Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab Spesial 9. Hati yang Dongkol


__ADS_3

Suci menghela napasnya. Dia ikut prihatin pada Reina yang tengah sedih karena tidak berhasil mendapatkan cintanya lagi.


"Aku harus apa sekarang Mil, hiks. Aku nggak rela kalau Frans sama wanita lain", ucap Reina sambil menangis.


Yah, mau di kata apa lagi. Kadang memang suka heran sama perasaan ini. Bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Cinta hadir di saat sudah di ambil orang. Dan kehadiran baru terasa saat sudah orangnya sudah tiada. Terkadang seseorang terlalu sombong untuk menerima kehadiran cinta dari orang lain.


"Ya, kalau kamu memang nggak rela kejar terus aja", sahut Mila enteng.


Reina ternganga mendengar ucapan Mila itu. Segampang itu dia menyuruh Reina untuk mengejar Frans lagi. Apa dirinya tidak salah dengar ya, Mila bilang begitu?


"Tapi-kan dia mau nikah sama wanita lain Mil. Bukannya gak baik ya, ngejar jodoh orang", jawab Reina menolak ide Mila. "Lagian, aku tau bagaimana rasanya di khianati", lanjutnya sedih.


"Ouh..., jadi nyalahin aku nih!", jawab Mila ngambek.


"Eh... Nggak kok. Bercanda Mil. Hehehe. Jangan ngambek gitu dong. Sini-sini", ucap Reina merayu Mila dan menariknya untuk duduk disebelahnya.


Ya, ngerih juga-kan kalau bumil sampai ngambek. Yang ada Reina kena imbasnya. Kena marah sama semua orang. Apalagi kalau Mila sampai kenapa-napa bisa-bisa di suruh tidur di genteng 7 hari 7 malam.


"Ya, kamu sih. Enteng banget bilang begitu", ucap Reina memonyongkan bibirnya.


"Ya, sah-sah aja kan Rei, sebelum janur kuning melengkung. Setidaknya kamu bisa membuat Kak Frans nggak marah lagi sama kamu. Emangnya kamu bisa tidur nyenyak sebelum dapat maaf dari Kak Frans?", jelas Mila sambil mengelus-elus perutnya yang sudah agak buncit itu.


Reina pun menghela napasnya. Perkataan Mila ada benarnya juga. Yah, kalau memang pada akhirnya mereka tidak berjodoh. Tapi, setidaknya dia tidak bermusuhan dengan Frans.

__ADS_1


"Ya, udah deh. Aku akan cari cara agar Frans mau maafin aku", ucap Reina mantap.


Setelah selesai mengobrol, Mila pun pamit keluar. Dan ternyata di depan pintu kamar Reina sudah ada Angga yang tengah menunggu Mila.


"Giman Reina?", tanya Angga begitu Suci keluar.


"Kamu tenang aja", jawab Mila sambil tersenyum.


Kemudian, ia berjalan ke arah kamarnya. Dan Rangga pun mengikutinya serta merangkul pinggang Mila. Ada sesuatu yang di bisikannya pada Mila. Membuat rona wajah Mila berubah menjadi kemerahan. Lalu, ia memukul-mukul dada Angga dan lari masuk ke kamar. Angga hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


***


Siang ini, Reina baru bangun dengan mata yang sembab akibat kebanyakan menangis. Lagi-lagi ia bolos masuk kantor. Ia masih mengantuk tapi ia memaksakan diri untuk berjalan ke dapur. Perutnya sudah keroncongan karena tadi malam ia tidak makan. Kali ini ia ingin sekali makan mie instan yang pedas dan banyak isiannya. Seperti daging ayam, bakso, sosis, telur, apalagi di tambah irisan daun bawang yang membuat aromanya segar.


Dengan masih memakai piyama dan sandal bulunya, Ia sampai di dapur. Ia pun segera mengiris bawang merah untuk menambah aromatik nantinya. Tapi, baru saja mengiris beberapa bawang ia sudah menangis. Matanya terasa perih sampai membuatnya merem melek.


