
"I...itu liihat diatas sana!", ucap Reina kaget sambil menujuk ke atas rumah Baron.
Seketika Angga dan juga Frans melihat apa yang Reina tunjuk. Mereka bertiga tercengang. Mereka juga sama-sama berpikir dan menduga-duga siapa orang yang ada di atas sana. Dari bawah hanya kelihat seperti seseorang yang akan bunuh diri. Sebab, badan Tasya yang sudah terkulai lemas itu seperti sebagian menggantung di dinding pembatas itu.
Reina dan Frans yang telah masuk ke mobil, kini mereka keluar lagi untuk melihat siapa orang yang di atas itu. Angga sangat takut jika itu adalah Mila. Jadi, ia pun memerintahkan Reina dan Frans tetap di bawah untuk membuat sesuatu yang dapat menetralisir kecelakaan saat orang itu benar-benar jatuh. Entah itu sessuatu yang empuk atau apalah. Para anak buah juga iia tugaskan untuk tetap di bawah menjaga dan membantu Frans dan Reina.
Angga pun segera masuk kembali ke rumah itu. Menelusuri lantai demi lantai namun, ia mentok lagi di tempat tadi. Tidak ada jalan lagi untuk mencapai atas atap. Namun, tanpa di duga pertolongan pun datang. Papa Roy datang mengejutkan putranya. Karena seharusnya sekarang ini papa Roy berada di rumah sakit menemani Mama Siska.
Tanpa basa-basi lagi, Papa Roy menyingkirkan Angga untuk mundur. Lalu, Papa Roy pun mulai beraksi. Ia menggeser sebuah bingkai yang ada di tembok. Lalu, menekan tombol yang ada di sana. Dan terbukalah lemari yang ada di hadapan mereka. Angga sampai takjub melihat papanya yang tahu cara membukanya.
"Pa...Papa tau dari mana?", tanya Angga penasaran.
"Farhan yang memberitahukannya. Tadi, Papa kirim pesan bahwa papa akan kemari dan menyelesaikan urusan papa dengan Baron", jelas Papa Roy.
Jelas Angga terkejut. Padahal Angga sudah menilai Farhan adalah musuhnya. Tapi, kenapa malah dia membantu Papa? Atau adakah niat lain yang terseubung? Begitulah yang di piikirkan Angga.
Tapi, Angga menyimpan semua pertanyaan itu. Yang paling penting mereka harus segera sampai ke atas.
***
Di atas gedung, Mila tengah menangisi Farhan yang sudah tidak berdaya itu. Namun, ia tidak bisa mendekat karena telah di todong pistol oleh Baron.
Ya, walaupun Farhan telah berubah, tapi Farhan sempat berada di hatinya. Makanya, merasa hatinya hancur berkeping-keping melihat kondisi Farhan sekarang ini. Dalam hatinya ia terus berdoa agar Farhan masih hidup.
Sekelebat ingatannya bersama Farhan pun hadir. Masa-masa indahnya bersama Farhan tidak mungkin terhapus begitu saja. Mila pun berlutut sambil meraung-raung karena ada rasa kesal, kecewa dan merasa bersalah atas apa yang telah menimpa Farhan. Malah, di saat yang seharusnya Mila menolong Farhan pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal Farhan selalu membantunya saat ia dalam kesulitan. Bisa di bayangkan seperti apa Mila menangisi Farhan.
__ADS_1
"Itu akan terjadi padamu dan Tasya , jika kamu masih tidak melakukan yang aku perintahkan", ucap Baron yang tidak main-main.
Ctak! Suara libasan sebuah cambuk yag di pegang oleh Baron. Ia mendesak Mila untuk membuka pakaiannya atau Tasya akan benar-benar di jatuhkannya.
Mila benar-benar bingung. Inilah akibatnya karena ia terlau sok berani menentang Baron. Bak senjata makan tuan atau bak makan buah simalakama. Ia terjebak dalam rencanannya sendiri.
Mila kembali melihat ke arah Tasya yang sudah di penghujung jalan kematiannya. Namun, Mila juga tidak mau menelanjangi dirinya. Apakah ia yakin untuk berkorban demi orang lain? Atau dia harus tersiksa demi kehormatannya tanpa memperdulikan nyawa Tasya? Mila benar-benar kebingungan.
Ctak!
“Aaa!!” Mila berteriak kesakitan karena tubuhnya terkena cambuk.
“Aku bilang cepat buka semuanya! Atau kau akan ku buat menderita!”, ucap Baron
“Tidak! Hiks! Aku tidak mau melakukannya!”, ucap Mila yang menentang Baron sambil menangis karena rasa sakit.
“Apa kau bilang? Kau menentangku ha?”, teriak Baron kesal.
Baron mencambuk Mila bertubi-tubi dan Mila tidak bisa menghindar. Sekujur tubuh Mila terasa sakit dan panas. Mila sampai terduduk karena sangking kesakitannya. Ia pun terus menangis walau mulutnya tidak memohon pengampunan dari Baron.
Baron pun semakin kesal melihat keteguhan dan kekuatan Mila. Akhirnya tidak ada pilihan lain. Baron akan membuat Mila menyesali perbuatannya.
