Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 55. Angga dan Ingatannya


__ADS_3

Mila mengerutkan dahinya. Ia masih bingung dengan raut wajah Angga. Apakah perkataannya benar atau tidak.


“Kenapa? Kamu kelihatan bingung gitu? Iya, kamu benar. Saya sudah ingat semuanya”, jawab Angga jujur.


Mila masih melihat wajah Angga. Seolah-olah ia adalah seorang psikolog yang lagi membaca raut wajah Angga. “Kalau begitu, sejak kapan Mas ingat semuanya?”


Angga menarik napas. Mau tidak mau, ia harus mengatakannya pada Mila. “Saat kamu sekarat waktu itu. Suara sirene ambulan dan keadaan di dalam ambulan itu, mengantarkan ingatan saya saat berada di dalam ambulan waktu itu. Apalagi saat rumah sakit menjadi riuh karena kamu, itu juga terus mengingatkan saya saat di bawa ke ruang operasi. Dan perlahan saya mencoba mengingat kejadian sebelum saya masuk rumah sakit. Dan alhamdulillah saya dapat ingatan saya lagi”, ucap Angga panjang lebar.


“Hah? Mas, nggak ada ngerasa apa-apa gitu? Pusing atau.... Apalah”, tanya Mila yang keterangan mendengar cerita Angga yang menurutnya tidak masuk akal.


Angga menggelengkan kepalanya. Yah, mungkin saja itu memang rahmat dari Allah. Semua bisa saja terjadi atas kehendak-Nya.


“Kalau gitu, bukannya seharusnya, Mas jadi pria yang lembut? Tapi, semalam Mas terus marah-marah sama pegawai Mas”, begitu banyak pertanyaan Mila untuk Angga.


Angga tersenyum sambil memandang Mila. Ia pun mendekati Mila lalu memeluknya. “Kurang lembut apa sih saya ini?”, ucap Angga saat memeluk Mila.


Tentu saja hal itu membuat Mila terkejut dan juga membuat jantungnya berdetak tak karuan. Suara Angga begitu terdengar lembut dan membuat Mila candu untuk terus mendengar suaranya.


Setelah itu, Angga melepaskan pelukannya. “Orang lain tidak perlu tahu, jika ingatan saya telah pulih. Ini akan membantu saya menyelidiki sesuatu. Kamu adalah istri saya. Jadi, saya percaya padamu”, ucap Angga lagi sambil menangkup kedua pipi Mila.


Mila merasa mau pingsan di buat Angga. Suaranya yang lembut, Kata-katanya yang manis, wajahnya yang tampan, sentuhannya yang hangat dan aroma nafasnya yang harum. Sungguh Mila benar-benar menikmatinya.


Angga masih berbicara. Tapi, Mila hanya fokus pada bibir Angga yang sedang bergerak itu. Seolah-olah Mila terhipnotis melihatnya. Hatinya juga meronta-ronta ingin menikmati bibir indah itu.


“Mil... Mila!”, panggil Angga sambil mengguncang tubuh Mila.


Saat itu juga Mila tersadar dan langsung menatap mata Angga. “Apa kak Angga pakai pelet ya? Kok aku berasa terhipnotis gini sih?”, ungkap Mila dalam hati.


“Cepat ganti baju! Kamu bisa cari gaun yang di beli sama mama. Siapa tau ada yang cocok”, perintah Angga.


Mila langsung cepat-cepat menuruti perintah Angga. Ia mencoba meneliti baju miliknya di lemari. Dan ia pun mendapatkan baju gamis polos berwarna maron. Mila mengambil baju itu dan langsung ingin memakainya. Ia segera hendak membuka kaos yang ia kenalan. Namun, saat matanya melihat ke arah cermin, ia melihat Angga yang masih duduk di sofa sambil memainkan gawainya.


Mila pun mengurungkan niatnya untuk membuka baju. Ia masih malu pada Angga jika harus melepas pakaiannya di hadapan Angga. Ia pun memutuskan untuk menggantinya di toilet. Tapi, Mila merasa gugup ia pun lupa mau apa. Sampai mondar-mandir tidak jelas. Setelah itu ia pun teringat dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Mila menghela nafasnya. “Ya Allah, aku kenapa sih? Mas Angga juga, kenapa auranya jadi berubah coba? Mana otakku jadi ngeres lagi kalau ngelihat dia!”, celetuk Mila pada dirinya sendiri.


Mila cepat-cepat berganti pakaian. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan langsung berhias. Ya, hias tipis-tipis aja sih. Pakai bedak dan lipstik warna pink muda. Barulah ia mengenakan hijabnya.


“Mas...”, panggil Mila lembut saat selah ia berada di hadapan Angga lagi.


Angga yang tadi memainkan gawainya langsung melihat ke arah Mila yang memanggilnya. Angga pun membelalakkan matanya tidak percaya melihat Mila yang sangat cantik. Ia begitu natural namun terlihat begitu cantik.


“Mas...?”, panggil Mila lagi pada Angga karena Angga terlihat melamun.


Dan Angga pun tersadar dari lamunannya, “Oh iya. Kamu sudah siap? Kalau begitu ayo kita pergi”.


Mereka pun keluar dari kamar. Dan pamit kepada kedua orang mereka yang masih di meja makan. Semuanya tampak senang atas kemajuan hubungan antara Angga dan Mila terkecuali Farhan.


