
Saat itu, Angga paham ke mana arah pertanyaan itu. Angga telah mempersiapkan jawabannya sebelum orang itu bertanya.
“Dari ujung jalan sana, setiap gang saya masuki dan begitu pula gang ini”, jawab Angga tidak bertele-tele.
“Apakah kamu penduduk baru di sini?”, tanyanya lagi.
“Ku rasa begitu”, jawab Angga tersenyum sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
“Pantaslah”, ucap orang itu pelan lalu menyantap siomay yang di pesannya itu.
Kemudian, Angga berpura-pura melihat-lihat isi gedung tua itu. Ia berjalan sampai ke belakang penjaga itu. Mata penjaga itu, mengikuti ke mana tubuh Angga bergerak.
“Kamu sendirian di sini?”, tanya Angga.
Penjaga itu tengah mengunyah dan ia hanya bisa berdehem untuk menjawab pertanyaan Angga.
“Ngapai?”, tanya Angga lagi.
Tiba-tiba penjaga itu cegukan. Itu akibat karena ia terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Akhirnya ia sibuk sendiri mengambil minumannya dan meminumnya.
Saat itulah, Angga merasa penjaga itu telah lengah dan ini adalah kesempatannya. Dengan cepat Angga menggapai leher orang itu dari belakang dan langsung menutup hidungnya dengan kain yang telah di beri obat bius.
Setelah orang itu tak sadarkan diri, Angga menyeretnya ke tempat yang tidak terpantau oleh kamera CCTV. Ia langsung mengambil pakaian orang itu untuk penyamaran dan mengikat orang itu lalu ia tinggalkan di sudut ruangan.
Benar saja, beberapa orang berdatangan. Kini Angga tahu dari mana mereka datang. Sungguh ini adalah hal tergila yang pernah Angga lakukan. Ia seperti menantang mautnya sendiri. Demi tekadnya untuk mendapatkan bukti bahwa ayahnya tidak melakukan hal kotor itu.
Karena pakaian mereka semua hitam dan memakai topi hitam, mereka juga akan menganggap Angga adalah bagian dari mereka. Itu yang dipikirkan Angga. Tapi ia harus tetap berhati-hati. Saat semuanya keluar dari sebuah pintu yang berada di dalam bangunan itu, perlahan Angga menyusup masuk.
Angga benar-benar tidak menyangka akhirnya ia bisa masuk ke hotel itu. Di bangunan itu terlihat begitu ricuh untuk mencari sosoknya. Ia harus bergerak secepat mungkin sebelum ketahuan.
__ADS_1
Tapi, Angga bingung harus mencarinya ke mana terlebih dahulu. Lalu, ia melihat CCTV yang ada di atasnya. Dan ia pun berniat untuk ke ruang pemantauan. Namun, sekarang yang menjadi pertanyaan di mana ruangan itu? Kalau ia memasuki ruangan demi ruangan itu sangat memakan waktu. Dan jika ia bertanya, itu sama saja ia menyerahkan dirinya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba.
“Hei kau! Untuk apa kemari?”, ucap salah seorang kepada temannya yang buru-buru baru keluar dari lift.
Angga buru-buru melihat sekitar untuk menemukan tempat persembunyian.
“Aku ingin melihatnya juga”, jawab pria yang baru keluar dari lift itu.
“Apa kau kehilangan akalmu? Bagaimana jika orang itu masuk ke ruang kendali? Cepat naik dan jaga ruang kendali! Terus lihat di monitor di mana pria itu telah berada”, perintah orang yang satunya lagi.
“Ya! Kau benar! Bodoh banget sih aku! Kalau ketahuan bos bisa dibunuhnya aku”, jawabnya sambil berjalan cepat masuk ke dalam lift lagi.
Angga yang tengah bersembunyi, memperhatikan angka di samping pintu lift itu. Dan angka terakhir yang ditunjukkan adalah 3. Dan lift itu pun berhenti. Itu tandanya ruang kendali itu ada di lantai 3. Angga pun menyeringai.
Angga sudah menyiapkan petasan asap. Ia memasang beberapa petasan itu di lorong tersebut yang tempatnya tidak terlihat dari CCTV. Angga pun memasang masker pertahanan untuk pernapasannya. Dan asap itu dengan mudahnya masuk ke dalam setiap ruangan. Angga sudah bersembunyi untuk melihat situasi.
