
Mila terus berlari entah ke mana. Ia tidak memikirkan arah dan tujuannya. Ia hanya ingin menenangkan dirinya. Ingatannya tentang video itu terus mengusiknya. Setelah jauh berlari, ia pun merasa lelah dan berhenti di sebuah jembatan. Ia mengatur napasnya sambil menutup matanya. Dan tiba-tiba seseorang memegang pundaknya. Mila menjadi refleks menghempaskan tangan itu karena masih merasa ketakutan. Takut dirinya akan berada di posisi wanita yang ada di video tersebut.
“Jangan sentuh aku!”, teriak Mila dan mundur ke belakang. “Hah, Farhan?”, ucap Mila lagi ketika tahu orang itu adalah Farhan.
“Ada apa Mil? Kamu seperti orang ketakutan. Dan sedang apa kamu di sini?”, tanya Farhan cemas.
Mila berpikir kembali sebelum menjawab semua pertanyaan Farhan. Apakah ia harus memberi tahu Farhan semuanya? Apakah Farhan bisa di percaya? Hatinya tidak seyakin itu.
“Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya”, ucap Farhan lembut. “Kamu masih menyimpan nomorku kan?”
Mila pun kembali terdiam. Bingung haruskah ia bahagia karena Farhan masih mengingatnya? Tapi, disisi lain ini sangat membingungkan bagi Mila. Jika Farhan memang mengenalnya kenapa saat di bandara seolah Farhan tidak pernah mengenalnya sama sekali. Sedangkan Farhan masih mengingat jika ia memberikan nomornya pada Mila. Itu tandanya ia ingat kejadian dulu saat ia menolong Mila dari preman-preman itu.
“Mil”, panggil Farhan melihat Mila yang terbengong.
“Hm? Oh iya. Itu aku.. Masih aku simpan kok nomor kamu”, jawab Mila gugup.
Farhan pun tersenyum mendengarnya. Ia pun mengajak Mila untuk makan siang bersama. Dan Mila pun menyetujui ajakannya. Mereka pun pergi bersama dengan mobil milik Farhan.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka pun sampai di sebuah kafe. Mereka pun memesan makanan yang mereka inginkan.
“Mil, kamu benaran gak apa-apa? Aku lihat dari tadi kamu melamun terus”, tanya Farhan yang khawatir pada Mila.
Ya, Mila memang sedang banyak pikiran. Tentang video itu dan di tambah lagi tentang Farhan yang masih mengingatnya. Apakah ia harus menjelaskannya pada Farhan tentang apa yang sedang dialaminya?
“Farhan, kamu benar-benar masih mengingatku?”, tanya Mila pelan. “Bukannya saat di bandara kamu sama sekali tidak mengenaliku?”.
Farhan tidak langsung menjawab pertanyaan Mila. Ia terus menatap mata Mila membuat Mila menjadi sedikit gugup. Kemudian Farhan tersenyum, “Maaf, setelah aku ingat-ingat akhirnya aku bisa mengingatmu”.
“Oh, cuma itu aja?”, ungkap Mila sedih.
__ADS_1
“Kenapa kamu berharap lebih?”, tanya Farhan tersenyum sambil menatap tajam ke arah Mila.
Mila langsung terkejut mendapat pertanyaan tersebut. Tapi, kalau dibilang ia berharap lebih dari Farhan, itu benar. Karena dari dulu ia begitu menyukai Farhan. Mila tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya semua jadi serba salah. Terlebih Farhan terus menatapnya, itu membuatnya sangat gugup.
“Di sini kamu rupanya”, ucap Angga yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Mila. “Untung aja anak buahku bisa cepat menemukanmu”, lanjutnya sambil menatap Mila.
“Apa anak buah?”, tanya Mila heran.
“Ck, seharusnya kamu paham jika selama ini aku selalu menemukanmu di mana pun kamu berada”, ucap Angga menyombongkan dirinya.
