
Di malam lainnya, akhirnya Reina dapat berbicara berdua dengan Angga di rooftop rumah mereka. Karena Angga sudah ingat semuanya, Reina pun membicarakan apa saja yang ia ketahui dari Ayahnya dan juga Frans. Dalam hati, Angga juga sangat terkejut jika Frans mengetahui semuanya.
Dan setelah Reina selesai menceritakan semuanya, mereka sama-sama terdiam. Begitu hening untuk sesaat. Mereka dengan pikiran mereka masing-masing.
“Jadi, sebenarnya apa yang mereka cari kak?”, tanya Reina untuk memecah keheningan itu.
“Sebuah bukti. Bukti yang telah kakak dapatkan waktu itu. Tapi sayangnya kakak kehilangannya dan hingga kini bahkan kakak pun belum bisa menemukannya”, jawab Angga sedih menundukkan kepalanya.
“Bukti? Bukti apa yang kakak maksud?”, tanya Reina lagi yang begitu penasaran.
Menurut Angga, mungkin akan sulit bagi Reina untuk mengerti. Dari pada Reina lebih banyak lagi bertanya ia pun memutuskan untuk menceritakan awal kejadian saat itu.
“Kurang lebih 15 tahun lalu. Malam itu, kakak sedang menonton pertandingan sepak bola di TV bersama ayah. Namun, saat ayah pergi ke toilet tiba-tiba di hp-nya ada pesan masuk. Saat itu, kakak begitu penasaran karena pesan itu di kirim oleh Baron sahabat Ayah”, jelas Angga.
Ya, Angga mengetahui jika Baron adalah sahabat Ayahnya. Papa Roy dahulunya selalu menceritakan dirinya pada Angga. Mereka memang terlihat sangat akrab seperti sahabat.
Flashback On.
Pesan dari Baron :
Cepat investasikan uangmu pada perusahaanku atau video ini akan menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Angga begitu terkejut melihat isi dari pesan itu. Itu adalah sebuah Video syur antara Ayahnya dengan wanita lain. Angga sampai terkulai lemas melihatnya. Ia sangat tidak percaya jika ayahnya berbuat seperti itu.
“Angga, apa yang kamu lihat?”, tanya Papa Roy yang melihat Angga memegang ponselnya saat setelah keluar dari toilet.
__ADS_1
Angga tidak bergeming. Ia dengar tapi ia mengacuhkannya. Hatinya begitu hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak? Ayah yang menjadi panutannya ternyata telah bermain api. Membohongi ibunya dan anak-anaknya.
Papa Roy pun telah sampai ke hadapan Angga. Ia sangat bingung dengan tingkah Angga yang terus diam menatap ponselnya itu. Papa Roy pun curiga dan merampas ponsel itu dari tangan Angga.
Begitu Papa Roy melihatnya, ia pun tak kalah kaget dengan Angga. Matanya berkaca-kaca hatinya juga terasa sakit melihat fitnah itu. Tapi, ia seperti mengetahui sesuatu. Ia terus memperhatikan video itu.
“Kenapa Pa? Hiks”, ucap Angga yang sudah basah pipinya oleh air mata. “Kenapa Papa melakukan ini!”, teriak Angga sambil mencengkeram kerah baju Papa Roy.
Papa Roy sampai terkejut dan mulutnya ternganga melihat kemarahan Angga. Hatinya semakin hancur mendengar teriakan Angga padanya.
“Angga ini fitnah. Demi Allah Papa tidak pernah melakukan ini”, ucap Papa Roy membela dirinya.
“Lalu ini apa Pa? Apa video ini kurang jelas? Aku kecewa dengan Papa!”, jawab Roy dengan wajah kecewanya.
Saat itu juga Angga ingin enyah dari sana. Ia begitu muak dan papanya kini terlihat sangat menjijikkan. Namun, Papa Roy langsung menarik tangan Angga.