“Cepat! Jatuhkan wanita itu sekarang!” perintah Baron dengan lantang.
Mila tersentak mendengar perintah Baron. Ia langsung melihat ke arah Tasya dan para anak buahnya itu langsung menuruti perintah Baron untuk menjatuhkan Tasya.
“Tidak! Ti...dak!”, jerit Mila yang dengan sekuat tenaganya berlari menuju Tasya.
Namun, sayang Mila terlambat. Tasya benar-benar telah di jatuhkan. Mila berteriak memanggil nama Tasya. Ia melihat dari atas, namun tidak terlihat lagi karena memang keadaan yang gelap. Mila menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba gemuruh pun datang dan tidak lama hujan pun turun. Seakan langit pun ikut menangis.
Bagaimana mungkin kejadian ini terjadi di depan matanya. Farhan yang tertembak dan Tasya yang di jatuhkan dari ketinggian lantai 5 sungguh Mila tidak pernah berpikir sampai di situ. Akhirnya kewarasan Mila pun telah habis. Timbul rasa benci serta dendam pada Baron.
“Aaaa!” teriak Mila sekuat-kuatnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Setelah itu Mila tampak ngos-ngosan, tapi raut wajahnya tampak begitu marah. Mila pun berjalan dan berganti berlari menuju ke arah Baron. Ia tidak perduli dengan hujan yang mengguyurnya. Rasa dingin pun sudah tidak di rasakannya lagi. Mila pun langsung mencengkram kerah baju Baron.
“Apa yang sudah kamu lakukan Baron! apa yang sudah kamu lakukan!”, teriak Mila tepat di wajah Baron.
“Apa kau sudah gila? Lepaskan tanganmu dariku!”, ucap Baron kesal karena ia tidak suka di sentuh sembarangan oleh orang lain. “Wanita sialan! Kalau kau begini terus, kau juga akan bernasib sama dengan mereka! Kau tahu itu!”
“Aku tidak perduli lagi! Apa kau pikir aku tidak bisa membunuhmu, ha?” ucap Mila dengan geramnya.
Kemudian, tangan Mila bergerak ke leher Baron dan sekuat tenaga ia mencekiknya. Mila sudah di kuasai oleh amarahnya. Kini yang dia inginkan adalah menyiksa Baron.
“A...apa yang kau lakukan!”, ucap Baron kesulitan dan dengan suara serak. “Kalian! Cepat lepaskan wanita gila ini!”, perintah Baron pada anak buahnya.
Mereka pun langsung menarik Mila. Namun, Mila berusaha untuk bertahan. Dan tentu saja kekuatan dua orang pria bukanlah tandingan Mila. Akhirnya, tangannya pun terlepas. Tapi, Mila masih meronta-ronta ingin memukuli, menendang bahkan mencakar-cakar wajah Baron. Ia sampai melayang-layangkan kakinya agar bisa menendang Baron. Tapi, ia sudah terlanjur di tarik dan menjauh dari Baron.
Baron pun bisa bernapas lega setelah tangan Mila terlepas dari lehernya. Ia memegangi dan mengelus-elus lehernya yang masih terasa sakit. Kemudian Baron melihat ke arah Mila yang masih meronta-ronta dan memaki-maki dirinya. Tentu saja membuat Baron sakit kepala melihatnya dan ingin segera memberi pelajaran untuk Mila.
“Apa kau tidak bisa diam! Kalau tidak diam juga aku akan membunuhmu!”, ucap Baron sambil menodongkan pistol ke arah Mila.
“Bunuh aku! Bunuh! Aku tidak takut!”, teriak Mila yang tanpa pikir panjang lagi.
“Baiklah, kau yang memintanya!”, ucap Baron tanpa segan.
Di pintu, Papa Roy dan Angga telah berada di sana. Angga terbelalak begitu melihat Baron yang tengah mengarahkan pistol ke arah Mila. Angga melihat jika jari Baron bersiap untuk meluncurkan sebuah peluru pada Mila. Tanpa pikir panjang lagi, Angga langsung berlari ke arah Mila dan langsung memeluknya.
Dor!
Dan, peluru itu pun mengenai Angga. Mila kaget sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
“Kamu baik-baik aja kan?”, tanya Angga yang tengah menangkup pipi Mila.
“Mas”, ucap Mila singkat.
Mila tidak tahu harus berkata apalagi. Ia tidak menyangka jika Angga telah ada di hadapannya. Matanya berbinar melihat wajah Angga karena rasa rindunya.
Tapi...., Tiba-tiba Angga terkulai lemas dan membuat Mila kembali terkejut. Mila pun ikut terduduk mengikuti tubuh Angga yang terjatuh. Kini Mila menyadari jika peluru itu telah menembus tubuh Angga.
“Mas..., hiks. Tidak.. Jangan kamu Mas, hiks”, ucap Mila sudah menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Hatinya begitu perih melihat Angga tidak berdaya di dalam pelukannya. Guyuran hujan membuat darah Angga yang keluar mengalir hingga ke lantai. Mila terus menangis memeluk tubuh Angga yang tak sadarkan diri lagi.
***