Astaga, jadi ini alasannya kenapa aku selalu bertemu dengannya dulu. Dasar Mr. Arogan gila! Ucap Mila kesal dari dalam hatinya.
Kemudian Angga pun berdehem dengan agak kuat sambil melihat ke arah Farhan. Awalnya Farhan tidak mengerti dengan kode dari Angga itu. Tapi, setelah itu dia baru sadar jika Angga ingin ia pergi dan meninggalkan mereka berdua.
“Oh, iya. Karena kak Angga sudah di sini, kalau gitu aku pergi dulu ya”, ucap Farhan sambil berdiri.
“Untuk kak Angga aja. Bye”, kata Farhan dan berlalu pergi.
Mila melirik ke arah Angga dengan kesal. Ia sangat tidak senang karena Angga mengganggunya saat bersama Farhan. Padahal itu adalah kesempatan langka bisa bicara berduaan dengannya.
Kemudian, datanglah pelayan dengan membawa makanan yang mereka pesan tadi. Dan di sela itu, datanglah seorang pria tampan yang membawa aura positif duduk bersama mereka.
“Dokter Frans?”, tanya Mila tidak percaya melihat dokter tampan itu.
“Ngapain kamu tiba-tiba kemari?”, ucap Angga jutek.
Frans tidak menjawab pertanyaan Angga. Ia hanya fokus pada wajah Mila yang sedang berseri itu. Frans menatap Mila dengan senyuman. Dan hal itu membuat Angga semakin kesal.
“Ternyata kalau dilihat lebih dekat gini kamu semakin cantik ya”, ucap Frans sambil menumpukan dagunya di kedua tangannya di atas meja.
__ADS_1
Mila tersipu malu mendengar pujian dari Frans. Ia pun melirik pada Angga yang sudah sangat kesal. Akhirnya Mila pun bisa membalasnya.
“Dokter bisa aja deh. Oh ya, emangnya dokter nggak kerja?”, tanya Mila yang tak kalah sumringahnya dengan Frans.
“Ya, tadinya sih habis dari sini mau ke rumah sakit. Tapi, karena melihat kamu di sini kayaknya aku bolos aja deh”, gombal Frans.
Dasar buaya cap Kadal! Bisa-bisanya gombalin calon istri orang! Ucap Angga geram dalam hatinya.
Frans pun mengetahui jika Angga sudah menahan amarahnya sejak tadi. Dan itu pasti karena wanita yang ada di hadapannya.
“Oh ya, emangnya tipe cowok kamu kayak Angga gitu?”, tanya Frans dengan maksud mengejek Angga.
Mila memandang Angga sejenak. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Kalau aku suka tipe cowok itu yang lebih ceria, membuat suasana jadi lebih hidup aja. Kayak dokter......”.
Tiba-tiba Angga membekap mulut Mila. “Cukup! Kita pulang sekarang!”, ucap Angga sambil memaksa Mila untuk berdiri.
“Nggak mau, aku belum makan kak”, rengek Mila.
“Ntar aku pesan apa aja yang kamu mau. Ayo pulang!” Kata Angga yang terus memaksa Mila.
“Kasihan dokter Frans sendirian”, ucap Mila lagi untuk mencari alasan.
“Biarin aja si brengsek itu sendirian di sini! Ayo!”.
Akhirnya, mau tidak mau Mila pun menuruti perintah Angga. Angga terlihat begitu kesal. Namun, dalam hati Mila tertawa puas karena bisa membalas mengerjai Angga. Ia berpikir akan terus berpura-pura ngambek untuk melihat reaksi Angga.
Dan begitu juga dengan dokter Frans. Ia tersenyum karena lucu melihat tingkah sahabatnya itu. Ia bersyukur jika Angga benar-benar memilih Mila sebagai pasangan hidupnya. Karena yang dia tahu Angga tidak akan bisa melupakan Tasya.
***
__ADS_1