Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 65. Kak Han


__ADS_3

Flashback On saat Mila masih duduk di bangku kelas 5 SD.


Triiiing! Suara bel berbunyi pertanda waktu istirahat telah tiba. Mila buru-buru membuka bekal makanannya yang telah di siapkan oleh sang ibu. Senyumnya merekah kala ia melihat donat dengan baluran tepung gula yang manis. Ia sangat suka donat buatan ibunya itu.


“Wih, Mila bawa donat nih”, ucap Risa salah seorang teman sekelasnya. “Bagi ya Mil, pasti enak banget”.


“Boleh Ris...!”, jawab Mila sambil memberikan satu buah donat pada Risa.


“Aku juga mau dong!”


“Aku juga!”


Tiba-tiba ada empat anak perempuan juga mendatangi Mila saat tahu Mila memberikan donat untuk Risa. Namanya juga masih anak-anak. Tentu ada rasa sayang jika semuanya harus di bagi-bagi pada temannya. Mana tinggal 4 donat lagi yang tersisa. Kalau dia memberikan donat itu satu orang satu, tentu ia tidak bisa mencicipi donat buatan ibunya itu.


“Ya sudah, tapi kalian kongsi ya”, ucap Mila yang sebenarnya juga merasa tidak enak.


“Ih, gak mau ah! Masa kongsi sih. Aku maunya satu. Itu, si Risa kamu kasih satu. Masa kita di suruh kongsi?”, jawab ayu nyolot.


“Terus untukku mana? Kalau aku kasih kalian satu-satu?”, kata Mila yang terlihat bingung.


“Ck! Kamu kan nanti pulang sekolah masih bisa makan donat di rumah kamu. Pasti ibu kamu buatnya banyak”, sambung Mona yang juga kesal pada Mila.


“Tau nih Mila pilih kasih banget!”, Lisa ikut bicara.


Begitu pula Wiwik yang sudah menatap sinis pada Mila dan juga Risa. Namun, Mila juga bersih keukeuh untuk tidak membagikan semuanya pada temannya itu. Karena ia juga teramat menyukai donat itu dan ingin memakannya sekarang. Lalu terjadilah perampasan oleh Wiwik. Namun, dengan cepat Mila menarik kotak bekalnya lagi. Mereka pun saling tarik menarik. Wiwik di bantu oleh Mona.


Dan... Brak! Kotak bekal itu pun terjatuh. Seketika rasanya hancur banget hati Mila. Melihat donatnya berserakan di lantai.


“Tuh kan! Jadi jatuh! Kamu sih pelit banget! Rasain!”, ucap Wiwik yang tidak ada rasa bersalahnya malah menyalahkan si pemilik donat.


“Wuuu! Mila pelit!”


“Mila pelit!”

__ADS_1


Ucap ke empat temannya itu sambil menginjak donat yang telah terjatuh itu. Kemudian, mereka pun berjalan keluar kelas dengan masih tetap mengejek Mila menyebut Mila pelit.


Mila hanya bisa menangis saat itu. Tidak ada yang membelanya. Dan teman-teman yang lain juga ikut-ikutan mengejeknya. Tapi, ya. Anak-anak itu hanya berpikir lucu membuat Mila sampai menangis.


***


Tidak hanya di kelas, namun pada saat pulang sekolah teman-temannya masih mengejek Mila. Mila tetap berjalan dengan menahan kesedihannya sampai keluar pintu gerbang sekolah.


Tidak puas dengan mengejeknya, teman-temannya yang berada di belakangnya sambil mengejek itu, salah seorang dari mereka mendorong Mila sampai terjatuh. Bukannya merasa bersalah, malah mereka menertawakan Mila dan setelah itu meninggalkannya.


Mila merintih kesakitan, karena lutut dan siku tangannya terluka. Dan saat ia ingin berdiri, ia melihat tangan seseorang di depannya. Ia melihat ke atas untuk melihat siapa yang hendak menolongnya itu. Dan... deg..deg..deg... Jantung Mila langsung berdegup dengan kencang.


“Sini, biar kakak bantu”, ucap Farhan sambil tersenyum.


Mila nggak menyangka pria yang cukup populer di desa dan sekolah itu tengah berada di hadapannya. Memang mereka tidak satu sekolah. Namun, sekolah Farhan tepat di seberang sekolah Mila.