Tanpa sengaja Reina mengiris tangannya juga. Reina pun meringis kesakitan. Bibi yang tahu jika Reina terluka langsung buru-buru mencari plaster dan obat merah. Tapi, lain pula dengan Reina yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang brilian menurutnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Reina langsung berlari kegirangan. Dan saat Bibi menemukan apa yang di carinya, ia langsung segera kembali ke dapur. Tapi, ia tercengang karena Reina tidak ada lagi di sana.


Reina segera menyalakan mesin mobilnya. Dan melaju dengan cepat. Ia tidak perduli dengan rasa sakit di jarinya lagi. Kini bibirnya telah menyimpulkan sebuah senyum karena ide briliannya itu.


Tidak lama kemudian, sampailah ia di rumah sakit tempat Frans bekerja. Ia berjalan dengan santainya menuju ruangan Frans. Ia tidak perduli dengan tatapan orang yang heran bahkan tertawa melihatnya. Ia hanya terus memperhatikan luka yang ada di jarinya sambil tersenyum.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, sampailah ia di depan pintu ruangan Frans. Ia pun segera merubah wajahnya menjadi kelihatan sedang kesakitan. Lalu, ia mengetuk pintu dan orang yang di dalamnya menyuruhnya untuk masuk.


"Huuaaa...! Kak Frans liat nih jari aku terluka dalam, sakit banget", tangis Reina sambil menunjukkan jarinya yang tengah berdarah itu.


Reina duduk di hadapan Frans untuk menunjukkannya lebih dekat. Namun, Frans hanya melihatnya sekilas saja. Ia menunjukkan ketidak pedulian pada Reina. Dan Reina juga tidak menyerah begitu saja.


"Kak, obatin dong. Sakit banget. Tuh liat darahnya banyak banget. Aww, sakit banget", ucap Suci yang berpura-pura mendramatisir.


Krek! Pintu ruangan Frans terbuka. Dan masuklah seorang perawat wanita. Ia mengabarkan jika ada agenda Frans saat ini untuk mengoperasi seorang pasien. Tanpa basa-basi lagi Frans pun langsung berdiri dari duduknya sambil membereskan sedikit berkas di mejanya.


Reina menjadi tingak-tinguk sendiri melihat Frans yang kelihatan sibuk itu. Ia benar-benar di abaikan oleh Frans. Ada perasaan sedih yang menjalar ke hati Reina. Begitu bencinya Frans padanya? Sampai Reina sebesar itu pun tidak bisa dilihatnya.


"Kak ini gimana?", ucap Reina yang masih berusaha ketika Frans hendak keluar.


Frans pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik melihat Reina. Dan Reina begitu senang. Ia menyangka pasti Frans akan menyempatkan dirinya untuk mengobati luka kecilnya itu. Ya wajar dong, hanya luka kecil bisa kali di sempat-sempati mengobatinya. Gak banyak makan waktu juga kan. Begitulah yang di pikirkan Reina.


"Suster, tolong kamu urusi wanita itu. Kasih plaster aja!" perintah Frans dan langsung ia pergi.


Reina langsung ternganga mendengar Frans ngomong begitu. Ia sama sekali tidak berarti lagi di mata Frans. Apakah Reina Sedih? Tentu saja. Tapi, ia tidak akan menyerah. Ini masih rencana pertama. Dan dia hanya harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Frans.


"Maaf Bu, ini plasternya. Anda bisa pakai sendirikan? Soalnya saya masih banyak pekerjaan lain", ucap suster itu dengan nada sombongnya. Ia juga tidak suka melihat Reina yang terlalu ganjen pada Dokter idamannya itu.


Reina juga memasang wajah tidak ramahnya pada suster itu. Ia langsung merampas plaster-nya dari tangan suster itu dan langsung berjalan keluar dengan hati yang benar-benar dongkol. Ia berjanji dalam hatinya akan datang dan terus datang kembali sampai Frans benar-benar bisa seperti dulu saat bersamanya.

__ADS_1


"Ih, udah di kasih bukannya bilang terima kasih!", ucap Suster itu yang hatinya juga dongkol melihat Reina.


***


__ADS_2