Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab Spesial 4. Kode


__ADS_3

Mama Siska yang sedang melintas di lantai bawah heran melihat Mila yang sedang menuruni anak tangga dengan langkah yang kasar. Suara tapak kakinya begitu terdengar. Tentu saja Mama Siska langsung mendatangi Mila.


"Sayang ada apa?", tanya Mama Siska sambil memegang lembut tangan Mila.


Mila yang sudah dari tadi menahan tangisnya langsung pecah saat ditanya seperti itu oleh Mama Siska. Air matanya berlinang banyak sekali membasahi pipinya. Membuat Mama Siska semakin panik.


"Waa... Mas Angga, Ma, hiks", jawab Mila sambil menangis seperti anak-anak. "Masa Mas Angga bilang, dia mau cari perempuan lagi!".


"Apa? Angga bilang begitu?", tanya Mama Siska yang terkejut.


Mila pun semakin menguatkan suara tangisannya. Mama Siska pun menjadi kasihan pada Mila. Ia memeluknya dan membelai kepalanya. Tapi, Mama Siska langsung sadar bahwa Angga tidak mungkin seperti itu. Pasti Angga hanya menggoda istrinya saja. Namun, biar bagaimana pun Mama Siska harus tetap memarahi Angga.


Mama Siska pun melepaskan pelukannya dari Mila. Ia juga membantu Mila mengusap air matanya. Kemudian, Mama Siska pun bergegas menaiki anak tangga.


"Aaaanggggaaa!!!", teriak Mama Siska.


Angga yang masih berada di dalam kamar langsung menarik napas dalam-dalam ketika mendengar suara teriakan Mamanya. Ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Tapi, memang inilah rencananya. Angga sengaja ingin memperlihatkan dirinya yang di marahi oleh Mama Siska agar Mila puas dan memaafkannya.


Kreeek! Suara pintu terbuka. Dan muncullah sosok Angga di sana. Tanpa basa-basi lagi, Mama Siska langsung menarik telinga Angga dengan kuat. Sehingga empunya berteriak kesakitan.


"Aduh, Ma, ampun", ucap Angga kesakitan.


"Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu punya niat macam itu! Istri lagi hamil bukannya di perhatiin! Malah mau main perempuan lain! Dimana pikiran kamu, ha?", sembur Mama Siska yang tidak melepaskan jepitan jarinya di telinga Angga sambil menuruni anak tangga.


Dalam hati Mila, puas rasanya bahwa Mama Siska bisa mewakili perasaannya. Tapi, bagaimana pun Mila sudah sakit hati pada Angga. Lantas ia malah buang muka saat Angga berada di hadapannya.

__ADS_1


"Tapi, Ma, yang buat ide itu Mila. Dia yang udah membuat pikiranku melayang ingin cari wanita lagi", jawab Angga yang masih belum menyerah.


"Jika Mila sudah berkata kayak gitu, itu artinya kamu sama sekali tidak boleh melakukannya! Jelas! Itu adalah kode untuk kamu, Angga!", jelas Mama Siska yang masih geram dengan anaknya yang telmi (telat mikir) itu.


Angga hanya bisa ternganga mendengar penjelasan Mama Siska. Semakin hari ia semakin bingung dengan kode-kode para wanita tersebut. Dalam hati Angga berkata-kata, apa susahnya sih terus terang aja? Kalau sudah salah paham, laki-laki juga yang salah. Padahal kita juga gak punya konyaku penerjemah milik Doraemon kan? (Emangnya konyaku penerjemah Doraemon bisa untuk menerjemahkan Kode yang hampir mustahil diterjemahkan? Hahaha). Tapi, ya begitulah isi di kepala Angga.


Pada akhirnya, Mama Siska menyuruh Angga untuk minta maaf pada Mila. Dan ia pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Awalnya, Mila masih cuek dan tidak mau memandang wajah Angga. Kemudian, Angga lanjut berlutut dihadapan Mila sembari meminta maaf pada Mila dan juga calon bayi mereka dengan mengelus-elus perut Mila serta menciumnya. Dan Mila pun tidak tega melihat wajah memelas suaminya itu. Ia pun tersenyum karena lucu dengan raut wajah Angga. Karena Angga sudah melihat Mila yang tersenyum, Angga pun berdiri dan langsung memeluk Mila.


