
Saat ini, Mila dan Reina berada di sebuah ruangan untuk mengganti pakaian mereka dan memperbaiki make up mereka. Ya, mereka mempunyai dua gaun untuk acara penting ini. Kali ini mereka memakai gaun berwarna pink salem.
Tok.. Tok... Tok... Terdengar seseorang mengetuk pintu. Reina pun mempersilahkannya untuk masuk. Ternyata orang itu adalah pelayan. Ia membawakan secarik surat untuk Reina. Dan Reina pun mengambilnya. Ia membaca isi dari surat tersebut yang ternyata dari suaminya. Reina tersenyum membacanya dan membuat Mila penasaran dengan wajah bahagia Reina itu.
“Dari siapa tuh...” tanya Mila menggoda Reina.
“Dari suami...”, jawab Reina malu-malu.
Mila pun tertawa karena geli mendengarnya. Mereka tidak menyangka kini telah menjadi seorang istri. Seakan waktu cepat sekali berlalu.
“Tunggu ya, aku mau nyamperin dia dulu”, ucap Reina yang langsung bergegas pergi.
Mila pun menganggukkan kepalanya pada Reina sambil tersenyum. Tidak ada kecurigaan di hatinya. Kemudian, ia pun melanjutkan untuk merias wajahnya. Mila sangat suka dengan hasil make up-nya. Dalam hati, Reina memang tidak salah pilih MUA (Make Up Artist). Tidak lama kemudian, Mila sudah selesai. Ia berdiri dari duduknya dan melihat dirinya di cermin. Ia begitu cantik bak putri kerajaan. Tidak pernah ia menyangka dirinya seperti ini. Bahkan bermimpi pun tidak. Karena ia tahu latar belakang keluarganya yang bisa di sebut sebagai rakyat jelata itu.
***
Di sisi lain, Reina yang dengan sumringahnya berjalan ke taman belakang hotel itu untuk bertemu dengan Farhan. Ia memikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri.
Tidak lama, sesampainya di halaman belakang Reina tampak bingung karena tidak ada seorang pun di sana. Tapi, Reina tetap berjalan menelusuri halaman belakang itu untuk menemukan Farhan. Sesekali ia memanggil nama Farhan namun, Farhan tetap tidak menunjukkan dirinya.
“Kamu mau ngasih kejutan apa sih? Sampai-sampai harus menghindari orang-orang. Kamu tahu, aku seneng banget sekarang sudah menjadi istri kamu. Farhan! Kamu di mana sih?”, rengek Reina.
Tapi, Tiba-tiba....
Set....
Seseorang dari belakang menangkap Reina dan membekapnya. Reina pun sangat terkejut, ia berusaha melepaskan dirinya. Tapi tubuhnya di tarik ke suatu tempat yang masih di kawasan perhotelan itu. Kemudian, tubuh Reina di hempaskan begitu saja hingga ia tersungkur di tanah. Tidak sampai di situ saja, orang itu pun dengan kuat menampar Reina. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan setetes darah.
__ADS_1
“Siapa kau! Apa mau mu!”, bentak Reina sambil menahan rasa sakit.
Pria itu tersenyum, lalu berjongkok di hadapan Reina. Kemudian, dengan cepat ia menjambak Reina. Kini Reina melihat dengan jelas wajah pria itu yang tak lain adalah Justin. Namun, Reina lupa dengannya. Ia tidak ingat jika pria itu adalah suami Tasya.
“Makanya, jangan suka ikut campur! Kamu tahu, sekarang aku akan membunuhmu”, ucap Justin dengan tertawa.
Justin mengambil sebuah pistol di sakunya. Dan mengarahkannya pada Reina. Tentu Reina sangat takut saat itu. Justin pun melepaskan Reina untuk membiarkan Reina lari. Tapi, pistol itu tetap mengarah pada Reina.
Reina yang ketakutan berusaha untuk kabur. Walaupun kakinya sudah gemetaran. Justin masih menunggu Reina berlari agak jauh darinya. Ia tertawa kuat karena sedang bersenang-senang dengan mainannya.
“Larilah yang jauh! Aku telah mengisi 5 peluru. Dan yang kelima aku pastikan akan mengenalmu. Hahaha”, teriak Justin sambil membidik Reina.