Tidak lama kemudian, semua penghuni kamar pun berkeliaran. Mereka tambak begitu takut. Tak terkecuali si penjaga monitor itu. Ia juga buru-buru keluar karena ia berpikir ada kebakaran dan tak lupa pula ia mengunci ruangan tersebut.
Setelah penjaga itu pergi, Angga mengendap-endap mendatangi ruangan itu. Ia membuka kunci pintu menggunakan sebuah jepit pita. Dan tidak lama ia berhasil membuka ruangan itu.
Ia buru-buru memasukkan sebuah flashdisk melalui CPU. Ia mencari data dengan tanggal 28 Februari 2008. Dan Vu alaaa.. Angga pun mendapatkan Video aslinya.
Menunggu semua data masuk ke dalam flashdisk-nya, ia pun merasa tidak tenang. Sesekali ia melihat ke arah pintu. Ia terus menggerak-gerakkan jemarinya di pahanya. Dan akhirnya data itu pun ter transfer dengan sempurna. Angga tersenyum puas dan langsung mencabut flashdisk-nya.
Di luar, penjaga yang telah turun kembali ke lantai dasar merasa ada sesuatu yang tidak enak. Ia begitu ragu meninggalkan ruangan kendali. Kemudian, ia pun memutuskan untuk pergi ke sana lagi. Lagi pula ia tidak habis pikir, kenapa ada asap tiba-tiba padahal bukan kebakaran. Ia yakin pasti ada yang tidak beres.
Dan saat itu, penjaga itu melihat pintu ruangan yang telah di kuncinya tengah terbuka sedikit. Ia pun langsung curiga dan berlari menuju ruangan itu.
__ADS_1
Angga saat itu membuka pintu dan langsung berhadapan dengan penjaga itu. Angga mencoba menutupi wajahnya dengan topi yang ia pakai. Ia berpura-pura tenang sambil melangkahkan kakinya melewati penjaga itu. Angga berharap jika penjaga itu menyangkan dirinya adalah teman mereka juga karena ia telah memakai pakaian yang sama dengan mereka.
Tapi, dengan cepat penjaga itu mencengkeram pundak Angga. Saat itu, Angga yakin ia sudah ketahuan. Ia tidak bisa menyamar lagi. Ia langsung menghempaskan tangan penjaga itu dengan kuat. Setelah terlepas, ia langsung berlari sekuat tenaga. Angga tidak bisa berkelahi dengan mereka. Sudah pasti Angga yang kalah karena ia hanya seorang diri.
Penjaga itu pun memanggil teman-temannya karena telah menemukan penyusup itu yang adalah Angga. Berkali-kali Angga dapat menghindari para penjaga dengan jumlah yang sangat banyak itu. Ia pun keluar dari pintu hotel bukan dari bangunan tua itu lagi.
Angga berlari dan terus berlari. Hingga di suatu persimpangan ia terkepung oleh anak buah Baron dan setelah itu ia habis-habisan di pukuli.
Flashback Off.
“Setelah kakak babak belur hingga kehilangan kesadaran, kakak sudah tidak tahu apa-apa lagi”, ucap Angga mengakhiri ceritanya.
Reina menatap sendu pada Angga. Sangat kelihatan jika matanya berkaca-kaca. Lalu, ia langsung memeluk Angga. Hatinya begitu kasihan pada kakaknya yang telah berkorban hingga terluka parah. Reina pun menangis di pelukan Angga. Ia mengingat kembali kejadian saat Angga terlihat begitu mengenaskan. Saat itu, ia sangat takut kehilangan kakaknya.
Angga sangat mengerti bagaimana perasaan Reina sekarang ini. Reina sebenarnya tipe orang yang mudah sekali tersentuh. Angga tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengusap-usap punggung adiknya untuk meredakan emosinya.
Setelah puas, Reina melepaskan pelukannya, “lalu, benarkah papa tidak bersalah?”
“Iya. Papa tidak pernah melakukan hal kotor itu”, jawab Angga sambil menangkup wajah Reina. “Kakak melihat semuanya. Papa di pukul, lalu di baringkan di atas ranjang, di buka semua pakaiannya dan seorang wanita datang tidur di sebelahnya sambil terlihat membelai dan merayu. Tapi, Papa sedang tidak sadarkan diri”.
“Jadi, maksud kakak video yang di kirim ke papa adalah hasil editan?”, tanya Reina.
Angga mengangguk.
“Tapi, sampai sekarang video itu tidak muncul kak..”
***
__ADS_1