Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 69. Butuh Pelukan


__ADS_3

Mila masih saja di pegang dan di bawa sejauh mungkin dari rumah itu oleh Farhan. Sampai di suatu titik Mila memohon agar dilepaskan. Mata Mila tidak bisa lepas dari rumah yang masih terbakar itu.


“Itu balasan yang setimpal. Agar mereka tahu gimana rasanya kehilangan rumah”, ucap Farhan yang begitu senang melihat musibah tersebut.


Ingin rasanya Mila langsung memaki Farhan saat itu dan memberitahukan kebenarannya saat itu juga. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia harus sabar demi bertemu dengan Baron dan di depan Baron, barulah Mila bongkar sejahat apa Baron itu. Supaya tidak ada lagi yang meracuni pikiran Farhan. Itu juga Mila lakukan demi ketentraman keluarganya sekarang.


Sekarang Mila di paksa untuk masuk ke dalam mobil dan mereka akan meninggalkan area itu. Mila pun menuruti Farhan. Di dalam perjalanan Mila hanya diam saja. Sesekali ia menatap Farhan sambil tersenyum hanya demi Farhan tidak mencurigainya. Padahal, Mila sama sekali tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Malah setelahnya ia mengganti topik menyuruh Mila menggugat cerai Angga sampai Farhan berjanji akan menikahi Mila. Dalam hati Mila sedikitpun ia tidak berniat untuk berpisah dengan Angga. Menurut Mila, Angga adalah suami terbaiknya. Tidak ada pria mana pun yang bisa menggantikan Angga di hatinya kini.


Setelah beberapa lama perjalanan sampailah mereka di sebuah rumah yang sangat megah. Farhan menjelaskan jika ia dan Baron tinggal di rumah ini. Dan sebentar lagi, Mila juga akan tinggal di sana.


Mila menghela napasnya. Rasanya ia belum siap untuk menemui Baron tanpa restu dari salah satu anggota keluarganya. Tapi, siapa? Siapa yang bisa mempercayai dirinya dan tidak akan menghentikannya? Saat itu satu-satunya orang yang ada di pikirannya adalah Papa Roy. Entah mengapa, tapi yang muncul di benaknya hanya papa Roy.


“Kak Han, boleh aku bertemu dengan keluarga suamiku untuk yang terakhir kalinya?”, tanya Mila penuh harap.


“Apa? Kenapa kamu masih mau bertemu mereka? Sudahlah biarkan saja mereka. Kalau ada yang mengancammu, itu sudah jadi urusanku”, jawab Angga yang tidak suka Mila memohon untuk bertemu dengan keluarga Roy.


“Tapi.... Mereka menyayangiku dengan tulus. Aku hanya tidak mau berutang budi kak. Aku hanya ingin melihat Mama, kemudian pamit dan mengucapkan Terima kasih”, jawab Mila untuk meyakinkan Farhan.


“Jika mereka mencegahmu bagaimana?”, tanya Farhan yang masih ragu untuk menyetujui permintaan Mila.


“Itu tidak akan terjadi. Karena Mas Angga telah mengetahui jika Flashdisk itu aku berikan pada kakak. Jadi kemungkinan mereka sudah tahu jika aku adalah musuh mereka sekarang”, jawab Mila yang masih terus meyakinkan Farhan bahwa dia bersekutu dengan Farhan.


“Tapi.....”, Farhan yang masih tetap berusaha menghentikan keinginan Mila.


“Udahlah kak. Apa susahnya sih anterin aku. Kalau kakak nggak percaya denganku ya sudah! Percuma aku udah capek-capek nyimpan rahasia itu (flashdisk-nya)”, ucap Mila yang berusaha terlihat kesal pada Farhan.


Dan Akhirnya, Farhan pun menyetujui permintaan Mila. Dari pada harus melihat Mila jutek padanya. Mereka pun kembali dan melesat ke arah rumah sakit di mana Mama Siska di rawat.


