Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 41. Jangan Tertawa


__ADS_3

Tit.. Tit.. Bunyi alat monitor yang menampilkan kondisi Mila. Angga tengah duduk di samping Mila. Ia melihat Mila yang mesin tertidur pulas. Ia tidak tahu harus melakukan apa.


Kemarin, ia berlagak seperti penguasa di depan Mila. Ke mana pun Mila pergi, ia bisa mengetahuinya. Bahkan ia begitu angkuh terhadapnya. Namun kini di saat Mila telah menjadi miliknya, ia sama sekali tidak bisa menjaganya.


Perlahan, Angga memegang jemari Mila. Ia menggenggamnya dengan erat. Kemudian, menciumnya dan Angga pun meneteskan air matanya. Hatinya benar-benar sedih. Sampai sekarang pun ia tidak pernah menyangka jika Mila bisa melakukan hal gila itu. Yaitu, mengorbankan dirinya demi Reina yang tidak lain adalah adik Angga.


Tiba-tiba jemari Mila yang tengah di pegang oleh Angga, bergerak. Angga tersentak, antara terkejut dan bahagia. Ia melihat mata Mila yang juga ada pergerakan. Sepertinya Mila sedang berusaha membuka matanya.


“Mila, kamu udah sadar?”, tanya Angga untuk memastikan.


Perlahan Mila membuka matanya. Dan yang ia lihat pertama kali adalah Angga. “Kak Angga”, ucapnya.


“Syukurlah kamu sudah siuman. Aku sangat takut sekali jika kamu meninggalkanku. Terima kasih Mil, sudah mau bertahan”, ucap Angga kemudian ia menciumi tangan Mila.


Mila pun tersenyum kecil, melihat perilaku Angga terhadap dirinya. Ingatannya pun kembali pada kejadian sebelumnya di mana Reina yang akan di tembak oleh seseorang.


“Reina! Reina di mana kak? Dia baik-baik aja kan?”, tanya Mila yang begitu khawatir.


Angga mengangkat kepalanya kembali. Ia melihat wajah polos Mila. Sekali lagi ia tidak menyangka dalam kondisi sakit seperti itu, Mila masih mengkhawatirkan Reina.

__ADS_1


“Reina baik-baik aja. Kamu jangan mikirin orang lain dulu ya. Kamu masih sakit. Masih juga selesai operasi”, jawab Angga sambil membelai kepala Mila.


Mila terus menatap Angga. Sekaligus merasakan detakan jantungnya yang menjadi kencang saat menerima perlakuan manis dari Angga. Mila jadi bingung mengartikan getaran di hatinya itu.


Mendengar dan melihat detakan jantung Mila di layar monitor, seorang dokter jaga menghampiri Mila. Ia ingin memastikan  kondisi Mila dalam keadaan baik-baik saja.


“Ibu Mila, apakah ibu merasakan berdebar? Soalnya ini, kelihatan jantung ibu berdetak sangat kuat dan tidak stabil”, tanya dokter pria itu.


Mila pun terpelongo mendengar pertanyaan dokter itu. Apa yang harus dia katakan? Tidak mungkin ia bilang jika ia sedang deg-degan karena Angga membelainya.


“Mil, apa yang kamu rasakan? Kamu baik-baik ajakan?”, tanya Angga yang khawatir pada Mila setelah mendengar pertanyaan dari dokter itu.


Lagi-lagi Mila terpelongo melihat Angga. Angga menanyakan hal itu sambil memegang dan membelai pipinya. Melihat adegan itu, dokter tersebut menjadi paham apa yang sedang terjadi pada Mila.


“Saya suaminya, dok”, jawab Angga singkat namun sambil tersenyum.


“Oh, suami toh. Sudah berapa lama menikah?”, tanya dokter itu lagi yang mencoba ingin menggali sesuatu untuk memastikan apa yang ada di pikirannya.


“Baru tadi pagi, dok”, jawab Angga tanpa ragu.

__ADS_1


“Oh, pantesan aja. Ibu Mila-nya jadi deg-degan ya, bu? Pengantin Baru...”, celoteh dokter pria itu lagi sambil senyam-senyum.


Betapa malunya Mila yang ketahuan oleh dokter bahwa ia sedang deg-degan. Namun, Angga masih belum paham apa yang sebenarnya Mila rasakan.


Mila mencoba untuk sedikit tertawa agar tidak terlalu kaku. Tapi, saat ia tertawa ia malah kesakitan.


“Aw, ssshh”, Mila kesakitan.


“Eh, kamu kenapa? Apa yang sakit?”, tanya Angga panik.


Dalam hati Mila ia pun semakin panik melihat Angga yang terlalu perduli padanya. “Nggak apa-apa kok. Ini, kalau aku tertawa bekas jahitannya jadi terasa sakit”, ungkap Mila.


“Ya sudah, kalau begitu kamu jangan tertawa dulu atau melakukan apapun yang menyakiti bekas luka jahitan itu”, perintah Angga.


“Ya, begitulah Bu Mila. Luka yang sudah di jahit aja masih terasa sakit. Apalagi hati yang terluka tapi nggak pernah di jahit. Sakitnya kayak apa coba?”, ungkap dokter pria itu berlagak untuk berjenaka.


Namun, Mila dan Angga hanya menatap aneh. Tapi, mereka memaksa untuk tersenyum pada dokter itu.


“Hahaha, saya cuma bercanda kok. Biar gak tegang aja. Kalau begitu saya permisi dulu. Sebentar lagi suster akan membawa ibu Mila pindah ke ruang inap”, ucap dokter itu dan kemudian ia pergi meninggalkan Mila dan Angga.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, mereka berdua pun saling tersenyum, lucu mengingat ucapan dokter itu. Dan juga kekakuan mereka. Lagi-lagi Mila merasa kesakitan saat ia tertawa. Dan lagi-lagi Angga melarangnya untuk tertawa.


***


__ADS_2