Dengan malu-malu Mila meraih tangan Farhan atau yang selalu di sebut Han. Ya, di desanya Farhan lebih di kenal dengan sebutan Han. Ia anak yang baik, pintar dan tentunya tampan. Melihat wajahnya saja, Mila lupa akan perihnya luka di kaki dan tangannya.


“Mana yang sakit?”, tanya Han dengan lembut.


***


“Kamu kenapa kok cemberut gitu sih?”, tanya Han pada Mila.


Ya, dari kejadian itu Han jadi dekat dengan Mila. Mereka mengaku kakak dan adik pada teman-teman yang lain. Walaupun sebenarnya Mila berharap lebih pada Han.


“Nih”, ucap Mila kesal sambil menunjukkan beberapa surat yang ada di tangannya. “Semua teman-teman aku pada nitip ini untuk kakak. Aku kesel kak, mereka selalu nanya-nanya kakak ke aku”.


Han pun tersenyum dan mengambil surat-surat itu lalu menyimpannya ke dalam tas. Kemudian, ia mengusap-usap kepala Mila pertanda kegemasannya pada Mila.


Tidak lama kemudian, sampailah mereka ke rumah Mila. Dan saat Han ingin pamit setelah mengantarkan Mila, Husna ibunya Mila memanggil Han.


“Tunggu Han, Bibik mau nitip soto ke sukaan ibu kamu. Tunggu ya, Bibik siapkan dulu. Kamu duduk dulu”, ucap Mama Husna sambil berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


Dan akhirnya Han pun duduk di teras rumah itu dengan di temani Mila yang sedari tadi melamun melihat wajah Han. Han tersenyum melihat Mila yang sedang melihatnya. Sangat jelas Mila senyam-senyum pada Han.


“Kamu ngapain Mil?”, ucap Han yang membuyarkan lamunan Mila.


Mila sampai salah tingkah di buatnya. Alih-alih ia malah berusaha untuk tetap tenang. “Nggak, aku heran aja. Apa sih yang di lihat cewek-cewek itu dari kakak?”, ucap Mila mengalihkan.


“Emangnya apa yang Mila lihat dari kakak?”, tanya Han yang ingin menggoda Mila dengan mendekatkan wajah pada Mila.


Seketika Mila langsung membelalakkan matanya. Jantungnya juga langsung berdegup dengan kencang.


“Ganteng banget....!”, ucap Mila dalam hati.


“Em.., nggak ada biasa aja!”, jawab Mila berpura-pura tenang padahal gugup setengah mati.


Lagi-lagi Han di buat tersenyum. Lalu, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Yaitu, sebuah coklat dan di berikan nya pada Mila.


“Untuk aku kak? Tapi, ini kan harganya mahal. Kakak beli di mini market dekat jalan lintas ya? Trus kakak dapat uang dari mana?”, begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Mila.


“Udah Terima aja. Masa udah di kasih, banyak banget pertanyaannya” jawab Han yang nggak tau harus jawab apa.


“Hehehe... Makasih ya kak Han yang baik hati.....”, ucap Mila sambil tersenyum manja.


“Oh ya, kamu punya tugas yang sulit lagi gak?”, lanjut Han.


“Enggak. Sekarang semuanya ja....uh lebih mudah. Berkat kak Han yang selalu ngajarin aku”, jawab Mila dengan senang.


Tak lama, Mama Husna datang dan memberikan sebuah rantang yang cukup berat pada Han. Dan setelah itu, Han pun pamit pulang. Setelah pulang, Mila langsung masuk ke dalam rumah buru-buru.


"Buru-buru banget Mil? Sampai lari begitu?", ucap Mama Husna heran melihat Putrinya yang tampak kegirangan.


Mila tidak menjawab Mamanya. Ia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Mila merebahkan dirinya di kasur sambil melihat-lihat coklat pemberian Han. Sesekali ia menciumi coklat itu serta memeluknya dengan girang. Bahkan ia merasa sayang untuk memakannya.


(Ya elah... masih kecil kali Mil... udah cinta-cintaan. Pipis aja belom lurus! "author jeles")

__ADS_1


Mila tidak tahu saja jika Han telah mengumpulkan uang jajannya selama seminggu untuk membeli Coklat mahal itu. Setelahnya Han dan Mila pun semakin dekat.


***


__ADS_2