
Tasya menerobos penjagaan dari anak buah Baron. Dengan dalih ia di suruh oleh Baron untuk memperhatikan Mila. Dan berhasilah Tasya dan kini berada di atas gedung tanpa atap bersama Mila. Angin kencang menerpa tubuh mereka. Rasa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Langit pun kini tengah bergemuruh. Cahaya kilatan-kilatan kecil begitu tampak jelas. Bisa-bisa salah satu dari mereka akan menjadi korban sengatan petir itu.
Tasya berjalan mendekati Mila. Kini ia berada di hadapan Mila. Mila tertunduk di sebuah bangku dengan tubuhnya telah diikat dengan sangat kuat. Mila melihat sosok ada di depannya dan ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa sosok itu.
Begitu Mila melihat Tasya, ia pun tersenyum dan menundukkan kepalanya lagi. Ya, Mila tahu kenapa Tasya bisa sampai di hadapannya.
“Untuk apa kamu menemuiku? Apa kamu mau bertanya soal suamimu yang tak kunjung kembali?”, tanya Mila berlagak mengejek Tasya.
Ya, pasalnya Jimmy tidak bisa keluar dari krangkeng khususnya. Tidak ada satu pun anak buah Baron bisa menyelamatkannya. Ia akan di hukum seumur hidupnya di sana. Dan Baron setelahnya tidak melakukan apa-apa lagi. Seolah-olah ia tidak ambil pusing. Karena tidak ada gunanya juga mempekerjakan orang tidak berguna.
“Atau... Kamu ingin tahu kejahatan apa saja yang telah dilakukan Baron pada Yumi adikmu?”, tambah Mila untuk memancing perasaan Tasya.
“Ya! Aku ingin mendengar ceritamu!”, jawab Tasya tanpa basa-basi lagi.
“Aku tidak perlu menceritakannya padamu. Kamu tinggal lihat video yang ada di hp-ku. Ambilah di saku rokku”, jawab Mila.
Dengan cepat Tasya memeriksa saku Mila dan ia pun mendapatkan Hp-nya. Mila mengintruksikan Tasya agar langsung melihat di bagian videonya. Di sana ada dua Video yang bisa menjadi bukti bahwa Papa Roy tidak bersalah dan Baronlah yang telah menyiksa Yumi.
“Ini... Begitu banyak panggilan dari Angga dan Reina..”, ucap Tasya yang melihat layar HP itu dengan panggilan tak terjawab.
“Sudahlah. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Cepat lihat video itu”, jawab Mila yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi.
Mila memang sengaja membuat mode hening di Hp-nya. Ia tahu hal ini akan terjadi. Suami dan iparnya pasti tengah mencarinya. Ingin sekali ia mengatakan jika dirinya butuh bantuan saat ini. Tapi, ia harus merelakannya.
Dengan tangan yang gemetaran Tasya memulai melihat Video yang ada di HP itu. Ada rasa takut di hatinya.. Takut sekali.
***
Di tempat lain, Angga dan Reina telah datang ke tempat yang telah di beritahukan oleh Frans. Yaitu gedung tua yang ada di gang buntu itu. Anak buah Angga, langsung mengelilingi tempat itu dan langsung mencari dimana keberadaan Mila.
__ADS_1
Angga pun ikut andil dalam pencarian itu. Namun, ia tidak membiarkan Reina lepas dari tangannya. Biar bagaimana pun juga ia harus tetap menjaga adiknya dari marabahaya.
Angga ingat dengan bangunan tua ini. Ya, di pernah ke tempat itu sebelumnya. Di mana kala itu ia sedang mencari bukti bahwa Papanya tidak bersalah. Dan ia pun juga teringat sesuatu. Di mana ada pintu rahasia menuju sebuah hotel.
Angga mencari-cari pintu itu namun, tidak ia temukan. Sepertinya pintu itu telah di tutup, begitulah yang Angga pikirkan.
Sudah beberapa menit mencari tetapi mereka tidak menemukan apapun di tempat itu. Tempat itu kosong.