Dan setelah beberapa lama di perjalanan, mereka pun sampai di rumah sakit. Awalnya, Farhan ingin menemani Mila untuk menemui keluarga suaminya. Namun, Mila menolaknya serta mengancam Farhan bahwa dia akan berubah pikiran jika Farhan tidak mempercayainya. Akhirnya, mau tidak mau dia pun menuruti Mila.


Mila berjalan memasuki rumah sakit tersebut. Ia mencari informasi keberadaan ibu mertuanya. Setelahnya, ia pun langsung bergegas mencari di mana Mama Siska berada.


Sesampainya di sana, dari kejauhan Mila melihat Papa Roy dan Angga yang sedang melamun. Terlihat wajah mereka begitu lesu. Apalagi saat ia melihat Angga yang tangannya di balut perban. Mungkin tangan Angga terkena luka bakar, itu yang dipikirkan Mila.

__ADS_1


Dan tak di sengaja tiba-tiba Angga pun melihat ke arah Mila. Beberapa saat mereka saling bertatapan. Setelah itu, Angga berdiri dari duduknya. Ia pun berjalan ke arah Mila.


Mila yang tengah melihat Angga jalan mendekatinya menjadi deg-degan. Dengan segala pikiran yang menyelimutinya ia menunggu sampai Angga benar-benar dekat dengannya untuk mengetahui apa yang akan Angga lakukan padanya.


Namun, semua yang telah Mila pikirkan buyar saat Angga hanya melewatinya begitu saja. Tanpa melihat dirinya atau bahkan sekedar melirik. Mila mencoba menahan dirinya. Walau dunia terasa runtuh tapi ia tetap harus bertahan.


“Oke Mila! Ayo kuatkan dirimu!”, ucap Mila dalam hati untuk mendukung dirinya sendiri.


Mila pun berjalan mendekati Papa Roy. Dan Papa Roy yang tengah duduk mendongak ke atas melihat Mila yang ada di hadapannya. Sebenarnya Mila benar-banar takut jika Papa mertuanya akan marah padanya.


Tapi, Papa Roy malah menyuruh Mila untuk duduk di sampingnya. Akhirnya Mila pun bisa bertanya tentang kondisi Mama Siska saat ini. Ia benar-benar merasa khawatir. Andai dia tahu jika Baron dan Farhan merencanakan pembakaran itu. Pasti Mila akan memperingatkan mereka dan Mama Siska tidak akan sampai jatuh sakit seperti saat ini.


“Mama kamu, sudah mendapat pertolongan pertama. Jadi, kita tinggal lihat perkembangannya saja nanti”, jawab Papa Roy.


Sreeek! Tirai jendela yang berada tepat di belakang ruang tunggu di buka oleh suster jaga. Mila pun dapat melihat Mama Siska yang sedang terbaring di dalam sana. Mila pun semakin merasa bersalah saat melihat kondisi Mama Siska. Ia sangat sakit hati dengan perlakuan yang terlampau melewati batas itu. Mila harus bisa membuat orang-orang itu menerima hukumannya dengan caranya sendiri. Ia tahu, bagaimana Papa Roy masih menganggap Baron itu sahabatnya.


Mila menyunggingkan senyumannya sesaat teringat kata sahabat untuk Baron. Tidak, Baron tidak pantas di juluki seorang sahabat. Seharusnya Papa Roy sudah bisa mengambil tindakan. Dari Angga yang di hajar dan hilang ingatan, Reina yang menjadi sasaran tembak dan di tipu oleh Farhan, dan kini Mama Siska yang hampir kehilangan nyawanya. Menurut Mila, ini sudah tidak boleh dibiarkan lagi. Makanya, siapa pun tidak yang boleh tahu rencananya terutama Papanya. Yang ada Papa Roy akan terus menghentikannya.


Mila tidak punya banyak waktu. Ia ngambil Flashdisk-nya dan langsung memberikannya ke tangan Papa Roy. Tentu saja Roy sangat bingung. Ia bertanya namun, Mila enggan untuk menjawabnya.


