Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 47. Mila Segera Pulang


__ADS_3

3 hari kemudian...


“Astaghfirullah!”, ucap Reina ketika masuk ke ruang di mana Mila di rawat.


Reina langsung berbalik badan dan juga membalikkan tubuh Farhan agar tidak melihat apa yang Reina lihat. Jelas saja Mila dan Angga ikut kaget mendengar suara Reina. Ditambah lagi ia beristighfar.


“Apaan sih Rei? Masuk bukannya ngucap salam malah istighfar!”, jawab Angga.


“Ya, aku kaget ngeliat kalian lagi begitu!”, ucap Reina lagi sambil terus menahan badan Farhan agar tetap membelakanginya.


Angga dan Mila pun saling pandang. Mereka masih bingung dengan apa yang di ucapkan Reina. Kemudian, Angga baru teringat apa yang baru saja ia lakukan pada Mila. Namun, tampaknya Mila masih belum menyadarinya.


“Hah.., Kakak cuma membersihkan wajah Mila!”, ucap Angga.


“Hah!”, Reina kaget dan langsung membalikkan badannya lagi. “Jadi kakak sama Mila tadi nggak...”, ucap Reina sambil menyatukan ujung jari-jari kanan dan kirinya.


Angga tidak menyangka jika Reina melihat mereka seperti sedang ciuman. Angga pun melihat wajah Mila yang sudah memerah karena malu di bilang Reina seperti itu. Angga pun semakin geram pada Reina. Ia langsung mencubit pipi adiknya dengan kuat sampai Reina menjerit kesakitan.


Mila ingin sekali memisahkan mereka. Tapi, apa daya tubuhnya masih belum bisa banyak bergerak. Dan ia juga merasa geram pada Farhan yang hanya diam melihat pertengkaran itu.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, masuklah Frans yang dari luar sudah mendengar keributan adik dan kakak itu. Ia pun langsung melerai keduanya. Mila pun bersyukur atas kedatangan dokter Frans.


“Kalian ini, benar-benar!”, ucap Frans kesal sambil mengatur napasnya.


Pasalnya ia ikut terkena imbasnya. Ia juga terlihat kacau pasca melerai keduanya.


“Itulah sebabnya, aku tidak ingin ketampanan ku hilang”, ucap Farhan yang sudah santai duduk di sofa dengan menjelaskan alasannya tidak melerai adik dan kakak itu.


“Hah! Aku benar-benar tidak punya harga diri lagi sebagai dokter di sini”, keluh Frans memelas.


Rambutnya sangat berantakan, bajunya juga ada tersobek sedikit. Kondisinya benar-benar kacau. Bisa di bayangkan seperti apa tadi perkelahian adik kakak itu. Reina juga selalu tidak terima jika kakaknya memukul atau mencubitnya. Ia akan terus membalasnya. Dan dari situ perkelahian pun terjadi.


Kabarnya, sore ini Mila akan segera pulang. Jadi Reina akan ikut membantu mengemas.


“Apa kamu benar-benar sudah baikkan?”, tanya Farhan.


Mila menoleh ke arah Farhan dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan Mila merasa sangat mengantuk saat itu. Mungkin karena efek obat yang telah di minumnya. Perlahan ia menutup matanya.


Dari tempat duduknya, Farhan terus memandangi Mila dengan senyumannya. Rasa bersalah memang ada di hatinya. Namun, ia bersyukur Mila masih dapat bertahan. Kalau di pikir-pikir, rasanya Farhan sangat ingin lepas dari semua tugas yang dilakukannya. Saat itu ia berpikir bisa menjaga Mila agar tidak ikut dalam bahaya. Tapi, ternyata ia salah. Sungguh ia menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Bertahun-tahun ia mengikuti keinginan ayahnya. Dan sampai saat ini ia masih merahasiakan identitas aslinya pada Mila hanya demi keselamatan Mila. Ia pun sangat takut jika nanti Mila malah kecewa padanya.


Tiba-tiba hp Farhan berdering. Ia pun segera keluar dari ruangan itu. Ia menerima panggilan itu di depan pintu. Ia melihat Mila yang begitu nyenyak. Ia pun menutup pintu perlahan.


“Maaf ayah. Aku belum bisa menemukannya. Aku sudah cari di kamar Angga tapi, Flashdisk itu tidak ada di sana”, ucap Farhan dengan suara pelan.


Tanpa di sadari Farhan, Mila mendengar semua ucapannya. Matanya memang tertutup namun tidak dengan pendengarannya. Mila tetap berpura-pura tidur walau sekarang pikirannya sedang kacau. Terbesit bahwa Farhan adalah salah seorang yang juga harus di waspadai.


Klek! Pintu toilet terbuka. Reina telah selesai dengan urusannya. Dan mendengar suara Reina, Farhan jadi buru-buru menutup panggilannya. Reina terlihat begitu bersemangat membereskan barang-barang milik Mila. Di sela-sela itu, suster datang untuk melepas infus Mila. Ya, hanya tinggal menunggu waktu dan Mila akan pulang.


Tidak lama kemudian, Angga datang dan membantu Reina. Ketika itu, Farhan  menyiapkan mobil, serta membawa barang-barang yang telah selesai untuk di taruh di mobil.


Lalu, saat Reina membuka sebuah laci dan mengambil barang yang ada di sana, sekilas Mila melihat sesuatu dari kejauhan tepatnya di ujung sudut laci itu. Mungkin Reina tidak melihatnya. Karena penasaran, Mila pun membuka laci itu kembali setelah Reina menutupnya. Dan ia menemukan sebuah Flashdisk di sana. Ia pun menjadi teringat dengan pembicaraan Farhan tadi. Tapi, tidak mungkin ada hubungannya. Karena tidak mungkin Angga menyembunyikannya sampai ke rumah sakit. Itu sangat konyol, pikirnya.


Plak! Mila menepuk jidatnya. Pasalnya ia teringat Angga pernah bilang berada di ruangan ini sebelumnya. Mila semakin yakin, jika Flashdisk ini yang Farhan cari. Tapi, Mila tidak akan menyerahkannya pada Farhan. Ia akan melihat isinya terlebih dahulu. Ia pun cepat-cepat menyembunyikannya di dalam tasnya.


***


 

__ADS_1


__ADS_2