Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 48. Persahabatan Roy dan Baron


__ADS_3

Flashback On.


Roy sedang terduduk di pinggir trotoar. Wajahnya tampak satu dan kelelahan. Ia baru saja berkeliling kota untuk mencari pekerjaan. Namun, ia tidak berhasil mendapatkannya.


Plak! Seseorang menepuk pundak Roy. Roy menoleh ke belakang untuk melihat orang tersebut. Orang itu tersenyum pada Roy kemudian duduk di sebelahnya.


“Jangan patah semangat gitu dong. Masih ada hari esok. Kita pasti bisa dapat pekerjaan. Yuk, aku traktir makan”, ucap Baron memberikan semangat pada Roy.


Roy menatap Baron. Ia begitu bahagia karena saat itu ia mempunyai seorang sahabat yang selalu ada untuknya, baik padanya, dan menyemangatinya di saat ia hanya tinggal sebatang kara. Matanya berbinar-binar melihat sahabatnya itu.


“Udah ayo!”, ajak Baron sambil menarik tangan Roy.


Mereka pun berjalan bersama. Baron merangkul Roy sambil menepuk-nepuk pundaknya.


Hari-hari pun berlalu. Roy dan Baron belum juga mendapat pekerjaan. Hingga pada suatu hari keduanya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Roy memutuskan untuk membeli beberapa produk kecantikan untuk di jualnya di pasar. Karena Roy berpikir jika sebagian besar pembeli itu adalah wanita.


Sedangkan Baron memutuskan untuk menjual pakaian wanita di pasar. Keduanya sangat beruntung karena penjualan mereka terus meningkat. Mereka pun sering mendukung satu sama lain.


Hingga suatu ketika, semuanya berubah. Suatu hari, Roy melihat seorang anak muda yang sedang termenung di bangku taman. Ia menjadi teringat di mana dirinya dulu juga terlihat sesedih itu. Kemudian, ia menghampiri pemuda itu dan memberikannya sebuah minuman.


Pemuda itu tampak ramah menyapa Roy. Dari situ mereka terus asyik bercerita. Hingga mereka membuat sebuah rencana besar. Saat kembali ke kosannya, Roy memberitahukan kepada Baron perihal rencananya dengan pemuda yang baru di temuinya itu. Roy pun mengajak Baron untuk bergabung dengannya.


Namun, tidak di sangga Baron menolaknya. Ia begitu marah karena Roy bekerja sama dengan orang lain yang bahkan baru di kenalnya. Baron begitu cemburu. Ia mengacuhkan Roy begitu saja. Dari situ, hubungan mereka pun mulai merenggang.

__ADS_1


Tanpa di sadari setelah berbulan-bulan Roy pun mulai menampakkan kemajuannya. Ternyata pemuda yang di temui Roy itu adalah seorang lulusan sarjana Kimia. Pemuda yang bernama Deni itu sedang mencari inspirasi untuk membuka sebuah usaha. Dan tidak di duga mereka di pertemukan.


Deni mempunyai ide untuk membuat produk kecantikan seperti yang di jual oleh Roy. Karena, Deni melihat Roy begitu berhasil dengan penjualannya. Namun, Deni tidak memiliki banyak uang untuk memulainya.


Dan ternyata, Roy begitu tertarik dengan ide Deni. Roy bersedia menginvestasikan semua uang miliknya untuk memulai bisnis itu. Dan dari situlah mereka akan menjadi rekan bisnis hingga saat ini.


Melihat Roy yang semakin sukses, Baron pun semakin cemburu. Ia berniat untuk menjauh dari Roy dan mulai hidup sendiri tanpa sahabatnya itu lagi. Ia pun bertekad suatu hari nanti akan menunjukan pada Roy jika dirinya bisa jauh lebih hebat dan lebih kaya dari pada sahabatnya itu. Atau mungkin lebih tepatnya sekarang Roy adalah saingannya. Baron pun pergi tanpa sepengetahuan Roy.


