Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab Spesial 8. Surat Undangan 2


__ADS_3

Reina dan Angga berlari mengikuti para perawat yang membawa bangsal beserta Mila di atasnya. Mila langsung di bawa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Lalu seorang dokter wanita pun datang untuk memeriksa kondisi Mila. Dan anehnya, Reina seperti pernah melihat dokter itu. Ia terus mengingat-ingat wajah itu tapi tak juga kunjung ingat.


"Ngga, ada apa dengan Mila?" tanya Frans yang baru saja tiba.


"Aku juga nggak tau Frans. Dia pingsan saat di Mall bersama Reina", jawab Angga cemas sambil melihat Mila yang tengah di periksa dari sela tirai.


"Ya, sudah. Kalau gitu kita tunggu aja hasil pemeriksaannya".


Deg, deg, deg. Jantung Reina sudah berdetak sangat kuat sejak ia melihat Frans datang. Reina terus memandangi Frans. Tapi, Frans sedikit pun melihat ke arah Reina.


Ayo kak lihat aku. Lihat kemari.., ucap Reina dalam hati.


Beberapa saat kemudian, dokter itu pun selesai memeriksa Mila. Para perawat membuka tirai yang mereka tutup tadi saat memeriksa Mila.


"Bagaimana keadaan Mila, Dokter Friska?", tanya Frans lebih dahulu.


"Alhamdulillah, ibu dan bayinya baik-baik saja. Mungkin ibu Mila kelelahan dan terlambat makan. Maklum, biasanya ada beberapa ibu hamil yang mengalami masalah di lambungnya", tukas Friska dengan nada yang lembut.


Angga pun menghela napasnya, lega mengetahui kondisi istri dan calon anaknya baik-baik saja. Ia mengusap wajahnya sambil mengucap syukur. Tapi, berbeda dengan Reina yang terkejut saat mengetahui dokter itu adalah Friska teman lama atau mungkin mantan kekasih Frans yang bertemu dengannya saat ke bioskop.


Reina pun langsung berdecak kesal. Rasanya geram sekali melihat wanita itu berada di sini. Apalagi dia itu seorang dokter juga dan bekerja di tempat Frans bekerja. Apakah mereka benar-benar berjodoh? Entahlah. Tapi, yang jelas Reina sangat membenci wajahnya. Rasanya ia ingin pergi saja dari tempat itu.


Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Benar kata Mila, aku harus berusaha mengambil hati Kak Frans lagi. Tapi, aku malu... Nggak, kamu nggak boleh begini Rei. Kak Frans milik kamu dan hanya milik kamu. Kamu nggak boleh kalah dari wanita sok cantik itu! ungkap Reina dalam hatinya yang sedang dongkol.


Lalu, Reina pun memberanikan dirinya untuk mendekati Frans. Ia menyelinap di antara Angga dan Frans. Ia ingin menunjukkan pada Friska bahwa seberapa dekat ia dengan Frans. Dan setelah ia berhasil nimbrung diantara kedua pria itu, Angga malah berjalan mendekati istrinya. Ya, tidak apa-apalah, wajar dong. Tapi, tanpa basa-basi, tanpa sepatah kata, Frans juga pergi dari sana. Hati Reina langsung sakit rasanya. Ia sudah seperti hantu yang tak tampak lagi di pelupuk mata Frans.


Reina tersenyum miris. Yang ia bayangkan ternyata tidak seperti kenyataannya. Kesakitan hatinya itu membuat dirinya tidak terima di perlakukan Frans seperti itu.

__ADS_1


Ada apa sih sama Kak Frans? Tega-teganya dia giniin aku! Nggak, Nggak! Aku nggak terima nggak di anggap kayak gini! Aku harus menanyakan hal ini padanya! Ucap Reina dalam hati dengan wajah kusutnya dan keningnya yang mengerut.


Reina pun berlari menuju ruangan Frans. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membukanya dan nyelonong masuk tanpa permisi. Frans yang tengah sibuk melihat berkas-berkas di mejanya langsung melihat sumber suara itu. Saat tahu bahwa itu Reina, ia kembali melihat berkas-berkas itu lagi.


"Apa maksud kakak melakukan ini padaku?", tanya Reina dengan kesal.


