Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 52. Berterimakasihlah Pada Istriku


__ADS_3

Mila masih bingung dengan raut wajah Angga yang sebenarnya sedikit mencurigakan. Tentu saja Mila merasa khawatir.


“Jangan berjalan sendirian! Kamu harus minta tolong pada orang lain, mau itu Mama, Bibi atau yang lainnya di rumah ini! Oh ya, harus wanita. Pria lain selain saya tidak boleh menyentuh kamu! Ingat, walaupun kamu hanya mau berjalan satu langkah saja, kamu harus di dampingi!”, perintah Angga panjang lebar.


Mila sampai ternganga mendengar ocehan Angga itu. Pada akhirnya ia pun harus menelan salivanya. Ia masih tidak percaya dengan persyaratan yang keluar dari mulut Angga.


“Mas... Aku ini...”, Mila berupaya menjelaskan jika dirinya baik-baik saja.


“Kamu mau menepatinya, maka saya akan ikuti mau kamu. Kalau tidak ya, terpaksa saya marah-marah dengan semua karyawan saya nanti”, ancam Angga lagi.


“Oke... Oke... Aku turutin perintah kamu Mas”, jawab Mila kesal.


Mau tidak mau Mila harus menurutinya. Ya, mau bagaimana lagi. Mila selalu merasa tidak tega-an. Ia bisa merasakan bagaimana jika Angga marah. Karena ia juga pernah merasakan sakit hatinya saat Angga memarahinya.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu. Angga bergegas membuka pintu dan ternyata itu adalah Bibi yang membawa sarapan untuk Mila. Angga segera mengambil nampan yang berisi makanan itu dan membawanya pada Mila.


Angga membenarkan duduk Mila dengan mengganjal punggung Mila dengan bantal. Ia duduk kembali di dekat Mila dan mengambil semangkuk bubur sedangkan yang lainnya ia letak di atas nakas. Angga berniat menyuapi Mila. Tapi, ya seperti biasanya Mila menolaknya. Namun, kini Angga punya senjata. Ia mengancam Mila bahwa ia akan marah di kantor nanti jika Mila masih saja menolak kebaikannya. Dan akhirnya mau tidak mau Mila pun mau di suapin oleh Angga.


“Kamu belum pernahkan di suapin kayak gini sama seorang pria”, ucap Angga dengan penuh percaya diri.


“Siapa bilang! Pernah kok”, jawab Mila ngotot.

__ADS_1


“Oh ya? Siapa? Siapa pria itu!”, sahut Angga rada cemburu.


“Ayah. Pria itu ayahku”, jawab Mila lembut sambil mengenang masa itu bersama ayahnya.


Angga menatap sendu pada Mila. Ia ingat jika Mila anak sebatang kara. Ia yakin saat ini Mila pasti sedang sedih mengingat orang tuanya. Ini semua karena ucapannya.


“Kenapa? Ayahku juga seorang pria kan?”, ucap Mila yang tahu jika Angga terus melihatnya.


Angga tersenyum. Ia enggan untuk menjawabnya. Ia pun mengelus kepala Mila dan lanjut menyuapinya.


***


Di kantor, Angga yang baru datang cepat-cepat membuka laptopnya. Ternyata ia diam-diam telah memasang kamera tersembunyi di dalam kamarnya. Dan itu hanya untuk melihat sang istri.


Tak lama kemudian, datanglah beberapa karyawan masuk ke dalam ruangan. Terlihat mereka begitu takut. Mereka juga menundukkan kepala.


“Duduklah. Ada yang ingin saya bahas”, ucap Angga lagi dengan begitu tenang.


Akhirnya para karyawan itu pun duduk. Tapi, hati mereka masih merasa takut.


“Begini, apa kalian masih menyimpan berkas milik PT. Adhikarya? Saya ingin melihatnya”, ujar Angga.


“Oh, a... ada Pak. Kebetulan saya membawanya”, jawab David salah seorang dari karyawan itu. Lalu ia meletakkan dokumen itu di atas meja Angga.

__ADS_1


Angga pun mengambil dokumen itu dan melihat-lihat isinya sekilas sambil sesekali melirik-lirik ke arah laptopnya yang terpampang video istrinya yang sedang menonton TV di kamar.


“Begini, karena kita sudah kehilangan salah satu klien kita, jadi saya ingin kita mengulas kembali PT. Adhikarya yang lalu tidak menang tender. Kalau di pikir-pikir lagi menurut saya, PT. Adhikarya ini punya citra yang bagus selama beberapa tahun ini. Jadi, saya mohon kerja samanya lagi kali ini. Dan segera selesaikan persoalan mengenai denda dan lainnya pada PT. Surya Cempaka”, jelas Angga panjang lebar.


Para karyawan itu, mengangguk saja menyetujui perintah bosnya itu. Mereka masih tidak percaya dengan keputusan bosnya itu. Dalam hati mereka sejak kapan Bos mereka jadi sebijak ini?


“Berterima kasihlah kalian pada istri saya. Karena dialah yang menyuruh saya untuk tidak memarahi kalian. Dan karena ucapannya juga saya jadi memiliki ide seperti tadi. Ya sudah sampai situ dulu. Kalian kembalilah bekerja!”, ucap Angga lagi.


Dan para karyawan itu pun pamit keluar dari ruangan Angga. Di luar, mereka bisa bernapas lega karena tidak jadi di semprot oleh Angga.


“Wah, ternyata bu bos sangat berpengaruh ya”, ucap Niko salah seorang karyawan tadi.


“Iya. Pak Angga aja jadi bertambah bijak mengambil keputusan. Aku sangat setuju kalau kita bekerja sama dengan PT. Adhikarya. Menurut informasi pemiliknya Bapak Adhi itu sangat menjunjung kejujuran”, sahut Davit.


“Eh iya, bu bos kan baru pulang dari rumah sakit. Gimana kalau kita jenguk terus kita bawain oleh-oleh juga. Gimana?”, usul Galuh dengan semangat.


Di ikuti dengan dua rekannya yang setuju dengan usul Galuh. Dan mereka pun mulai membicarakan rencana mereka.


Namun di balik itu, ada Reina yang sedang murung di ruang kerjanya. Ia masih ke pikiran pada Farhan. Rasanya, Farhan semakin menjauhinya. Ia ingin tidak mencurigainya tapi itu tidak bisa.


“Aku kira, kamu benaran cinta sama aku. Aku kira, selama ini kamu akan berubah seiring dengan kedekatan kita. Tapi, ternyata aku salah”, gumam Reina sedih.


Ia melihat sebuah foto di depannya. Yaitu, Foto dia bersama Farhan saat memakai baju pernikahan mereka. Ia mengambil foto itu dan memeluknya. Reina begitu sedih.

__ADS_1


“Jadi, apa tujuanmu menikahiku? Tidak. Aku tidak tahan lagi. Aku harus tahu yang sebenarnya!”, ucap Reina yang begitu geram.


***


__ADS_2