Angga kembali menelepon Mila. Tapi, Lagi-lagi Mila tidak menjawabnya. Reina juga ikut menghubungi Mila, siapa tahu Mila mau menjawab teleponnya. Namun, tidak juga. Mereka sangat khawatir, sudah dari tadi mereka menghubungi Mila tapi tidak ada jawaban.
“Bagaimana ini kak? Harus kemana lagi kita mencari Mila?”, tanya Reina yang sudah terlampau khawatir.
Angga tampak berpikir. Ia tahu satu tempat lagi dimana pemiliknya adalah Baron. Ya, hotel di balik gedung tua ini. Tapi, jalan pintasnya sudah di tutup. Jadi, mereka harus mengambil jalan memutar untuk menuju ke sana.
“Bagaimana? Apa Mila ada di dalam?”, ucap Frans yang tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa.
“Tidak ada siapa-siapa di sini”, jawab Angga. “Ayo ikut denganku. Kita akan memeriksa hotel milik Baron”, lanjutnya.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka ke hotel itu. Mobil Angga berhenti di depan pintu masuk. Sedangkan mobil anak buahnya menunggu di luar pekarangan hotel itu.
Karena merasa ada tamu, satpam yang berjaga di pintu masuk pun menghampiri mereka. Frans yang duduk di samping Angga, membuka kaca jendela mobil.
“Ada yang bisa dibantu pak?”, tanya Satpam itu sopan.
“Apa bos kalian ada?”, serobot Angga yang langsung to the point. Itu karena Angga tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Mila. Tidak ada waktu untuk basa-basi lagi, pikirnya.
“Bos?”, jawab satpam itu yang pura-pura bingung.
“Ya. Bos kalian. Baron! Apakah dia ada di sini? Kami ingin menemuinya!”, jawab Angga lagi.
__ADS_1
“Kalau ingin bertemu dengan pak Baron, kalian harus membuat janji dahulu. Lagian, ini sudah malam. Pak Baron tidak ada di sini”, jawab Satpam itu.
Ya, malam memang semakin larut. Itu makanya Angga semakin khawatir dengan Mila yang tak kunjung mereka temukan.
“Lalu, di mana dia?”, tanya Frans juga yang sudah tidak sabar.
“Maaf Pak. Ini privasi. Saya tidak bisa memberitahunya”, jawab Satpam itu yang sudah resah berbicara dengan tamunya itu.
Angga langsung melepaskan sabuk pengamannya. Ia sangat tidak senang dengan jawaban satpam itu. Rasanya ia ingin segera menghajarnya. Tapi, Reina menghentikannya. Reina menahan pundak Angga untuk tetap duduk tenang.
Kemudian, Reina membuka kaca jendela. Ia kembali bertanya pada satpam itu. Tapi, satpam itu tetap tidak mau memberitahunya.
“Beritahu kami sekarang, dan saya akan memberimu satu juta, cash!” ucap Reina.
“Maaf nona, saya benar-benar tidak bisa...” Ucap Satpam itu dengan mantap.
“Dua juta!”, sahut Reina lagi.
“Tapi, nona....”, satpam itu mulai goyah.
“Tiga juta...”, potong Reina.
Satpam itu pun terdiam. Ia pun tergiur. Dapat uang 3 juta cuma-Cuma dalam sehari. Hanya bilang dimana bosnya berada apa susahnya sih? Yang penting ia hanya cukup tutup mulut saja. Itulah yang terpikir oleh sang satpam.
“Mungkin pak Baron sedang di rumahnya kalau ia tidak ada jadwal lain lagi”, ucap Satpam itu.
“Di mana alamatnya! Cepat beri tahu!”, ucap Angga sedikit membentak.
Dan kemudian, satpam itu pun memberitahukan alamat Baron. Ya, memang kebetulan ia tahu di mana rumah Baron. Setelahnya ia pun mendapat tiga juta dari Reina.
__ADS_1
***