Farhan hanya tersenyum tipis setelah itu ia melanjutkan makannya lagi. Ia sama sekali tidak ingin melihat mereka. Karena itu akan menyakiti hatinya. Tapi, Ia juga tidak bisa menghentikan mereka. Karena ia harus profesional dengan tugas yang di jalankannya.


Kemudian, saat membuka pintu utama, tampaklah tiga orang pria yang sedang berdiri di sana. Ya, mereka adalah Niko, Davit dan Galuh karyawan Angga.


“Kalian? Ngapain ke sini?”, tanya Angga heran.


“Perkenalkan bu bos kami karyawannya bos Angga”, ungkap Niko sopan.


“Iya bu bos, saya Davit, ini Niko dan ini Galuh”, lanjut Davit.


“Oh, kalau gitu silahkan masuk”, ucap Mila mempersilahkan dengan lembut.


Sebenarnya ketiga pria itu sangat ingin masuk dan menikmati kemegahan rumah bosnya. Tapi, mereka melihat Angga yang terus melotot pada mereka.


“Eh, gak perlu repot-repot bu bos. Kami cuma ingin menjenguk bu bos yang baru pulang dari rumah sakit. Sekalian mau memberikan buah tangan”, jawab Galuh.


Kemudian, ketiganya menunjukkan bawaannya masing-masing. Niko membawa sebuket bunga. Lalu, Davit membawa martabak manis. Dan Galuh membawa sekotak pizza.


“Ini untuk bu bos”, ucap mereka serempak sambil menyodorkan bawaan mereka pada Mila.

__ADS_1


Mila yang melihat bawaan mereka itu sangat kaget. Mila tidak percaya ada karyawan seperhatian mereka. Mana yang mereka bawa adalah kesukaan Mila semua.


Dengan senang hati Mila mengambil semua itu. Hatinya semakin bahagia saat memiliki apa yang ia sukai. Begitu juga dengan ketiga pria itu mereka lega karena Mila mau menerima pemberian mereka. Namun, berbeda dengan Angga yang tampak malas dengan drama para karyawannya itu. Setelah itu, ketiga pria itu pamit dan tak lupa mendoakan untuk kesehatan Mila dan juga rumah tangga Mila.


Saat itu juga Angga memegang tangan Mila dan menuntun Mila untuk masuk ke dalam mobil. Mila terus saja memegangi apa yang telah menjadi miliknya. Ia terus saja menciumi bunga yang indah dan wangi itu.


“Sini martabaknya saya aja yang makan! Nanti saya belikan lagi!”, ucap Angga yang kesal dan cemburu melihat Mila yang begitu senang dengan pemberian pria lain.


“Enak aja. Ini semua saya yang punya. Jadi, Mas nggak boleh makan ini!”, jawab Mila tegas.


Kemudian, Mila mencicipi sepotong martabak tersebut. “Em... Enak banget. Coklatnya lumer sampai ke lambung”, ucap Mila ingin membuat Angga semakin cemburu.


Angga berdecak. Jelas ia benar-benar kesal saat ini. “Ya udah sini pizza-nya! Emang kamu bisa ngabisin semuanya?”.


“Bisa dong”, jawab Mila enteng.


“I.. Itu bunga! Kenapa bunganya kamu cium terus! Udah buang aja! Saya bisa belikan bunga yang jauh lebih bagus dari itu!”, oceh Angga lagi.


“Ih, gak boleh lah. Masa di buang? Ini tuh karyawan Mas yang kasih loh. Susah payah mereka beli ini. Kalau Mas mau kasih aku bunga, ya kasih aja”, jawab Mila.


Angga menghembuskan napasnya dengan kasar. Hatinya begitu panas melihat Mila terus memeluk benda-benda itu. Namun, Angga tidak bisa bertindak lebih jauh. Ia harus tetap konsentrasi saat menyetir.


Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mila di buat frustasi oleh Angga. Karena, dari ia keluar dari mobil Angga terus saja menggandeng tangan Mila tanpa ingin melepasnya. Ia seperti takut kehilangan Mila.


Pemberhentian pertama mereka adalah di resto makanan siap saji yang ada di mall itu. Setelah selesai makan, Angga pun mengajak Mila untuk memilih barang-barang yang Mila suka dan Mila butuhkan.


Dari awal, Mila semangat karena memang ia ingin jalan-jalan saja. Makanya ia tidak ke pikiran harus beli apa saja di mall ini. Yang terlintas di benaknya adalah pakaian tidur yang dan pakaian untuk di rumah.


Awalnya, Mila hanya memilih satu setelan baju tidur dan juga baju gamis sederhana. Namun, Angga merasa itu tidaklah cukup. Sebagai anak pemilik perusahaan besar ia malu jika hanya membelikan sedikit baju untuk istrinya. Dan Akhirnya, Angga menyuruh karyawan toko baju itu untuk membungkus beberapa baju lagi yang mirip dengan pilihan istrinya.


Kemudian, Angga menyuruh Mila untuk memilih sepatu yang ia suka. Tapi, Mila menolaknya. Dan Angga tetap memaksa Mila yang pada akhirnya mau tidak mau ia memilih membeli sepatu juga. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan itu semua di paksa oleh Angga. Serta tidak lupa pula Angga membelikan sebuah hadiah untuk adik dan adik iparnya.


Jalan-jalan di mall memang melelahkan. Namun, membahagiakan pula.

__ADS_1


***


__ADS_2