lihat-lihat, pria itu seumuran dengan dirinya. Tapi, Frans tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Kemudian, Frans ingat dengan seorang polisi yang ia jumpai di jalan raya tadi.
Mungkin pak polisi itu bisa membantu pria itu, pikirnya.
Dengan hati-hati Frans berjalan pelan-pelan agar tidak ketahuan. Setelah agak jauh, ia pun berlari dengan kencang. Setelah berada di persimpangan jalan, ia pun melihat-lihat mencari polisi tadi. Dan, ia pun melihatnya.
Frans bergegas untuk menemuinya. Polisi itu sedang bertugas mengatur lalu lintas. Frans menyeberangi jalan dan akhirnya bertemu dengan polisi itu.
“Pak, tolong”, ucap Frans sambil ngos-ngosan.
__ADS_1
“Loh, ada apa Frans? Apa kamu sedang dalam bahaya?”, tanya polisi itu heran melihat Frans yang tampak pucat.
“Bukan saya pak. Tapi, ada seorang pria di sana yang sedang di keroyok oleh beberapa orang”, jawabnya sambil menunjuk ke arah gang kecil itu.
“Apa? Kalau begitu, ayo cepat kita kesana!”, ucap polisi itu dan mereka langsung bergegas.
Setelah berlari-lari, mereka pun sampai di lokasi kejadian. Namun, mereka terlambat. Pria itu sudah terkapar dan orang-orang yang menghajarnya sudah pergi. Tanpa ragu lagi, polisi itu menelepon ke rumah sakit agar ambulan segera di bawa ke lokasi kejadian.
Melihat kondisi pria itu begitu miris sekali. Darahnya begitu banyak yang keluar. Wajahnya juga terlihat hancur penuh lebam di mana-mana. Mereka sampai tidak berani memegangnya dan hanya bisa menunggu sampai ambulans datang.
Flashback off
***
Tapi, apa sebenarnya maksud dari papanya menutupi semua itu. Dengan membawa Frans ke keluarga mereka dan membungkamnya. Pasti cerita Frans tidak berhenti sampai situ saja, pikir Reina.
“Itu artinya, selama ini papa bohong sama kami semua. Membuat cerita seolah kakak adalah anak dari temannya yang baru saja meninggal saat itu. Coba kakak jelaskan apakah kakak bertemu dengan pria itu? Orang yang papa sebut sebagai sahabatnya?”, ucap Reina yang mulai paham alur ceritanya.
Frans menarik napasnya saat mendengar ucapan Reina. Ia pun menganggukkan kepalanya. “Dia berniat ingin membunuhku saat tau aku akan bersaksi. Dan saat itu, papa kamu tiba-tiba datang menolongku dengan merelakan kasus Angga di tutup”.
Reina menitikkan air matanya. Rasanya begitu sakit saat tahu jika papanya membela orang lain dan mengorbankan keadilan kakaknya. Tidak, ia tidak bisa mendengarnya lagi dari Frans. Kali ini yang akan menjelaskan semuanya harus dari mulut papanya.
“Maaf Rei. Maaf untuk semuanya”, ucap Frans bersedih.
__ADS_1
Frans begitu merasa bersalah. Ia baru menyadari betapa besar rasa bersalahnya. Selama ini, ia hanya memikirkan untuk membalas kebaikan Papa Roy dengan membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang sukses. Tapi, semakin ke sini ia pun menyadari betapa besar kesalahannya.
Reina tidak peduli dengan ucapan Frans. Ia beranjak dari duduknya. Dan dengan cepat Frans menangkap tangan Reina. Ia menghentikan langkah Reina.
“Mau ke mana kamu, Rei?”, tanya Frans.
“Aku mau pulang!”, jawab Reina ketus sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Frans.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu”, usul Frans.
“Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri”, jawab Reina yang masih ketus.
“Kamu masih dalam bahaya Rei. Bagaimana jika mereka menangkapmu lagi?”, ucap Frans dengan suara yang lembut dengan niat agar Reina luluh.
“Semakin aku dalam bahaya. Maka, aku semakin dekat dengan pria itu!”, ucap Reina dengan lantang sambil menghempaskan tangannya.
“Tapi, Rei....... Pria itu sangat menakutkan”, ucap Frans yang perlahan memelankan suaranya karena tidak di dengar Reina lagi.
Reina sudah berjalan dengan cepat meninggalkan Frans sendirian. Dan Frans hanya bisa menatap Reina dari kejauhan.
***
__ADS_1