
Angga menuntun Mila menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar mereka. Sebenarnya, Mila merasa aneh dan juga jantungnya deg-degan. Sebab, ia harus sekamar dengan Angga.
Setelah masuk ke dalam kamar, dengan perlahan Angga membantu Mila naik ke atas kasur. Pikiran Mila kacau saat itu. Ia sudah berpikiran sangat jauh tentang apa yang akan dilakukan Angga terhadapnya.
Lalu, Angga pun ikut berbaring di sebelah Mila. Perlahan Angga membelai rambut hingga wajah Mila. Saat itu Mila tidak bisa berkutik. Ia bahkan tidak tahu harus apa.
“Kamu kenapa wajahnya tegang gitu?”, ucap Angga sambil tersenyum pada Mila.
Tak hentinya Angga membelai wajah Mila sampai pada bibirnya. Dan Mila hanya bisa membiarkan serta menerima perlakuan itu padanya. Mata keduanya pun saling bertatapan. Dan sama-sama menelan saliva mereka masing-masing.
Rasanya Angga sudah tidak tahan lagi. Ia pun segera mendekatkan wajahnya pada wajah Mila. Ia terus memandangi bibir ranum milik Mila. Tangan Angga kini meraih tengkuk Mila untuk menahan Mila tetap di posisinya.
Dan semakin lama, keduanya semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Jantung Mila sudah hampir copot rasanya. Ia pun segera menutup matanya untuk menghilangkan kegugupannya.
“Mil, kamu baik-baik ajakan?”, ucap Angga.
Mila pun kaget dan langsung membuka matanya. Ia melihat Angga dengan posisi yang berbeda.
“Itu bibir kenapa monyong-monyong gitu?”, tanya Angga lagi.
Mila pun tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuyarkan lamunannya. Pipinya pun memerah karena malu pada Angga. Ia yakin pasti Angga mengetahui apa yang sedang di pikirannya.
Ya, walaupun Angga tahu, ia tetap tidak akan membicarakan. Ia tahu jika Mila sedang merasa malu.
“Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat ya. Nanti saya suruh Bibi untuk nganter makanan. Kamu gak apa-apa kan saya tinggal sebentar”, tanya Angga pada Mila.
__ADS_1
Mila hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih terlihat malu. Sebelum Angga pergi, Mila meminjam sebuah laptop padanya. Dan dengan senang hati Angga memberikannya.
“Ah, saya tahu pasti kamu mau nonton drama Korea kan?”, ucap Angga yang sok tahu.
“Oh, i... Iya kak Angga tau aja...”, jawab Mila sambil memaksakan senyumannya.
“Mas! Mulai sekarang panggil saya Mas Angga!”, perintah Angga.
“Hah? Oh, i..iya. Masss Angga....”, Mila terlihat tertekan.
“Pakailah Laptop itu sesuka kamu. Itu menjadi milikmu sekarang”, sambung Angga lagi.
Mila pun melongo seperti tidak percaya. Angga tersenyum lagi karena lucu melihat reaksi Mila. Ia pun membelai rambut Mila dan berlalu pergi.
Mila pun akhirnya bisa bernapas lega. Kemudian, ia teringat dengan flashdisk yang di temukannya. Ia pun segera mengambilnya dari tas yang masih di pegangnya.
Mila sedikit ragu untuk melihatnya. Namun, ia pun penasaran. Apakah ini benar-benar ada hubungannya dengan keluarga ini atau tidak. Dengan menarik napas dalam-dalam ia pun mengeklik tombol mulai.
Mata Mila langsung terbelalak. Mulutnya ternganga. “Pa.... Papa Roy”, ucapnya terbata-bata dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Klek! Tiba-tiba pintu terbuka. Mila kaget dan langsung menutup laptopnya. Ia melihat ke arah pintu melihat siapa yang berada di sana.
“Hai Mil, nih aku bawa makanan untuk kamu”, ucap Reina dan berjalan mendekati Mila.
“Loh tadi katanya Bibi yang bawakan?”, tanya Mila yang merasa heran.
__ADS_1
“Iya, gak apa-apa kok. Sekalian aku mau lihat kondisi kamu”, jawab Reina sambil meletakan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas.
Setelah itu, Reina duduk di samping Mila. Ia melihat Mila dengan tatapan sedih. Ia begitu merasa bersalah.
“Ada apa Rei?”, tanya Mila yang aneh melihat Reina.
“Maaf. Maaf karena aku kamu menjadi begini. Dan walaupun ini terlambat.... Makasih telah menyelamatkanku”, ungkap Reina dengan raut wajah menyesal.
Mila tersenyum. Ia sama sekali tidak menyesal dengan apa yang telah terjadi padanya. Dan ia tidak pernah sekalipun menyalahkan Reina.
“Rei, apa yang kamu lakukan jika seandainya aku lah yang menjadi sasaran tembak? Apakah kamu akan diam saja?”, tanya Mila.
“Ya nggak la! Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya. Bagaimana pun caranya”, jawab Reina dengan lantang.
Mila pun tersenyum, “Itulah yang ku lakukan padamu”.
Mata Reina berkaca-kaca. Kemudian ia memeluk Mila. Ia sungguh-sungguh bersyukur. Setelah itu, Reina pun pamit ingin menemani suaminya makan.
“Mmm, Rei!”, panggil Mila sebelum Reina keluar dari pintu kamar itu.
Mila teringat sesuatu. Tapi, ia masih ragu apakah harus mengatakannya pada Mila sekarang atau tidak. Ia takut keputusannya salah dan akan ada pertengkaran lagi.
“Iya Mil?”, tanya Reina yang menghentikan langkahnya.
“Mm, terima kasih karena selama ini kamu selalu mempercayaiku”, ucap Mila.
__ADS_1
Reina membalasnya dengan anggukan dan sebuah senyuman. Kemudian, ia pun menutup pintu itu. Ya, Mila mengurungkan niatnya untuk memberitahukan apa yang ia ketahui mengenai Papa Roy. Ia akan menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk mengatakannya.
****