
Reina tidak menyerah sampai di situ. Keesokan harinya ia datang lagi dengan luka kecilnya. Ia menunjukkan lututnya yang lecet karena habis terjatuh. Di tambah dengan rintihan yang mendramatisir.
"Sshh, kak ini sakit banget. Bantuin dong biar lukanya cepat sembuh", rengek Reina memegangi lututnya yang terluka.
Frans memutar bola matanya. Ia sangat malas harus mengurusi Reina dengan luka yang bahkan anak kecil tidak menangis jika mendapatkannya.
"Suster tolong urus pasien satu ini, saya ada urusan penting!", perintah Frans pada suster yang sama semalam.
Frans pun beranjak dari duduknya dan buru-buru pergi meninggalkan Reina begitu saja. Reina menjadi ternganga melihat Frans yang begitu cuek padanya.
"Kak tapi, aku maunya kakak yang...".
Brak! Frans menutup pintu itu dengan agak kuat. Membuat Reina sedikit terkejut. Reina melengus kesal sekali. Ia benar-benar tidak dianggap sama sekali.
"Mari Bu, saya obati lukanya", ucap Suster itu.
"Nggak perlu!", jawab Reina kesal dan pergi dari ruangan itu juga.
"Nih, anak apa sih maunya!", gumam Suster itu yang juga jengkel pada Reina.
***
Keesokannya...
"Kak tolongin aku, pipi aku di cakar kucing sampai berdarah...".
"Kak, hiks, hiks. Kakiku keseleo sakit banget. Tapi tersandung batu di pinggir jalan sana...".
"Hatchiii! Hatchiii! Kak tolong aku. Aku lagi flu. Periksa aku ya kak..."
Begitulah seterusnya setiap harinya. Ada saja tingkah Reina dengan segala penyakit yang ada di tubuhnya. Walaupun begitu, Frans tetap tidak memperdulikannya. Reina pun pantang menyerah juga. Ia terus mencari cara sampai Frans mau mengobrol dengannya.
Kali ini, saat Reina kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi kaki yang pincang, tiba-tiba langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mendengar Frans sedang berbicara dengan seseorang. Ia pun mengintip ingin melihat siapa lawan Frans berbicara.
Reina pun mendesah kesal melihat Friska yang ada di dalam sana. Melihat Frans yang tertawa saat bersama Friska, Reina benar-benar merasa cemburu. Coba saja kalau Reina yang berada di sana. Sudah pasti dia akan di cuekin oleh Frans.
"Dah, yuk buru Fitting bajunya. Aku udah gak sabar ini lihat gaun aku yang bakal aku pakai di acara akad nanti", ucap Friska dengan manjanya pada Frans.
Mendengar suara Friska yang manja, Reina pun bertambah geram. Ia memperagakan ucapan Friska tadi dengan jeleknya.
Dan mereka berdua pun hendak keluar. Membuat Reina kalang kabut mencari tempat persembunyian. Dan pada akhirnya ia bersembunyi di balik pintu juga. Keduanya asik berbincang sampai tidak memperhatikan sekitar mereka.
Reina pun melihat seorang suster yang sedang memegang sebuah kartu undangan. Begitu suster itu lewat di hadapannya, ia langsung merampas kartu tersebut. Ia baca tulisan paling besar di sana yaitu Frans dan Friska. Oh, rasanya tulang-tulang menjadi lunak seketika. Hampir saja ia terjatuh melihat nama itu. Dan ia lihat lagi tanggalnya yaitu besok.
"Hah? Besok? Serius ini? Kenapa cepat sekali?", ucap Reina yang sangat kaget.
"Soalnya, ini undangan terakhir buat saya dan teman-teman disini Bu", ucap Suster itu sedikit nyolot.
Reina pun menjadi sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya yang sedang memegang kartu itu. Lalu ia buang begitu saja dengan pergi dari tempat itu.
"Loh kok malah di rusak sih! Ih! Kurang ajar banget sih tuh orang. Udah gila kali ya!", ucap Suster itu sangking kesalnya pada Reina yang suka-sukanya saja.
Reina masuk ke dalam mobilnya dan langsung menangis di sana. Hatinya sangat terpukul. Selama ini usahanya hanya sia-sia. Ia tidak bisa mendapatkan kembali hati Frans. Ia begitu menyesal telah jahat pada Frans.
Reina mengendarai mobilnya ke sebuah kafe. Di sana Reina memesan sebuah minuman saja. Tapi, minuman itu tidak di minumnya. Ia malah menangis sepanjang waktu hingga petang tiba. Sampai air matanya mengering sendiri.
Ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya entah kemana. Tapi, yang pasti ia tidak mau pulang. Dan entah mengapa ia mengendarai mobilnya hingga di depan rumah Frans.
Reina keluar dari mobilnya dan menangis rumah megah tersebut. Seorang satpam yang jelas mengenali Reina langsung membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Reina masuk. Sebenarnya Reina sedikit ragu, tapi sepertinya ia memang harus bertemu dengan Frans.
__ADS_1
"Eh, ada Nona Reina", ucap Reno yang tengah menggandeng Rini.