Lalu, 3 tahun pun berlalu. Roy sudah mempunyai sebuah perusahaan besar di Indonesia dan akan mendirikan sebuah perusahaan lagi di luar negeri yang akan di kelola oleh Deni. Mereka begitu sukses dengan usaha produk kecantikan mereka. Mulai dari krim wajah, bedak, serum wajah, sabun dan masih banyak lagi lainnya. Mereka memberikan nama mereknya yaitu Miracle Glow (MG).


Dan setelah sekian lama Baron tidak menampakkan dirinya, ia datang lagi pada Roy agar Roy bergabung dengannya, dengan bisnis barunya. Tentu saja saat itu, Roy begitu senang melihat Baron yang telah banyak berubah. Ia begitu terlihat gagah dengan jas yang ia kenakan. Rambutnya sangat rapi cocok sekali dengan Baron menurut Roy. Dan mereka pun mulai membicarakan bisnis itu.


Brak! Roy memukul meja kerjanya. Matanya menjadi memerah. Wajahnya pun tampak begitu kesal. Namun, dalam hatinya ia begitu kecewa dengan Baron. Baru tadi, ia memuji-muji Baron karena sudah sangat berjaya. Tapi, kini ia ingin sekali menarik kata-katanya lagi. Ia tidak percaya jika sahabatnya mampu membuat hal kotor sehina itu.


“Halah, jangan sok suci Roy. Lihat aku sekarang. Aku orang terkaya ke 5 di negara ini. Nggak ada yang tau kok soal itu. Semua sudah aku atur. Dan kita tinggal menerima uang demi uang setiap detiknya”, ucap Baron mencoba membujuk Roy.


“Maaf Baron. Keputusanku sudah bulat. Aku nggak mau mengotori hasil jerih payahku ini”, jawab Roy tegas.


“Bodoh kau! Aku kesini itu untuk menawarkanmu menjadi lebih kaya lagi. Tapi dengan angkuhnya kau menolak tawaranku”, maki Baron.


“Mungkin, jika kamu menawarkan kerja sama yang lebih masuk akal dan tidak merugikan orang lain, aku akan menerimanya. Tapi, situs p*rn..? Kau sungguh sudah gila!”, jawab Roy dengan lantang.


“Sudah ku bilang berulang kali, walau pun situs itu adalah pokok utamanya, tapi yang orang tahu perusahaan kami adalah situs resmi media berita pemerintahan...”, Baron mencoba untuk menjelaskan lagi pada Roy.

__ADS_1


“Apapun itu, aku tetap pada keputusanku untuk tidak ikut dalam bisnismu itu. Tolong keluar dari kantorku”, ucap Roy geram.


Baron begitu tidak percaya ia di usir oleh Roy. Hatinya begitu terluka. Ia sama sekali tidak di hargai. Baron pun keluar dari ruangan Roy dan menutup pintunya sangat kuat.


“Awas kamu Roy, akan ku balas perbuatanmu ini. Akan ku beritahu bagaimana kami bekerja mendapatkan video p*rno itu”, gumam Baron geram sambil mengepalkan tangannya.


Flashback Off.


 


Sore itu, Mila sudah bisa pulang. Mereka menaiki mobil milik Reina. Tapi, saat sudah dekat dengan kediaman mereka, mobil Reina malah mogok.


“Kamu gimana sih? Mobil rusak di bawa-bawa! Di servis dong! Ribetkan jadinya!”, ucap Angga kesal.


“Ya mana aku tahu kalau mobilnya rusak! Jangan ngegas gitu dong ngomongnya”, jawab Reina yang tidak mau kalah.


Mila dan Farhan berusaha menenangkan pasangan masing-masing. Suasana pun semakin panas di dalam mobil itu. Angga langsung mengeluarkan hp-nya dan menelepon sekuriti untuk membantunya membawa barang-barang. Lalu, ia pun membawa Mila turun dan mendorongnya dengan kursi roda.


“Sabar dong Rei”, ucap Farhan.


“Gimana mau sabar! Dari tadi dia cari masalah mulu”, jawab Reina yang hampir menangis.


Akhirnya, Farhan pun membujuk Reina untuk keluar dari mobil. Reina pun mau mengikuti perintah Farhan. Dan mereka pun berjalan berdua ke rumah meninggalkan mobil itu begitu saja.

__ADS_1


***


__ADS_2