
Setelah selesai makan malam, Farhan langsung masuk ke kamar. Lalu, Reina pun mengikutinya. Ia melihat Farhan langsung memainkan gawainya.
“Boleh aku tanya sesuatu?”, tanya Reina pada Farhan.
Farhan tidak melirik Reina sama sekali. Ia hanya berdehem menandakan jika Reina bisa bertanya padanya. Dan Reina pun berjalan mendekati Farhan berdiri di hadapannya sambil melipat tangan di dadanya.
“Apa tujuanmu?”, tanya Reina lagi.
Saat itu barulah Farhan mendongak melihat wajah Reina. Ia merasa Reina sudah mulai curiga padanya.
“Apa maksudmu menanyakan itu?”, jawab Farhan dengan pertanyaan lagi.
Reina menghela napas, “Bukankah seharusnya kamu tahu maksudku? Apa kamu pikir aku diam karena tidak tahu apa-apa?”
Farhan terus menatap Reina. Kemudian perlahan ia berdiri. Dan kini Reina lah yang mendongak untuk melihat wajah Farhan.
“Kamu, mengalihkan perhatian kami untuk memeriksa ruangan di rumah ini. Ya kan? Jika aku di rumah, kamu menungguku hingga masuk ke kamar mandi dan kamu keluar untuk memeriksa setiap ruangan, ya kan? Apa yang kamu cari sebenarnya?”, ucap Reina sedikit dengan nada yang kuat.
Farhan sudah mulai geram. Ia tidak suka dengan sikap Reina yang mencoba mengintimidasinya. Ia paham jika Reina wanita yang pintar. Tapi, ia tidak menyangka jika Reina tahu secepat itu. Farhan terus memelototi Reina seakan ingin menerkamnya. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak mau mencelakai wanita terlebih ia tahu jika Reina sebenarnya wanita yang sangat baik. Hanya saja kepintarannya terkadang membuat jengkel.
Akhirnya Farhan melangkah melewati Reina begitu saja tanpa menjawab sepatah kata pun. Dan tentu saja hal itu membuat Reina tidak puas.
“Apa itu alasanmu menikahiku?”, sentak Reina yang tidak tahan lagi menahan sakit di dadanya.
Membuat Farhan menghentikan langkahnya. Reina membalikkan badan. Ia kembali mendatangi Farhan berdiri di hadapannya.
“Kamu buat aku jatuh cinta padamu. Sampai logikaku habis karena rasa cintaku. Aku berharap semua anggapanku padamu itu salah. Dan kamu benar-benar mencintaiku juga. Tapi...”, ucap Reina yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Apa aku pernah memintamu untuk mencintaiku?”, sela Farhan dengan entengnya.
__ADS_1
Kreeetak! Seperti ada yang hancur di dalam diri Reina. Ya, hatinya seketika menjadi retak mendengar ucapan Farhan itu. Tanpa di sadari tangan Reina mengepal. Ia tidak menyangka jika Farhan tidak menghargai sedikit pun pengorbanannya. Reina kini tertunduk.
Tidak lama terdengar suara tawa. Reina kembali menatap Farhan yang sedang tertawa itu. Tentu Reina sangat heran melihatnya. Apakah Farhan sedang menertawakannya saat ini?
Farhan menangkup kedua pipi Reina, “Istriku sayang. Kamu ini kenapa? Saya bercanda loh. Kok kamu jadi serius banget? Oh, saya tau. Kamu kayak gini pasti karena aku kurang perhatian ya?”
Reina pun mengerutkan dahinya. Ia begitu heran melihat Farhan yang langsung berubah menjadi lembut.
“Maaf ya. Kamu tau sendirikan? Akhir-akhir ini kerjaan saya menumpuk. Please jangan marah ya”, lanjut Angga dan di akhiri dengan sebuah ciuman di kening dan kemudian memeluk Reina.
Reina tidak bisa apa-apa. Dia hanya diam saja. Dan perlakuan Farhan hanya sampai di situ saja. Setelahnya ia izin kepada Reina mau keluar rumah karena ingin membahas pekerjaannya bersama rekannya.
Klek! Pintu tertutup. Farhan menarik napas. Sebenarnya tadi ia hampir saja keceplosan ingin memberitahukan yang sebenarnya pada Reina. Tapi, ia ingat itu sangat berbahaya jika ia mengaku. Bisa-bisa Reina akan memberitahukan semuanya pada orang tua dan kakaknya. Makanya dengan susah payah Farhan menahan emosinya.
Kemudian Farhan kembali melihat hp-nya. Ia pun mengirim pesan kepada seseorang yang di sebut ayah olehnya.
