
Sesampainya di rumah sakit, Mila langsung akan di bawa ke ruang operasi. Angga dan Reina masih terus mengikuti kemana Mila akan dibawa. Kala itu, Angga di hentikan oleh suster untuk mengurus administrasi terlebih dahulu. Agar operasi Mila segera di lakukan. Angga pun langsung mengikuti arahan suster itu.
Reina masih di sebelah Mila, menangisinya serta menguatkannya. Agar Mila bertahan dan cepat pulih. Lalu, tibalah saatnya Mila masuk ke ruang operasi dan Reina harus tetap di luar untuk menunggu kabar selanjutnya.
Reina terus saja menangis tapi, dalam hatinya ia selalu mendoakan kesembuhan Mila. Seumur hidupnya ia menganggap telah berutang nyawa pada Mila. Ia terjongkok di sana sambil terus menangis. Lalu, Angga datang. Ia melihat Reina yang tengah menangis sendirian. Hatinya juga terasa pilu memikirkan Mila yang tengah berjuang sendirian di dalam sana.
“Angga, Reina? Kalian kenapa di sini?”, tanya Frans yang baru sampai di depan ruang operasi.
“Frans? Apa kamu yang akan mengoperasi Mila?”, tanya Angga yang penuh harap.
“Apa? Jadi Mila korban penembakan itu?”, Frans begitu terkejut.
Ia mau tidak percaya, tapi wajah Angga dan juga Reina tidak sedang bercanda. “Kalian tenang ya, saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mila. Kalian juga harus berdoa”.
“Kak, aku mohon, hiks, selamatkan Mila”, pinta Reina memegangi tangan Frans.
Melihat Reina menangis seperti itu, hatinya juga ikut sedih. Ia pun juga ikut memegangi tangan Reina seolah menenangkan Reina.
“Kakak janji, kakak akan melakukan apapun untuk kesembuhan Mila. Kakak masuk dulu ya. Kamu dan Angga juga harus berdoa”, jawab Angga dan langsung bergegas masuk ke ruang operasi.
Di dalam ruang operasi.
Tit... Tit... Tit... Bunyi alat detak jantung yang tengah menampilkan kondisi Mila. Ia tidak sedang dalam baik-baik saja. Kondisinya sangat lemah apalagi ia banyak kekurangan darah.
__ADS_1
Dokter Frans sedang berusaha mengambil benda yang bersarang di tubuh Mila. Sebuah peluru yang tertanam di sela-sela rongga dada. Suster yang ikut dalam kegiatan operasi itu, kembali keluar untuk mengambil kantung darah lagi.
Melihat suster yang berlari bolak-balik keluar dari ruang operasi membuat Angga dan Reina semakin cemas. Mana lagi, suster itu tidak menjawab pertanyaan mereka tentang keadaan Mila sama sekali.
Kemudian, Mama Siska dan Papa Roy akhirnya berjumpa dengan Angga dan Reina. Sudah beberapa kali di hubungi mereka tidak pernah mengangkat telfonnya.
“Angga, Reina ada apa ini? Siapa yang sedang di operasi?”, tanya Mama Siska khawatir.
Ia juga sangat berharap jika bukan Mila yang ada di dalam sana. Namun, sepertinya feeling Mama Siska benar. Reina langsung memeluk mamanya sambil menangis. Lalu, ia lihat Angga juga sedang merenung dan terdiam. Mama Siska sudah tidak sabar lagi. Ia melepas pelukan Reina dan meminta Reina untuk mengatakan yang sebenarnya. Papa Roy juga sangat penasaran. Tetapi, ia juga harus bisa tenang dan menenangkan istrinya.
“Mila tertembak, Ma”, ucap Reina gemetar.
“Apa?”, sahut Mama Siska dan Papa Roy bersamaan.
“Bagaimana bisa terjadi?”, tanya Mama Siska lagi.
“Ini semua, salahku Ma. Aku yang salah”, ucap Reina dengan suara yang serak karena memaksa dirinya untuk berbicara.
