Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 39. Merebutkan Mila


__ADS_3

Farhan benar-benar marah saat itu. Ia begitu gelisah di dalam mobil. Ia mengendarai mobil itu sangat cepat menuju rumah sakit. Ia kembali mengingat kejadian 15 tahun yang lalu. Di mana Mila juga sempat di ganggu oleh anak buahnya saat pulang sekolah. Farhan sangat tidak suka jika Mila dalam masalah. Ia langsung menghajar habis-habisan anak buahnya dan memperingatkan mereka untuk tidak pernah menyentuh Mila seujung kuku pun.


Saat itu ia begitu khawatir. Ia begitu menyukai Mila. Tapi, ia tidak bisa setiap saat berada di sisi Mila. Ia memiliki jalan hidup yang lain yang harus ia jalani. Makanya, ia memberikan nomor hp-nya agar Mila bisa menghubunginya jika ada bahaya yang mengancamnya. Dan sampai detik ini Farhan tidak pernah berniat untuk mengganti nomor hp-nya hanya demi Mila. Tapi, sayangnya malah karena dirinya Mila dalam bahaya.


Beberapa saat kemudian, sampailah Farhan di rumah sakit. Ia telah mengganti kemejanya yang berlumuran darah Justin dengan kemeja yang baru. Lalu, Ia mendengar jika Mila sedang di operasi. Ia pun bergegas ke ruang operasi.


 Sesampainya di sana, ia melihat semua anggota keluarganya telah berkumpul. Reina yang melihat Farhan langsung mendekatinya dan memeluknya sambil menangis. Saat itu, Farhan sungguh-sungguh enggan untuk memeluk Reina. Tapi, ia harus tetap berpura-pura peduli pada Reina. Ia pun dengan terpaksa membalas pelukan Reina.


“Bagaimana kondisi Mila?”, tanya Farhan kepada Reina.


“Dari mana saja kamu? Kenapa baru datang?” tanya Angga penuh kecurigaan.


Reina pun melepaskan pelukannya. Ia juga ingin tahu jawaban dari Farhan. Kali ini, Farhan harus berhati-hati dalam berbicara apalagi menjawab pertanyaan mereka. Misinya belum selesai makan dari itu, ia tidak boleh dicurigai.


“Saya... Saya mengejar penjahat itu”, jawab Farhan.


Semua mata pun tertuju padanya. Mereka tidak menyangka sama sekali jika Farhan mengejar orang yang telah menembak Mila itu.


“Saat keluar dari gedung bersama dengan Kak Angga, saya melihat penjahat itu melarikan diri. Jadi, saya berusaha untuk menangkapnya. Tapi, saya tidak berhasil. Saya cari ke mana-mana saya tidak dapat menemukannya”, sambungnya dengan wajah menyesalnya.


Saat Angga ingin berbicara, Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Mereka pun cepat-cepat mengerumuni dr. Frans yang baru keluar.


“Frans, gimana kondisi Mila?”, tanya Mama Siska yang berada paling dekat dengan dr. Frans.

__ADS_1


“Alhamdulillah operasinya berhasil Tante. Dan Mila sudah melewati masa kritisnya. Ini semua berkat doa kalian”, ucap Frans tersenyum sambil memegangi tangan wanita paruh baya itu.


Semua orang bersyukur dan bersukacita. Mereka benar-benar senang Mila bisa selamat. Begitu pula dengan Reina yang spontan memeluk Frans sebagai ucapan Terima kasih dan bahagianya.


Saat itu, jantung Frans terasa tidak karuan. Tapi, ia langsung mengabaikannya. Karena bukan waktu yang tepat untuk merasakan hal itu. Ia hanya membiarkan Reina memeluk anya. Kemudian, Angga juga memeluknya serta berterima kasih padanya.


“Sebagai gantinya, kamu boleh minta apa saja dariku”, ucap Angga pada Frans.


“Mm, gimana kalau aku minta Mila”, jawabnya spontan.


“Hei! Dasar brengsek! Sampai matipun tidak ada satu orang pun yang bisa mengambil Mila dariku!”, jawab Angga sangat marah.


