
“Mas...”, panggil Mila yang tubuhnya menegang karena sentuhan dari Angga.
Seketika Angga pun sadar dan langsung meminta maaf pada Mila karena telah menikmatinya. Mila tidak bisa bilang apa-apa lagi. Dirinya pun telah merasakan hal yang aneh lagi. Mungkin karena Mila pernah melakukannya dulu bersama Angga. Maka dari itu tubuhnya seakan memberi signal untuk melakukannya kembali. Yah, tentu saja Mila juga tidak akan pernah bagaimana rasanya.
Mila pun kembali melakukan mobilnya perlahan. Dan sampailah mereka di parkiran apartemen. Angga memberikan kuncinya pada Mila. Kemudian, Mila membantu Angga untuk sampai ke apartemen.
Saat di pintu telah dibuka, dengan sempoyongan Angga langsung masuk dan terus menuju kamar mandi. Mila sampai keheranan dibuatnya. Mila pun duduk di tepi kasur sambil mendengarkan suara air dari kamar mandi.
“Sebenarnya Mas Angga kenapa ya? Kok buru-buru masuk kamar mandi sih? Kalau di perhatikan dari tadi sih sepertinya dia sedang... Hah? Apa kak Angga di dalam sana sedang begituan?”, ungkap Mila dalam hatinya.
Dan tidak lama kemudian, Angga pun keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di bagian bawah tubuhnya. Mila sampai ternganga dibuatnya. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Tubuh Angga dari luar terlihat agak kurus. Namun, saat ini Mila melihat lagi otot-otot indah itu. Maksudnya, tidak berotot seperti binaragawan ya.
Mana di tambah lagi Angga yang habis di guyur oleh air. Itu menambah keindahan di tubuhnya. Alih-alih Mila malah menelan salivanya sangking seleranya. Lalu, Angga pun berjalan mendekati Mila. Wajah Mila sudah mulai kemerah-merahan. Ia pun menundukkan kepalanya karena malu. Dan duduklah Angga di sebelah Mila.
“Maaf ya, aku harus seperti ini. Soalnya tadi baju saya basah semua”, ucap Angga yang tidak enak pada Mila.
Angga hanya tidak ingin jika Mila kecewa padanya. Angga juga tidak mau membuat Mila merasa takut padanya lagi.
“Gak apa-apa Mas. Tapi, sekarang kamu sudah sadarkan?”, jawab Mila yang mencoba baik-baik saja.
Angga menganggukkan kepalanya. “Ya sudah. Saya ambil baju dulu ya”, ucapnya hendak berdiri.
__ADS_1
“Eh, biar aku aja Mas, yang ambilkan”, potong Mila dan langsung bergegas menuju ke lemari. “Em, tapi... pengaruhnya sudah benar-benar hilang gak Mas?”
“Saya juga tidak tahu Mil. Ini juga pertama kali saya merasakannya. Eh, tapi makasih ya. Kamu datang di saat yang tepat....”, kemudian Angga berhenti berbicara.
“Sial! Ternyata masih bereaksi. Sebenarnya bagaimana sih cara kerja obat ini?”, ucap Angga dalam hati.
Mila berjalan kembali ke hadapan Angga dengan membawa pakaian. Ia merasa heran melihat Angga yang sedang tertunduk. Mila pun duduk di samping Angga.
“Mas, ada apa?”, tanya Mila khawatir.
“Mil, coba kamu telefon Reina. Suruh dia cari obat penangkal dari obat yang saya makan tadi”, ucap Angga yang masih menundukkan kepalanya.
Mila menarik napas dalam-dalam, “Gimana kalau aku saja yang jadi penangkalnya”.
Yah, Angga langsung melihat wajah Mila. “Kamu tidak perlu mengorbankan ketidakinginanmu hanya karena kasihan kepada saya”, jawab Angga. Padahal sebenarnya dirinya pun juga ingin sekali jika tubuh Mila menjadi obatnya.
“Kamu salah Mas. Aku sadar dari awal, aku telah jatuh cinta denganmu. Hanya saja, perlakuanmu saat itu begitu membuat hatiku terluka”, kata Mila dengan memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengingat kejadian saat ia pertama kali melakukan hubungan intim itu bersama Angga dan kemudian, Angga memakinya habis-habisan.
Yah, Angga sadar dirinya telah sangat jahat pada Mila. Padahal Mila adalah wanita yang sangat baik dan Angga lah yang telah menghancurkan kehidupan Mila. Angga benar-benar sungguh menyesalinya. Ia memegang pipi Mila dan menuntun Mila untuk melihat kearahnya.
“Mil, saya sungguh-sungguh menyesal. Tapi, yang harus kamu ketahui, saya pun telah jatuh cinta denganmu”, kata Angga dengan begitu lembut.
__ADS_1
Kini tangan Angga bergerak meraba hingga tengkuk Mila. Ia memajukan wajahnya mendekati wajah Mila. Dan tidak ada penolakan dari Mila. Lalu, bibir keduanya pun saling bertautan.
Keduanya pun saling menikmati hingga mata mereka pun tertutup. Angga memegang kedua tangan Mila, dan menaruhnya melingkari lehernya. Setelah itu, tangan Angga berada di punggung Mila sambil mengelus-elus.
Perlakuan Angga terhadap Mila sangatlah lembut. Mila begitu terbuai dibuatnya. Dan akhirnya, Angga melepaskan tautan itu. Mereka sama-sama mengatur napas. Angga pun mengusap bibir Mila karena basah. Yah, Angga terlalu dalam melahap bibir yang indah itu tadi.
“Kamu yakin?”, tanya Angga lagi untuk memastikan Mila benar-benar yakin pada keputusannya.
Bagaimana tidak? Bahkan Mila juga sudah sangat menginginkannya hanya karena ciuman tadi. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Angga tersenyum lega. Dan perlahan menuntun Mila berbaring di tempat tidur untuk melakukan hubungan sepasang suami-istri. Malam itu, benar-benar malam yang indah bagi mereka.
Mila begitu menikmati malam itu bersama Angga. Dan juga sebaliknya. ******* demi ******* pun menggema di kamar itu. Setelah keduanya mencapai puncaknya, mereka pun terkulai lemas. Mila sampai tidak sadarkan diri lagi sangking lelah dan mengantuk.
Angga melihat wajah Mila yang begitu cantik. Ia tersenyum sambil membelai pipi Mila. Kemudian, ia pun mengecup kening Mila. "Makasih sayang".
***
(Mohon maaf ya guys. Saya tidak menulis tentang cara membuat anak di novel saya ini. Mohon di maklumi ya.)
Terima kasih untuk pada pembaca setia novel saya ini. Tanpa kalian novel saya ini bukan apa-apa.
__ADS_1