Dan setelah agak jauh dari ruangan tadi, Tiba-tiba ada yang menarik tangan Mila. Orang itu ternyata adalah Reina. Reina menarik Mila hingga ke balik tembok agar tidak terlihat oleh siapa-siapa.


“Apa yang kamu lakukan Mil? Apa kamu merencanakan sesuatu?”, tanya Reina tanpa basa-basi lagi.


“Maaf Rei, kamu tidak perlu tahu”, jawab Mila yang sok tegas.


Reina tersenyum jengah sambil memijat dahinya, “Kamu tau kan? Tujuan kita sama! Sama-sama ingin membongkar kebejatan si Baron itu! Tapi, kenapa malah kamu bertindak sendiri dan memberikan satu-satunya bukti kita pada musuh! Kamu taukan, betapa tercorengnya nama Papa sekarang?”


Mila tidak menjawabnya. Ia langsung bergegas meninggalkan Reina. Reina sangat tidak senang. Ia tidak puas karena tidak mendapat jawaban dari Mila. Ia pun berlari mengikuti Mila yang hampir masuk ke lift.


“Mila tunggu!”, ucap Reina yang dapat menangkap tangan Mila lagi.


“Kamu nggak tau seperti apa Baron sebenarnya! Rahasia apa yang di sembunyikannya! Tidak Rei, kamu tidak perlu ikut campur!”, jawab Mila yang kesal karena Reina mencoba mencegahnya.

__ADS_1


Mila sama sekali tidak mau di cegah. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertemu dengan Baron dan membongkar kejahatannya pada Farhan. Agar Farhan tidak menyalahkan Papa Roy lagi. Dan juga Tasya, ia juga telah menjadi boneka Baron dengan dalih membantunya membalaskan dendam adiknya.


Kemudian, pintu lift pun terbuka. Dan menampakkan sosok di dalamnya yaitu Farhan. Farhan keluar dari lift dan mendekati Mila.


“Ayo Mil, kita harus segera pergi”, ucap Farhan dengan menarik tangan Mila.


“Tidak! Kamu tidak boleh membawanya! Di masih bagian dari keluarga kami!”, jawab Reina yang tidak terima.


Farhan menyunggingkan senyumnya yang mengejek Reina, “Ayo Mil”.


“Lepasin aku Rei, aku harus pergi!”, ucap Mila yang masih berusaha tegas.


“Tidak! Kamu masih berhutang penjelasan padaku!”, jawab Reina yang masih tidak ingin melepaskan Mila.


“Lepas saja!”, ucap suara yang berat dari kejauhan.


Itu adalah Angga. Ia melihat kegaduhan itu dari kejauhan. Ia pun melangkah mendekati ketiga orang itu.


“Lepaskan dia Rei”, ucap Angga lagi.


“Tapi kak...”


“Lepaskan! Kakak bilang lepaskan, ya lepaskan!”, bentak Angga karena tidak dapat menahan amarahnya lagi.


Reina pun perlahan melepaskan tangan Mila. Farhan tersenyum ke arah Mila dan Angga. Ia merasa telah menang dari dua orang yang merasa berkuasa itu. Angga pun menarik Mila ke dalam Lift.


Mila masih saja melihat Angga dan begitu juga sebaliknya. Mereka saling bertatapan. Di hati masing-masing sebenarnya mereka tidak rela terpisah seperti ini. Tapi, kini Angga menganggapnya hanya sebagai pengkhianat.


“Mas Angga. Sebenarnya aku sangat rindu ingin di dekat kamu Mas. Andai saja aku bisa memelukmu. Mungkin aku akan jauh lebih kuat untuk menghadapi Baron nanti”, ucap Mila dalam hati.


Dan pintu Lift pun tertutup.


***

__ADS_1


Maaf ya bebeb.. bebeb... author nya lagi kesurupan sama virus-virus. Makanya jadi meriang, jadi g sempet buat Update beberapa hari ini... harap maklum ya...


__ADS_2