Ternyata Angga sudah ingat semunya. Kita harus menyiapkan rencana selanjutnya untuk mendapatkan bukti itu sebelum Angga. (Isi pesan Angga)
***
Dan tidak lama kemudian, Angga dan Mila telah sampai ke rumah. Angga melihat Reina yang tengah melamun. Ia tersenyum melihat adiknya yang begitu menggemaskan saat melamun itu.
Tup! Angga menaruh bingkisan di hadapan Reina. Reina pun tersadar dari lamunannya.
“Apa ini kak?”, tanya Reina mengerutkan dahinya.
“Ini hadiah untuk adikku yang suka sekali melamun”, jawab Angga sambil mencubit hidung Reina dengan gemas.
Mila sampai tersenyum melihatnya. Reina masih terlihat keheranan. Seperti ada yang berbeda dengan kakaknya, tapi apa? Lalu, Angga menggandeng tangan Mila untuk naik ke anak tangga. Dan tangan sebelahnya lagi membawa barang-barang belanjaan mereka. Dan mereka pun masuk ke kamar.
__ADS_1
Reina masih saja berpikir. Kemudian, ia melihat bingkisan itu dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Seketika raut wajah Reina berubah menjadi tersenyum.
Kini di tangannya sudah ada sebuah tas dengan warna coklat tua kesukaannya. Ia pun kegirangan melihatnya. Dan tiba-tiba Reina tersadar. Ia segera berlari menuju kamar Angga dan Mila dengan membawa tas barunya. Tanpa mengetuk ia langsung masuk dan langsung memeluk Angga. Angga sampai kaget di buatnya.
“Ada apa Rei?”, tanya Angga yang membalas pelukan Reina.
“Kakak sudah ingat kembalikan? Ya kan?”, tanya Reina yang sudah menangis bahagia.
Kini Angga yang mengerutkan dahinya, “Kenapa kamu berbicara begitu?”.
Reina menunjukkan tasnya pada Angga. “Sudah beberapa tahun ini tepat setelah kejadian itu, kakak sangat jarang memberiku hadiah. Kalau pun kakak memberiku hadiah, hadiah itu tidak sesuai dengan kesukaanku. Tapi ini, tas ini benar-benar kesukaanku, warna kesukaanku dan kakak memanggilku dengan lembut. Aku nggak salahkan kak?”, ungkap Reina panjang lebar.
Awalnya, Angga ingin tetap mengelak. Tapi ia tidak tega melihat Reina yang begitu merindukannya. Akhirnya Angga pun mengangguk mengakuinya. Dan berkata jika Reina tidak boleh memberitahukan kabar ini. Reina setuju begitu saja. Yang terpenting baginya Angga kini sudah seperti sediakala. Sangat peduli padanya dan tahu apa yang diinginkannya.
“Ya, sudah kamu ke kamarmu sana! Kakak ada urusan dengan wanita itu”, ucap Angga bercanda sambil melirik Mila yang tengah menonton drama mereka.
Reina pun tersenyum saat sadar ia telah memasuki kawasan pasutri baru. Saat hendak keluar, Reina bilang pada Angga jika nanti ada yang ingin dia bicarakan pada Angga. Lalu, Reina pun keluar dari kamar itu dengan hati yang begitu gembira.
Saat setelah Reina pergi, Angga malah berjalan mendekati Mila dan langsung memeluknya. Mila yang tidak menduga jika akan di peluk Angga sangat terkejut dan mematung.
“Kamu, pasti menderita banget ya saat saya masih kehilangan ingatanku? Bahkan Reina saja tampak sedih saat saya tidak ingat dengan apa yang disukainya. Aku ingat berapa kasarnya saya padamu”, ucap Farhan yang masih memeluk Mila.
“Sudahlah. Kamu sudah meminta maaf padaku dan aku sudah memaafkan dan melupakan hal itu. Mungkin itu memang harus terjadi agar kita bisa lebih dekat seperti sekarang ini”, jawab Mila mencoba lebih dewasa.
Padahal Angga tidak tahu saja, jika Mila setengah mati menahan kegugupannya karena pelukan hangat dari suaminya itu telah membakar hasratnya.
“Apa kamu suka kita dekat seperti ini?”, ucap Angga dengan mengeratkan pelukkannya.
“Jangan mulai deh! Lepasin Mas!”, jawab Mila yang jantungnya sudah tidak karuan lagi. Tapi, Angga malah tidak melepaskannya walaupun ia dipukuli oleh Mila. (Pukulan sayang itu.. Ciieee)
__ADS_1
***