"Bisakah kamu mengetuk pintu dulu saat ingin masuk? Di sini punya aturan. Tidak bisa suka-suka", jawab Frans ketus.


Reina pun menaikkan sudut bibirnya sambil melipat tangannya di dada. "Sejak kapan kakak memberiku peraturan semacam ini? Biasanya juga kakak nggak pernah marah".


"Kalau tidak ada keperluan yang lain, silahkan keluar", jawab Frans tanpa sedikitpun melihat ke arah Reina.


Reina menjadi ternganga di buat Frans. Saat ia hendak mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba pintu itu terbuka lagi. Dan masuklah Friska menyelonong begitu saja dan langsung duduk di hadapan Frans.


"Ada apa Fris? Kok kamu senyum-senyum gitu sih", ucap Frans sambil tersenyum pada Friska.


Tentu saja Reina merasa cemburu bukan main. Barusan saja Frans marah padanya karena masuk tanpa permisi. Sedangkan Friska, ia malah mendapatkan senyuman dari Frans.


Apa? I..itu surat undangan? Jangan-jangan Frans mau menikah dengan Friska! Ti...tidak, tidak mungkin! ucap Reina dalam hati.


"Kamu yakin aku aja yang milih nih? Biasanya-kan calon mempelai wanitanya yang paling antusias milih surat undangannya", jawab Frans sambil senyam-senyum pada Friska.


Melihat kejadian romantis di depan matanya itu, seketika mata Reina berkaca-kaca. Ia sudah tidak tahan lagi untuk tetap berdiri di sana. Ia pun berbalik dan berlari meninggalkan ruangan Frans itu. Sampai ia terhenti dan bersandar di balik tembok dan menumpahkan semua rasa sedih di hatinya.


***


"Hu..hu..hu..", tangis Reina di kamarnya.

__ADS_1


Hingga malam tiba Reina tidak keluar juga dari kamarnya walaupun sudah di panggil. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Reina. Tapi, yang jelas tangisannya terdengar hingga keluar.


"Aduh, Reina kenapa sih? Udah gede masih galau aja..", ucap Mama Siska sambil menutup telinganya.


Sedangkan Papa Roy memakai headset-nya mendengar berita di hp-nya sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Headset Papa Roy cukup mutahir.


"Gini aja, sekarang aku aja yang mencoba bujuk Reina ya", ucap Mila yakin.


Karena sejak tadi mereka gagal membujuk Reina, kini tiba saatnya untuk Mila beraksi. Yang lain pun menyetujuinya karena tidak ada pilihan lain. Angga pun menyuruh Mila untuk berhati-hati karena ia barusan pingsan tadi.


Tok, tok.


Mila mengetuk pintu kamar Reina. "Rei, ini aku Mila. Apa aku boleh masuk? Mungkin kamu butuh teman untuk mendengar keluh kamu", ucap Mila dengan nada yang penuh khawatir.


Ya, memang benar. Sekarang yang di butuhkan Reina adalah seseorang yang mau mendengar ceritanya. Tidak mungkin ia bercerita pada Mama, Papa dan Angga. Yang ada dia akan semakin di sudutkan dan di ejek. Tau sendiri keluarganya kayak apa. Satu-satunya orang yang benar-benar bisa dia andalkan adalah Mila. Maka, ia pun membukakan pintu untuk Mila dan membiarkannya masuk.


Reina kembali duduk dan bersedih. Mila jadi tidak tega melihatnya. "Rei", panggil Mila dengan lembut.


"Aku...aku udah gagal Mil, hiks", ucap Reina sambil menangis.


"Kamu tenang dulu ya, Rei. Kamu tarik napas dulu, tenang, baru kamu cerita", pinta Mila agar Reina lebih rileks.


Reina pun mengikuti arahan yang diberikan Mila. Dan setelah menghembuskan napas yang ke sekian kalinya, ia pun merasa agak tenang.


"Nah, kalau udah tenang gini-kan jadi enak ceritanya", ucap Mila lagi.


Reina membuka matanya dan menatap Mila. Tapi, yang ada raut wajah Reina kembali sedih, "Huaaa, Kak Frans, Mil. Kak Frans mau menikah sama wanita lain! Huuaaa!"

__ADS_1


"Ha? Apa?", Mila pun ikut terkejut.


***


__ADS_2