Tap, tap, tap! Suara langkah kaki terdengar. Angga melihat Reina yang baru saja pulang dari kantor. Namun, Angga heran dengan raut wajah Reina yang terlihat cemberut. Angga pun melepas pelukannya dan beralih memanggil Reina.


"Kamu kenapa Rei? Pulang-pulang kok mukanya suntuk gitu? Emangnya ada pekerjaan kantor yang belum selesai ya?", tanya Angga baik-baik.


"Ya, namanya juga tujuannya belum tercapai dek", jawab Angga enteng.


Mendengar ucapan Angga, Reina makin bertambah kesal. Ia merapatkan giginya serta mengepalkan tangannya. Ia mengeluarkan suara kekesalannya.


"Kakak juga sama aja! Nyebelin!", teriak Reina lalu berlalu menaiki anak tangga.


Angga pun menjadi terheran-heran karena Reina tiba-tiba marah padanya. Perasaan tadi ia bicara baik-baik tapi, mengapa tanggapan Reina begitu kesal padanya.


"Sayang, emangnya aku ada salah ya?" tanya Angga dengan polosnya.


"Mas, setiap laki-laki yang memberikan penjelasan kepada wanita yang sedang kesal, itu adalah sebuah kesalahan. Karena wanita bercerita bukan untuk minta pendapat ataupun penjelasan tapi, hanya ingin di dengar", jawab Mila dengan tegas.

__ADS_1


"Mati aku! Kode apalagi ini ya Tuhan! Kenapa Engkau mengujiku dengan kode-kode yang nyaris mustahil di terjemahkan ini, ya Tuhan?", jeritan hati Angga.


***


Reina merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ia teringat pada Farhan. Ya, tidak mudah bagi Reina melupakan Farhan begitu saja. Walaupun Farhan telah membohonginya mentah-mentah, tapi sedikit banyaknya mereka juga punya kenangan indah.


"Seandainya kamu tidak tertembak saat itu, apakah kita masih tetap bersama? Aku rindu, rindu sekali sama kamu", ucap Reina tengah bersedih.


Lalu, kala itu ada pesan yang masuk di hapenya. Dan pesan itu berasal dari Frans yang ingin mengajak Reina nonton film di bioskop. Lagi-lagi Reina mengeluh. Kenapa Frans bisa bertahan sampai segitunya. Jelas-jelas tadi dia telah menolaknya dan kini Frans masih bersikeras mengajaknya lagi.


Lama Reina melihat pesan tersebut. Sampai pada akhirnya Reina menyetujuinya. Ya, Reina telah mempertimbangkannya. Karena memang kini ia ingin sekali keluar rumah. Rasa suntuk di kepalanya membuat dirinya ingin sekali merasakan sejuknya angin malam.


Dan tidak lama kemudian, Frans pun telah sampai di kediaman Papa Roy. Mila dan Angga yang masih duduk heran melihat Frans.


"Ada apa Frans?", tanya Angga heran.


"Mm, mau jemput Reina. Tadi aku ngajak dia nonton", jawab Frans dengan senyuman sumringahnya.


Setelah itu, Reina pun keluar dan sudah sangat berdandan sangat cantik. Tanpa ada basa-basi lagi, Reina langsung mengajak Frans segera pergi. Tinggallah Angga yang masih bingung dengan situasi itu.


"Yang, aku nggak salah lihatkan?", tanya Angga pada Mila. "Bukannya tadi Reina habis marah-marah tentang Frans ya? Tapi, kok sekarang mereka udah jalan berdua aja?"


"Itulah keajaiban cinta, Mas", jawab Mila sambil tersenyum.


"Ya Allah, kode apalagi ini? Kenapa bisa yang tadinya dia marah dalam beberapa menit sudah baikkan lagi?", ucap Angga dalam hati yang masih tidak mengerti isi hati wanita.

__ADS_1


__ADS_2