Reina melihat ada jalan untuk menuju hotel, ia pun segera untuk berbelok. Tapi, Justin malah menembakkan pelurunya ke arah Reina.
Dor!
Reina terkejut, tubuhnya seakan kehilangan tenaga. Ia terduduk, seperti orang lumpuh. Ia syok dan terus menangis. Tidak pernah ia menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.
Reina masih beruntung ia tidak tertembak. Ia pun kembali lagi menegakkan badannya dan berusaha berlari lagi. Ia tidak jadi belok di jalan tadi. Dan setiap ia ingin berbelok, Justin selalu menembak ke arahnya. Supaya ia tidak masuk ke dalam hotel.
Di lain tempat, Mila sudah di panggil untuk naik ke pelaminan lagi. Tapi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Reina. Sudah lama sekali Reina tidak kembali. Ia agak khawatir. Namun, seseorang mengingatkannya jika Reina pergi bersama suaminya. Jadi Mila tidak perlu takut.
Mendengar itu, Reina pun setuju untuk naik ke atas pelaminan sendirian. Dan saat Mila melihat pelaminannya, ia pun mematung. Angga yang melihat istrinya dari jauh sudah sangat senang dengan kedatangannya. Tapi, Mila mundur beberapa langkah. Ia tidak percaya jika Farhan berada di pelaminan.
Lalu di mana Reina? Pikir Mila.
Mila membalikkan badannya dan langsung berlari ingin mencari Reina. Angga yang melihat Mila tidak jadi datang kepadanya pun, menjadi panik. Apalagi melihatnya berlari dengan wajah yang ketakutan.
__ADS_1
Angga tidak ingin terjadi sesuatu pada Mila. Dan ia pun ikut mengejar Mila dan membuat semua orang keheranan. Begitu juga dengan Farhan, ia terlihat panik juga.
“Gawat! Jangan-jangan...”, gumam Farhan dan langsung ikut mengejar Mila juga.
Di lain sisi, Mila bingung harus mencari Reina ke mana. Untung saja dia bertemu dengan seorang pelayan yang sedang berjalan membawa makanan.
“Mbak.. Mbak...”, panggil Mila menghentikan pelayan itu. “Mbak tadi ada lihat perempuan pakai gaun seperti ini gak?”, tanya Mila yang sudah sangat gelisah.
“Oh, pengantin yang satu lagi ya Bu? Tadi sih saya jumpa di lift. Di lantai satu Bu”, jawab pelayan itu.
Mila pun sangat berterima kasih kepada pelayan itu dan langsung menuju lift untuk turun ke lantai satu. Di belakang, Angga tidak sempat mengejar Mila yang sudah masuk ke dalam lift. Akhirnya Angga putuskan untuk turun melalui tangga darurat. Begitu juga dengan Farhan ia mengikuti Angga dari belakang.
Sesampainya di lantai satu, Mila langsung mencari keberadaan Reina. Namun, Mila tidak bisa menemukan Reina. Mana lagi, entah mengapa di sana tidak ada satu pun orang. Dan tiba-tiba Mila mendengar suara tembakkan dari arah taman belakang. Seketika jantungnya berdegub dengan kencang. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Reina.
“Reina...!”, teriak Mila sambil berlari ke taman belakang.
Mila terus mencari Reina sambil memanggil namanya. Dan Mila pun, melihat seseorang yang sedang berlari dari kejauhan dan ada seseorang yang mengikutinya sambil membidik Reina dengan sebuah pistol.
“Hei wanita bodoh! Ini adalah peluru ke lima dan yang terakhir. Apa kau punya permintaan terakhir? Karena kali ini, aku akan benar-benar akan menembakmu!”, ucap Justin yang sudah bersiap-siap menembak Reina.
Mendengar hal itu, Mila tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ada hanya ingin menyelamatkan Reina. Ia pun berlari ke arah Reina tanpa ragu. Dan Reina melihat Mila, ia juga ingin segera mendatangi Mila. Tapi...
Dor! Peluru pun di tembakkan.
“Reina..!”.
“Mila..!”.
__ADS_1
Mereka berteriak secara bersamaan. Dan keduanya pun berlutut di tanah. Dengan air mata yang membanjiri wajah mereka.
***