Mama Siska begitu panik dan juga sedih. Ia tidak puas dengan penjelasan Reina. Ia kembali mendatangi Angga yang terlihat kacau itu. Namun, sama saja. Angga juga tidak bisa berkata-kata lagi.
Papa Roy mencoba menenangkan Mama Siska lagi. Ia menyuruh istrinya bersabar sampai operasi selesai. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah berdoa untuk kesembuhan Mila.
Lalu, di dalam ruang operasi, Dokter sudah melihat peluru itu. Ia pun akan segera mengeluarkannya. Ia meminta sebuah alat penjepit untuk menjepit dan menarik keluar peluru itu. Dengan perlahan-lahan dan pada akhirnya peluru itu pun bisa keluar. Tapi, pada saat itu juga kondisi Mila semakin melemah. Dokter kemudian langsung menjahit kulit Mila dan akan segera melakukan tindakan lebih lanjut untuk Mila.
__ADS_1
***
Mila membuka matanya perlahan. Ia melihat pemandangan yang begitu indah. Sebuah taman bunga yang begitu cantik belum pernah ia melihat pemandangan sebagus itu sebelumnya. Lalu, dari kejauhan ia melihat dia orang yang sangat ia kenali. Mila pun tersenyum dan hatinya sangat bahagia.
Mila berlari mengejar kedua orang tuanya. Dan begitu sampai di hadapan merek ia langsung memeluknya. Rasa rindu yang sudah lama ia rasakan, kini akhirnya bisa ia tuangkan. Kemudian, Mila pun sadar jika sebenarnya mereka sudah tidak ada di dunia lagi.
Mila melepaskan pelukannya, “Ma, Pa apakah aku telah berada di surga bersama kalian?”
Mama dan Papa Mila hanya tersenyum. Mereka berdua membelai rambut Mila. Kemudian, Mila memeluk keduanya lagi. Rasanya masih sangat rindu sekali.
Lalu, ia mendengar suara banyak orang yang menyebutkan namanya. Mereka seperti tengah berdoa untuk Mila. Tiba-tiba pandangan Mila pun beralih pada orang-orang yang sedang menunggu di sebuah ruangan. Mereka adalah Angga, Reina, Mama Siska dan Papa Roy.
Mila menjadi sedih mendengarkan doa-doa yang begitu tulus untuknya. Kini ia mengerti. Ia memang sangat rindu pada orang tuanya dan ingin ikut bersama mereka. Namun kini, ia telah mempunyai keluarga baru yang juga menyayangi dirinya. Oh, betapa beruntung dirinya. Ia berjanji mulai detik itu, ia akan selalu menjadi orang yang kuat untuk keluarganya.
***
Di ruang operasi, tubuh Mila mengalami kejang yang luar biasa. Para dokter dan juga perawat semampu mereka melakukan tindakan yang terbaik untuk Mila. Mereka benar-benar sibuk dan harus tetap fokus. Ketegangan di ruang operasi pun semakin bertambah.
Tit....., monitor itu menampilkan detak jantung Mila yang sudah tidak ada lagi. Garis yang seharusnya bergelombang kini tampak lurus. Tapi, perjuangan dokter tidak sampai di situ.
“Alat pacu jantung!”, pinta dr. Frans tegas.
Suster langsung melakukan yang di perintahkan oleh dokter. Ia mengambil dan memberikan alat pacu jantung itu pada dr. Frans. Kemudian, suster itu menempelkan alat yang seperti wayar di dada Mila. Setelah itu, barulah dr. Frans bersiap-siap membuat kejutan di jantung Mila. Satu kali, belum berhasil. Dua kali, juga belum berhasil. Dokter juga sudah mulai cemas. Frans pun ikut berdoa dalam hatinya agar Mila masih bisa di selamatkan. Dan yang ketiga kalinya, monitor pun akhirnya menampilkan jantung Mila sudah berdetak lagi. Walaupun agak lemah tapi, ia bersyukur karena Mila bisa selamat. Semua yang berada di ruang operasi pun merasa sangat lega dan senang.
__ADS_1
“Terima kasih Mila. Kamu benar-benar sangat kuat”, bisik Frans di telinga Mila yang masih tertidur itu.
***