Angga mengepalkan tangannya. Ia juga merasakan kesedihan yang sama. Tidak, Angga tidak bisa membiarkan ayahnya bersedih seperti itu. Sekian banyak pengorbanan yang ayahnya lakukan, hanya karena satu keburukan saja ia langsung membenci ayahnya. Adilkah ini?
Angga pun menguatkan hatinya. Ia berlutut di hadapan ayahnya, memegang lengannya lalu membatunya untuk duduk.
“Papa bisa jelaskan. Ini adalah fitnah. Papa di jebak. Papa ingat, sangat ingat. Saat itu ketika ulang tahun papa, Baron mengajak papa untuk ketemuan di sebuah hotel. Baron bilang ia ingin memberikan kado untuk papa. Saat itu papa begitu bahagia, karena setelah bertahun-tahun bertengkar akhirnya ia ingat dengan ulang tahun papa dan memberikan kado seperti sebelumnya”, ucap Papa Roy menjelaskan panjang lebar.
Kemudian, Papa Roy menatap langit-langit seperti sedang mengingat sesuatu. “Tapi, saat papa masuk tiba-tiba ada yang memukul bagian belakang papa dan dari situ papa tidak ingat apa-apa lagi. Dan saat terbangun, papa sudah berbaring di ranjang tanpa sehelai benang pun....” lanjut papa Roy dengan wajah yang begitu sedih.
Angga paham sekarang. Ia bisa melihat kejujuran dari ayahnya. Ia lega jika ayahnya memang tidak bersalah. Tapi, pikirannya terus terusik. Ia tidak ingin keluarganya di cap buruk nantinya. Ia harus mencari bukti kebenarannya.
***
__ADS_1
Dengan bekal ingatan ayahnya, Angga bertekad mendatangi hotel di mana pertemuan ayahnya dan Baron dilakukan. Angga sudah menyiapkan beberapa barang yang pasti berguna.
Angga salah besar jika ia menilai ini sangatlah mudah. Nyatanya hotel itu tidak seperti apa yang dibayangkan Angga. Di mana-mana ada penjaga. Ia tidak bisa dengan mudah masuk begitu saja. Terlebih ia baru tahu jika hotel ini milik Baron. Baron akan mengenalinya jika ia menginap di sini. CCTV di mana-mana.
Seharian Angga terus memantau dan dia tetap tidak dapat masuk ke dalam sana. Namun, di hari berikutnya ternyata ia beruntung. Ia memantau dari atap sebuah gedung. Dan melihat melalui teropong miliknya, ternyata hotel itu berdempetan dengan sebuah bangunan tua. Ia pun mendapatkan ide.
Saat sampai di gedung tua itu, ternyata sama saja. Tempat itu sudah diambil alih oleh Baron. Di depan gedung itu, ada seorang penjaga yang tengah duduk asik menikmati makanannya.
Lalu, muncullah ide. Angga menyamar menjadi tukang siomay keliling. Angga membayar tukang siomay yang sebenarnya dengan mahal. Dan benar saja, saat Angga melintasi bangunan itu dirinya pun di panggil oleh penjaga berbadan besar itu.
“Dua porsi ya”, pintanya.
Angga mengangguk dan langsung membuatkan pesanan orang itu. Sambil membuat ia memperhatikan kondisi bangunan tersebut. Setelah itu, ia antar dua mangkuk siomay ke meja penjaga itu.
“Berapa?”, tanyanya lagi.
“Dua puluh ribu bang”, jawab Angga.
Orang itu memberikan uang pada Angga sambil memperhatikannya. Kulit bersih, wajah juga tampan, namun, pakaiannya sangat lusuh. Sepertinya ia sangat meyakinkan menjadi seorang pedagang siomay. Tapi, saat Angga ingin mengambil uangnya, orang itu malah menariknya lagi.
“Tunggu!", Kenapa kamu masuk ke gang ini?”, tanya penjaga itu yang sedikit curiga.
Karena orang-orang tahu jika gang itu adalah gang buntu dan tidak ada rumah selain bangunan tua itu. Lalu, untuk apa seorang pedagang masuk ke gang ini?
***
__ADS_1