"Reno, Rini? Eh, kok tumben kalian akur? Dan kalian kok nggak pakai baju seragam kalian?", tanya Reina yang bingung melihat kedua pasangan itu.
Reno hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Rasanya terlalu segan untuk memberitahukannya pada Reina.
"Sebenarnya, Reno ini hanya berpura-pura menjadi anak buah Pak Frans mbak. Dia ini ternyata sedang mencari bukti terkait ayahnya di rumah sakit tempat Pak Frans bekerja", jawab Rini.
"Bukti? Bukti apa?", tanya Reina lagi yang benar-benar penasaran.
"Bukti kalau saja ayah saya meninggal akibat kecelakaan medis. Dan kalau itu terjadi, saya ingin melaporkan dokter yang bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi ayah saya yaitu Dokter Frans", jawab Reno sedikit bersedih.
"Hah? Apa? Lalu?", pertanyaan absurd dari Reina.
"Tidak ada bukti semacam itu mbak. Reno sendiri yang memastikan jika tidak ada kesalahan saat itu. Dan dokter Frans adalah seorang dokter yang bertanggung jawab. Ia tidak mungkin membunyikan hal seperti itu jika benar-benar terjadi", jawab Rini lagi yang di ikuti dengan anggukan kepala Reno.
Kemudian, Reno mempertanyakan maksud kedatangan Reina ke rumah Frans. Karena tidak biasanya Reina datang ke tempat ini dan di malam hari seperti ini. Reno yakin ada sesuatu yang mendesak. Namun, Reno menjelaskan jika Frans belum pulang juga dari tadi.
"Hah, pasti dia masih di butik untuk fitting baju", gumam Reina.
"Hah? Fitting baju?", ucap Reno dan Rini bersamaan.
"Ia, sebentar lagi kan dia mau nikah sama perempuan lain..."
"Hah? Nikah?", jawab pasangan itu serempak lagi.
"Loh, emang kalian nggak tau kalau Bos kalian itu mau nikah?" tanya Reina yang heran melihat Reno dan Rini tidak tahu kabar tersebut.
Aneh, kenapa mereka nggak tahu ya? Apa Frans juga belum memberitahu mereka? Soalnya suster tadi juga baru dapat undangannya, ucap Reina dalam hati sambil berpikir.
"Nggak tau mbak. Malah kami kesini juga mau ngasih surat undangan pernikahan kami berdua sama Dokter Frans. Oh ya, ini ada juga untuk mbak. Ya, cuma pesta sederhana mbak. He he he ", ucap Reno sambil memberikan surat undangan kepada Reina.
Reina mengambil surat itu. Tidak di sangka hatinya kembali pilu melihat surat undangan tersebut. Rasanya ia iri sekali. Seandainya saja di sana tertulis namanya dan Frans.
Melihat Reina menangis, semua anak buah yang ada di sana menjadi ternganga. Tidak ada angin dan hujan tiba-tiba Reina menangis yang mereka pun tidak tahu alasannya.
Reina menangis sambil berjalan kearah mobilnya. Ia langsung melajukan mobilnya balik ke rumahnya. Ia urungkan niatnya untuk tidak pulang ke rumah. Nyatanya rumahnya adalah tempat paling tepat untuknya kembali.
"Huaaaa!"
Reina masih saja menangis hingga ia memasuki rumahnya. Suasana yang tadinya aman dan damai menjadi riuh saat mendengar suara tangis Reina yang menggelegar.
"Ya ampun Rei! Ada apa? Kok kamu nangis begini?", tanya Mama Siska yang khawatir melihat kondisi Reina yang berantakan.
"Kak Frans mau nikah, Ma. Huaaa! I.. Itu kalian juga dapat surat undangannya?" ucap Reina yang melihat surat undangan yang sama saat ia lihat di rumah sakit tadi.
"Iya, Frans baru saja memberikannya pada kakak tadi", jawab Angga santai.
"Huuuaaaa!", tangis Reina semakin kencang sambil.
Reina pun berlari ke lantai 2 yaitu ke kamarnya. Semua anggota keluarga ingin menyampaikan sesuatu padanya tapi, tidak bisa karena Reina tidak bisa diam.
Reina masuk dan mengunci pintu kamarnya dan terus menangis menyesali semua yang ia lakukan terhadap Frans. Sampai-sampai ia tidak mau membuka pintu atau sekedar menyahut ketika di panggil. Bahkan saat Mila yang juga berusaha membujuk Reina pun tidak mempan. Akhirnya mereka pun membiarkan Reina.
***
Saat menjelang subuh, Reina masih termenung dan tidak tidur. Pikirannya hanya kepada Frans. Ingin sekali rasanya ia berterus terang dan meminta maaf pada Frans.
Kemudian, Reina keluar rumah dan mengendarai mobilnya. Ia ingin mencari hiburannya sendiri. Sudah sangat lelah Reina menangis semalaman. Ia mengendarai mobilnya entah kemana. Ia selalu saja begitu jika sedang sedih. Dan anehnya, akhir-akhir ini otaknya yang encer tidak terpakai. Apakah ini yang di sebut cinta itu buta? Membutakan pikirannya.
