Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 67. Kembalikan Flashdisk Kakakku


__ADS_3

Farhan melihat Mila yang telah pergi menaiki taksi. Ia tersenyum senang karena akhirnya semua keinginannya terpenuhi. Ia pun berjalan menuju mobilnya. Namun, saat ia masuk dan hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


“Tunggu!”, teriak Reina.


Dengan begitu, Farhan pun keluar lagi dari mobilnya. Ia menatap remeh pada Reina. Ya, dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sudah tidak ada drama yang menjijikkan antara dirinya dan Reina sekarang. Ia akan terang-terangan.


“Aku sudah mendengar semuanya. Jadi, dari awal kamu sudah mengenal Mila? Oh, cinta sama Mila. Terus dari awal juga kamu memang sudah punya rencana lain terhadap keluarga aku, hingga kamu sampai ke titik ini. Aku selalu berharap kamu bisa berubah...”, oceh Reina yang benar-benar kesal, marah dan juga cemburu.


Farhan tersenyum lepas, “Baguslah kalau kamu sudah tahu. Jadi, aku tidak perlu capek-capek menjelaskannya padamu”.


“Berikan Flashdisk itu padaku! Aku tahu itu milik kak Angga”, pinta Reina yang tidak ada pilihan lain selain menguatkan dirinya.


Kemudian, Farhan menolak pundak Reina untuk menjauh darinya. Reina pun terkejut dan terbelalak. Ia tidak menyangka jika Farhan sekasar itu. Dan Farhan pun buru-buru masuk ke dalam mobilnya.


“Farhan! Tunggu! Kembalikan flashdisk itu!”, teriak Reina sambil menggedor-gedor kaca mobil Farhan.


Akhirnya, Farhan pun membuka kaca mobilnya. Ia menatap malas pada Reina. “Kamu tidak bisa menghentikanku. Urus saja keluargamu itu. Dan nikmatilah kejutan selanjutnya dariku”, jawab Angga di akhiri dengan senyuman jahatnya.


Reina menjadi mematung mendengar kalimat yang di lontarkan Farhan. Ia diam saja ketika Farhan mengendarai mobilnya dan meninggalkannya sendirian di tempat parkir itu.


“Mama, Papa, sial! Apa yang akan dilakukannya!”, Reina tersadar dari lamunannya dan langsung berlari masuk ke dalam mobilnya dan melesat dengan kencang.


***


Angga mengetahui bahwa Papa-nya berada di mansion dan baru saja sampai di sana. Namun, sebelum ia sampai di gerbang, dari jauh ia melihat dua orang pria masuk ke dalam mansion-nya.

__ADS_1


Setelah Angga memarkirkan mobilnya, ia langsung bertanya pada pak Bob mengenai dua pria itu. Dan pak Bob menjelaskan jika nyonya besarnya yang telah memanggil mereka tadi untuk menservis AC di rumah itu.


Setelah mendengar penjelasan pak Bob, Angga pun paham dan buru-buru masuk ke dalam rumah itu. Hatinya merasa tidak enak. Dan benar saja, masih di depan pintu ia sudah mendengar suara kegaduhan dari dalam. Angga pun buru-buru masuk untuk melihat situasinya.


“Ma, tunggu Ma. Kasih Papa kesempatan untuk menjelaskan semuanya”, kata Papa Roy yang panik melihat istrinya marah dan hendak keluar dari rumah.


“Video itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya!”, teriak Mama Siska yang sudah sangat marah dan juga kecewa.


Kemudian, Angga menangkap tangan Mama Siska yang hendak pergi itu. Ia melihat Mamanya tengah menangis. Dan wajahnya memohon agar tangannya untuk di lepaskan.


“Tidak Ma. Mama tidak boleh keluar dari rumah ini”, pinta Angga yang terlihat sedih. “Papa tidak bersalah. Ini semua jebakan”, lanjut Angga.


“Apa kamu punya buktinya?”, tanya Mama Siska menatap Angga dengan tajam.


“Iya Ma, tapi....”


Angga tidak sanggup rasanya jika harus jujur pada Mamanya. Kalau buktinya berada di tangan Mila. Dan Mila telah memberikannya kepada Farhan. Dan Farhan, bisa jadi bukanlah orang yang baik seperti dugaan mereka selama ini. Jika dari awal Angga tahu siapa Farhan sebenarnya, mungkin ini tidak akan terjadi.