“Dasar anak tidak tahu diri! Lagi sedih, sempat-sempatnya bercanda”, ucap Mama Siska sambil memukul-mukul punggung Frans.


Namun, tidak dengan Farhan. Ia begitu marah saat Frans berkata meminta Mila untuknya. Tapi, ia hanya bisa diam dalam marahnya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Terlebih saat Angga berkata tidak ada seorangpun yang bisa mengambil Mila darinya.


“Oke.. Oke... Stop! Aku kan cuma bercanda”, jawab Frans tersenyum geli sambil menahan sakit. “Lagi pula apa yang bisa aku minta darimu? Bahkan Reina juga sudah punya suami sekarang”, lanjutnya sambil menepuk-nepuk pundak Angga. “Ya sudah. Aku mau ke ruanganku dulu. Ah...! Lelah sekali”, keluhnya sambil berjalan dan memegangi lehernya yang telah terasa tegang itu.


Angga tahu apa yang sedang dimaksud oleh Frans. Tapi, selain dia, anggota keluarga hanya menganggap itu sebagai lelucon saja.


“Keluarga ibu Mila!”, panggil seorang dokter. “Satu orang boleh menemani ibu Mila ya, di ruang pemulihan”, tambahnya kemudian, ia masuk ke ruangan itu lagi.


Awalnya Angga-lah yang ingin masuk ke ruang pemulihan untuk menemani Mila. Namun, Reina memohon pada Angga agar dirinya lah yang menemani Mila. Dengan begitu, Angga pun menyetujuinya. Reina pun begitu senang mendapatkan izin dari kakaknya. Ia pun segera masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Lalu, Angga pergi dari sana. Ia berjalan mencari ruangan Frans. Tanpa mengetuk pintu, ia pun masuk ke ruangan itu. Di lihatnya Frans sedang memejamkan matanya dengan bersandar di kursi. Frans tidak terkejut sama sekali. Karena ia tahu siapa yang ada di hadapannya sekarang.


“Maaf telah membuatmu sedih. Sebagai sahabat aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat Reina jatuh hati padamu”, ucap Angga menyesal.


Frans menarik napas panjang. Ia pun terbangun, “Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lagi pula aku memiliki banyak wanita di dalam hidupku”.


“Kamu berpikir wanita-wanita itu adalah obat untuk hatimu yang hancur-kan? Padahal satu-satunya obat untuk hatimu adalah Reina. Kamu seperti itu juga karena Reina-kan?”, ungkap Angga.


Ya, memang benar. Frans memang selalu merasa dirinya tidak pantas untuk Reina. Ia hanyalah pria yatim piatu, yang hidupnya selama ini di biayai kedua orang tua Reina sampai ia bisa menjadi dokter yang sukses. Apalagi yang kurang dari banyaknya pemberian mereka? Makanya Frans mengurungkan niatnya dalam-dalam untuk menyatakan cinta pada Reina.


“Oh iya, saat aku keluar dari gedung, aku melihat Tasya. Apa kamu mengundang dia?”, tanya Frans yang saat itu melihat Tasya sekilas tapi, ia tidak tahu bahwa Tasya hanya melihat mereka dari luar saja.


“Nggak. Aku ngga pernah mengundangnya. Ah, coba aku tanya Reina mungkin dia yang telah mengundang Tasya”, jawab Angga sedikit heran. Mengapa Reina mengundang Tasya ke pernikahan mereka.


"Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah menembak Mila?", tanya Frans lagi.


" Aku belum mendapatkan kabar. Setelah ini aku akan menemui anak buahku. Aku penasaran siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mengincar Reina?", jawab Angga sambil berpikir.


"Apa? Jadi, sebenarnya dia mengincar Reina? Jangan-jangan, demi menyelamatkan Reina, Mila mengorbankan dirinya?".


Angga menganggukkan kepalanya. Semua yang dikatakan Frans itu benar. Kemudian, Frans berdiri dan mencengkram kerah baju Angga.


"Kau harus menemukan orang itu! Aku yang akan menghajarnya habis-habisan!", ucap Frans penuh dendam.

__ADS_1


***


__ADS_2