__ADS_1
Dan ternyata, tanpa di sangka dan tanpa di duga, Reina memasuki kawasan perhotelan yang terdapat banyak papan bunga. Sekilas ia membaca nama Frans di sana. Dan saat ia membacanya benar-benar, ternyata memang nama Frans dan Siska.
Reina menikmati ke arah jam di dasbor mobilnya yang sebentar lagi jam 8. Ia buru-buru memarkirkan mobilnya. Dan setelah itu ia langsung berlari masuk ke hotel. Ia mendengar suara yang cukup menggema yang berarti tidak jauh dari tempatnya sekarang. Ia pun mengikuti asal suara itu. Hah, ia tidak sadar saja sekarang ini tengah memakai baju tidur dan wajahnya tanpa riasan apa pun.
"Saya terima nikahnya ....".
"STOP!", teriak Reina sesaat sebelum ijab kabul itu terucap.
Ia terlihat ngos-ngosan karena memang habis berlari menuju ke tempat itu. Dan seketika semua mata tertuju pada Reina. Membuat calon mempelai dan keluarga mereka kebingungan.
"Kak Frans! Tunggu! Aku cuma mau bilang maaf atas semua kesalahanku, hiks! Sebenarnya aku juga telah jatuh cinta sama kakak. Aku tau ini sudah terlambat. Tapi, aku mohon jangan mengacuhkan ku lagi. Aku sangat sedih, hiks, hiks..." ungkap Reina di depan semua orang yang hadir di acara itu.
"Rei?" ucap seseorang yang berada di samping Reina.
Reina pun menoleh orang tersebut dan ia pun langsung terkejutnya bukan main. Dia melihat Frans duduk di kursi tamu.
"Loh, kok kakak duduk di sini?" tanyanya keheranan. "Bukannya seharusnya kakak di sana....", sambungnya sambil melihat tempat calon mempelai tersebut.
Reina pun langsung ternganga. Ternyata di sana ada pria lain yang sedang ingin ijab kabul. Di langsung membalikkan badannya karena merasa malu. Dan buru-buru keluar dari sana.
Frans pun mengikuti Reina dan langsung menangkap tangan Reina. "Tunggu Rei!", ucapnya.
Reina pun menghentikan langkahnya. Ia mematung tidak tahu harus bagaimana. Frans pun memegang kedua bahu Reina dan membalikkan badan Reina untuk menghadapnya.
"Apa benar yang kamu ucapkan di dalam tadi? Kalau kamu jatuh cinta denganku?", tanya Frans untuk memastikan.
Reina pun menganggukkan kepalanya. Ya, sebenarnya sih dia malu atas kejadian barusan. Tapi, ini adalah hal yang di inginkan ya bukan? Menjelaskan pada Frans.
"Maaf untuk semua yang aku lakukan pada kakak. Aku telah mempermalukan kakak di depan banyak orang. Setelah kakak tidak mempedulikanku lagi. Di situ aku sadar kalau sebenarnya aku menginginkan kakak untuk tetap berada di sampingku", ungkap Reina menyesalinya.
Frans pun tersenyum dan mengusap kepala Reina. "Sebenarnya, kakak nggak marah kok. Cuma ingin menunjukkan jika kakak mampu memenuhi keinginan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan kamu. Kakak juga merasa bersalah karena terus saja membuat kamu kesal atas sikap kakak..."
Tiba-tiba Reina langsung memeluk Frans. Ia menangis di dalam dekapan Frans. Membuat Frans menjadi bingung. Tapi, Reina menjelaskan ia menangis karena lega. Lega karena Frans masih mencintainya dan masih akan selalu bersamanya. Akhirnya penantian Frans selama ini pun tidak sia-sia. Ia bisa hidup berdampingan dengan wanita yang paling di cintainya.
"Ya udah yuk, kita masuk aja ke dalam. Eh, tapi emangnya pria itu namanya Frans juga?", tanya Reina yang masih penasaran.
"Iya. Kebetulan namanya Frans juga. Kamu pasti langsung mikirnya aku kan? Nggak kebayang gimana galaunya kamu. Tapi, kamu yakin mau masuk ke sana? Dengan baju tidur?", ungkap Frans sambil terkekeh.
"Astaghfirullah!", ucap Reina saat baru menyadari jika ia sedang memakai baju tidur. "Duh, malu banget aku. Yuk kita pulang dulu kak", ajak Reina.
"Nggak bisa Rei, kakak harus standby di sini. Kakak udah janji sama Friska", tolak Frans sambil terkekeh.
"Ih, kakak tega banget. Ayo dong kak. Anterin aku pulang. Ntar kita balik lagi deh", bujuk rayu Reina.
Dan begitulah. Pada akhirnya Reina dan Frans bersama selamanya.
TAMAT
Terima kasih kepada para pembaca setia novel MDMA ini.
Tanpa dukungan kalian novel ini tidak ada apa-apanya.
Jangan lupa lanjut ke novelku yang lain ya
SUCI YANG TERNODA
Dan
NEINA DAN LEINDRA.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih banyak Ya...
Novelnya hanya sampai disini aja....