
Epilog.
Brak! Pintu dari sebuah gedung di dobrak oleh sekelompok orang. Mereka adalah Frans dan anak-anak buahnya. Tentu saja hal itu membuat Justin sangat terkejut. Ia sama sekali tidak tahu jika ada penyerangan.
Beberapa anak buah Justin pun berkumpul. Mereka sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Ada yang memegang balik kayu, bayangan besi dan lainnya.
“Serang!”, teriak Frans.
Kedua kelompok itu pun langsung saling menyerang. Di antara perkelahian itu, salah satu dari anak buah Frans berusaha untuk membuka gembok kerangkeng yang di dalamnya berisi anak buah Reina.
Walaupun terkadang ia di tarik dan di hajar, setelah membalasnya ia kembali membuka gembok itu lagi.
***
Reina berbaring sambil menghadap ke Farhan. Ia hanya bisa melihat bagian belakang tubuh Farhan. Ia juga tidak tahu bagaimana bisa ia mencintai Farhan. Walaupun ia tahu jika Farhan telah banyak menipunya. Reina wanita yang cerdas. Ia selalu cepat mengetahui gerak-gerik seseorang melalui pengamatannya sendiri. Namun, cinta merubah segalanya. Walaupun salah ia tetap menampikannya.
Drrtt.. HP Reina bergetar. Ia mengambil hp-nya di atas nakas dan melihat nama yang ada di layar hp-nya. Reina mengerutkan dahinya melihat nama Frans di sana.
Kak Frans? Ngapain dia tengah malam gini telfon aku? Ucap Reina dalam hati.
Reina kembali melihat Farhan untuk memastikan bahwa aman menjawab panggilan dari Frans. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan agak menjauh dari Frans.
“Halo kak. Ada apa malam-malam gini nelepon aku?”, sahut Reina dengan berbisik di hp-nya.
(“Sorry Rein. Saya cuma mau bilang, kalau anak buahmu sudah aman”, jawab Frans.)
“Haah... Syukurlah. Lalu bagaimana dengan orang yang menangkap mereka?”, tanya Reina lagi masih dengan berbisik.
(“Tenang aja sudah saya urus. Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Tidurlah. Nice dream”, jawab Frans lagi.)
__ADS_1
“Makasih ya kak. Sudah mau membantuku”.
Setelah itu, Frans pun mengakhiri panggilannya. Kini Reina bisa bernapas lega. Salah satu masalahnya telah selesai. Namun, ia menjadi merasa tidak enak pada Frans karena telah menuduhnya kemarin.
Reina kembali ke tempat tidurnya. Ia pun berbaring dan menarik selimutnya. Ia memposisikan badannya membelakangi Farhan. Namun, Reina tidak tahu jika Farhan sebenarnya belum tidur. Ia mendengarkan pembicaraan Reina tadi. Farhan tahu dengan siapa dan mengarah kemana pembicaraan Reina itu.
Sedangkan di kamar yang satunya, Angga masih saja sibuk dengan hp-nya. Reina hanya berpura-pura tidur. Ia mendengarkan semua yang di ucapkan suaminya.
“Dasar goblok! Ngerjai gitu aja gak bisa!”
“Pakai otak dong!”
“Kamu bisa kerja gak sih!”
“Saya pecat nanti kalian semua!”
Yah, Kira-kira seperti itulah Angga berbicara melalui hp-nya. Namun, ia mengucapkannya dengan suara yang paling pelan yang bisa di buatnya walaupun harus merapatkan giginya.
***
“Lepaskan aku! Akan ku balas kau brengsek!”, teriak Justin saat di seret oleh anak buah Frans keluar dari gedung itu.
Frans berniat untuk menahannya sendiri. Kemudian, tiba-tiba seorang wanita keluar dari arah kegelapan. Ia berjalan dan mendekati Frans. Dia adalah Tasya.
“Pasti kamu merasa menangkan sekarang?”, ejek Tasya dengan senyuman di sudut bibirnya.
“Mendengarmu berbicara seperti itu, sepertinya kamu belum melihat video yang ku berikan padamu”, ucap Frans santai sambil melipat tangannya di dada.
“Video? Ah.. Ponsel itu ya? Kamu pikir aku bisa kamu bodohi? Aku tidak akan terpengaruh olehmu!”, jawab Tasya dengan tegas.
Frans tertawa kecil di sudut bibirnya. Ia pun berjalan ingin melewati Tasya. Sambil melewati Tasya, Frans menabrakkan lengannya ke lengan Tasya.
__ADS_1
“Terserah kamu aja! Aku harap kamu tidak akan menyesal”, bisik Frans dan ia berlalu pergi.
Tinggallah Tasya sendirian di sana. Ia berdiri sambil memikirkan apa sebenarnya maksud dari Frans.
***
Pagi harinya, Angga sudah terlihat rapi dengan jas yang dikenakannya. Ia pun menghampiri Mila yang masih berada di atas kasur dan duduk di dekatnya.
“Aku ke kantor dulu ya. Maaf harus meninggalkanmu sendirian di sini”, ucap Angga dengan penuh rasa bersalah dan prihatin.
“Mas, aku ini nggak lumpuh loh. Cuma abis operasi aja kok. Aku juga udah bisa jalan”, jawab Mila kesal.
Mila berpikiran jika Angga menganggapnya sebagai wanita yang punya penyakit parah sampai harus terus-terusan berbaring di kasur. Padahal nyatanya, Mila sudah bisa jalan dan bekas operasinya sudah tidak terlalu sakit lagi.
Hah... Tuhkan pasti melawan lagi! Ucap Angga dalam hati. Padahal Angga khawatir sekali pada Mila. Tapi, Mila menganggap itu hanya hal biasa.
“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi ya”, ucap Angga lembut sambil tersenyum.
Dan saat Angga berbalik, Mila menghentikannya dengan memegang tangan Angga. Angga pun heran dan ia kembali berhadapan dengan Mila.
“Mas, jangan marah-marah ya, sama karyawan Mas. Em, maksudnya.. Dari pada Mas marah-marah tapi tidak membawakan hasil apa-apa malah terlihat buruk di mata karyawan Mas. Lebih baik, Mas memikirkan rencana yang lainnya. Bisa jadi, hal yang kita anggap kecil itu adalah hal yang kita butuhkan sebenarnya”, ucap Mila panjang lebar.
Angga masih diam. Ia terus memandang Mila. Mila pun menjadi ragu dengan apa yang telah di ucapkannya. Mila beranggapan jika Angga marah karena telah sok menasihatinya.
“Oke! Saya janji tidak akan marah pada mereka. Tapi, ada syaratnya”, jawab Angga penuh dengan senyuman licik.
“Apa syaratnya?”, tanya Mila takut.
Lagi-lagi Angga kembali tersenyum.
***
__ADS_1