Padahal hari di mana Mila masuk rumah sakit, ia telah melihat video yang diberikan oleh anak buahnya. Saat itu tampak seorang pria yang mengendarai mobil memberi tumpangan kepada Jimmy. Dan sekilas walau dalam kegelapan, wajah itu mirip Farhan. Tapi, Angga menafikan asumsinya. Ia pikir, ia hanya salah mengira. Bisa saja, karena situasinya memang gelap.


Dan Mama, Mama sangat menyayangi Mila. Bagaimana mungkin Angga tega menyakiti Mamanya jika ia bilang bahwa Mila telah bersekongkol dengan Farhan untuk menghilangkan bukti itu.


“Tapi, Angga telah menghilangkannya. Waktu Angga di hajar oleh anak buah Baron, Ma. Dan Angga lupa di mana Angga meletakkannya. Maaf Ma”, jawab Angga yang merasa bersalah.


Mama Siska menatap Angga dengan seksama. Warna di wajahnya pun telah berubah, yang tadinya merah padam karena marah, sekarang tampak lebih pucat.

__ADS_1


Dan tiba-tiba saja, Mama Siska memeluk Angga dengan erat sambil menangis. Jelas, Angga pun menjadi terheran. Ya, memang tidak biasanya Mamanya bisa langsung luluh sampai menangis seperti itu.


“Ingatanmu sudah kembali nak?”, tanya Mama Siska yang kemudian menangkup wajah Angga.


Ah, Angga baru tersadar jika kata-katanya tadi yaitu mengingat jika dirinya pernah di hajar oleh beberapa orang itu. Memang sampai saat itu, belum ada yang mengatakan pada kedua orang tua itu tentang kembalinya ingatannya.


Dan, ternyata Papa Roy juga ikut syok mendengarnya. Matanya langsung berbinar sangking senangnya mengetahui putranya telah kembali seperti sediakala. Papa Roy datang dan memeluk Angga. Ia juga tak kuasa menahan air matanya.


“Oh, Mama ingat. Waktu itu, setelah selesai operasi, seorang suster memberikan sebuah flashdisk pada Mama. Dan... Kalau tidak salah, mama menaruhnya di.... Laci ruangan tempat kamu rawat inap. Ya, ya mama ingat”, jelas Mama Siska yang ternyata dari tadi mencoba mengingatnya. “Tapi, setelahnya Mama malah lupa”, ucapnya lagi dengan lesu.


Kini, Angga mengerti dari mana Mila mendapatkannya. Dan pembicaraan mereka pun berlanjut sampai Angga segera mencari flashdisk itu di rumah sakit. Walau sudah sangat lama, ya bisa saja Flashdisk itu masih ada di sana. Itu jika keberuntungan memihak mereka. Begitulah inti pembicaraan kedua orang tuanya.


Tapi, nyatanya flashdisk itu sudah tidak ada di sana. Dan Angga pun bingung harus bilang apa kepada mereka. Dan akhirnya, ia akhiri dengan menyetujuinya.


“Sampai bukti itu belum di temukan. Jangan harap Papa bisa tidur di kamar! Urusan kita belum selesai!”, tegas Mama Siska yang masih marah pada suaminya.


Mama Siska pun melangkah ke lantai dua dimana kamarnya berada. Dan di ikuti oleh Papa Roy yang terus memohon-mohon pada Mama Siska agar dirinya di maafkan saja.


Sedangkan Angga hanya bisa menarik napas dalam-dalam sambil memijat keningnya yang pusing. Apa lagi melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti itu.


Brak! Klek! Mama Siska membanting pintu dan tidak mengizinkan Papa Roy masuk. Ia langsung menguncinya. Dalam hatinya puas telah memberi pelajaran pada suaminya itu.


“Biar tau rasa!”, ucap Mama Siska geram.


Dari awal masuk ke kamar, Mama Siska sudah mencium aroma yang khas namun ia mengabaikannya. Ia langsung berbaring dan memejamkan matanya untuk menurunkan rasa amarahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2