Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 60. Menolong Angga


__ADS_3

Mila masih mengikuti Angga. Dan tiba-tiba mobil yang di naiki Mila mogok. Saat itu, Mila benar-benar panik. Dan sebentar saja ia mengalihkan pandangannya, mobil Angga sudah tidak kelihatan lagi. Dengan begitu pun, Mila menjadi bingung. Bagaimana pun ia harus bisa menemui Angga.


Mila pun bertindak untuk berjalan sendirian. Walaupun Pak Bob sudah melarangnya, tapi Mila tetap keukeuh. Ia berjalan sembari melihat-lihat apakah ada kendaraan yang bisa ditumpanginya.


Namun, Mila sungguh beruntung. Karena ternyata mobil Angga terlihat di sebuah halaman parkiran kafe yang tidak jauh dari dirinya berada sekarang. Ia pun merasa lega dan bersyukur.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Mila pun langsung masuk ke area kafe itu untuk mencari sosok Angga. Dan benar saja, Angga dan Tasya berada di sana. Mila mengendap-endap sambil mencari tempat persembunyian. Ia sembunyi di balik pilar yang ada di dalam kafe itu.


Angga terlihat memesan sesuatu. Kemudian Tasya tersenyum pada Angga yang ada di hadapannya. Ada kepuasan saat ia berhasil mendatangkan Angga untuk dirinya.


“Maaf Tasya, sebenarnya saya tidak ingin menyakiti hatimu. Hanya saja saya harus tetap mengatakannya. Tolong jangan ganggu saya lagi”, ucap Angga dengan tegas.


Tentu saja ucapan itu membuat hati Tasya kesal. Tapi, ia tidak menunjukkan itu pada Angga. Namun, berbeda dengan Mila. Ia malah tersenyum saat mendengar ucapan Angga itu. Ia menjadi merasa bersalah karena sudah tidak percaya pada Angga.


Tasya menyunggingkan senyumannya, “Santailah... Aku mengajakmu kemari hanya untuk menemaniku sambil mengenang masa lalu kita”.


“Aku sudah tidak mencintaimu lagi!”, potong Angga dengan cepat. “Maaf, tapi sedikitpun rasa itu tidak ada lagi”.


Tasya begitu jengah. Ia menarik napas kemudian meminum minumannya. Ia harus tetap terlihat manis karena ada sesuatu yang harus ia lakukan pada Angga.


Lalu, seorang pelayan datang membawakan pesanan Angga. Segelas lemon tea. Tasya terlihat memandang pelayan pria itu. Matanya seperti bicara sehingga pelayan itu menganggukkan kepalanya pelan hampir tidak kelihatan.


“Minumlah”, ucap Tasya sembari ia meminum minumannya lagi. “Maaf Angga. Ini memang kesalahanku. Aku berkhianat pada cinta kita. Aku pantas mendapatkan ini darimu”, sambung Tasya yang berpura-pura sedih.


Angga pun meminum minumannya sambil melihat ke arah Tasya. Bukannya Angga tidak iba pada Tasya. Tapi, sebenarnya ia tahu siapa Tasya dan apa tujuannya mendekatinya dahulu. Namun, untuk saat ini Angga tidak tahu apa yang akan di lakukan Tasya padanya. Angga pun menghabiskan separuh minumannya.


“Apakah kamu bahagia bersama istrimu sekarang?”, tanya Tasya. “Apakah dia juga tulus mencintaimu?”


“Kamu tidak perlu khawatir. Kami saling mencintai”, jawab Angga santai.


Tasya pun tersenyum namun, hatinya begitu jengah mendengar ucapan Angga yang sedang berbahagia itu. Ia terus saja memperhatikan Angga.


“Tunggulah. Sebentar lagi kau akan tahu rasanya bahagia yang sesungguhnya. Cih! Kalau pun untuk balas dendam aku juga tidak mau melakukannya!” ucap Tasya dalam hati.


Tiba-tiba Angga seperti tidak nyaman. Ia sedikit menarik kerah bajunya. Dan Tasya pun tersenyum kecil yang tidak di ketahui oleh Angga.


Ya, Tasya telah melakukan sesuatu sebelum Angga datang menemuinya. Ia menyuap pelayan pria itu dengan sejumlah uang yang menggiurkan. Asalkan pelayan itu menaruh obat yang di berikannya itu pada minuman yang Angga pesan. Dan itu adalah obat penambah gairah.


Lalu, Tasya memegang jemari Angga yang berada di atas meja. Serrr! Jantung Angga berdesis. Ia seperti terkena sengatan saat Tasya menyentuhnya. Ia terlena sekejap. Namun, kemudian ia tersadar dan menarik tangannya.

__ADS_1


“Haruskah kamu sejahat ini padaku? Bahkan menyentuhmu saja tidak boleh”, ucap Tasya pura-pura sedih.


Ucapan Tasya itu tidak Angga hiraukan lagi. Karena tubuhnya mengalami kenaikan suhu. Ya, Angga begitu sangat kegerahan. Ia sibuk mengibas-ngibas kerah bajunya.


“Apa yang telah kau berikan padaku!”, ucap Angga marah.


Saat itu Tasya langsung tersenyum. Ia tidak menjawabnya. Ia hanya terus memperhatikan Angga yang sedang kesibukan itu.


Tiba-tiba Angga langsung berdiri. Napasnya juga terengah-engah. Ia melihat di sekelilingnya ingin mencari jalan keluar. Tapi, Angga tiba-tiba ingin terjatuh dan di selamatkan oleh Tasya. Ya, kini Tasya tengah memeluk Angga.


Lagi-lagi untuk sesaat Angga seperti terbuai dengan sentuhan ditubuhnya. Namun, Lagi-lagi sekuatnya ia tetap ingin berpikiran jernih. Ia tidak mau masuk dalam jebakan Tasya.


“Sayang, apa kamu tetap keras kepala seperti ini? Ayolah, kita akan bersenang-senang”, bisik Tasya sambil mengambil tasnya di meja seakan ia ingin pergi bersama Angga.


“Tidak!”, Angga mencoba mendorong Tasya.


Namun, usahanya hanya sia-sia. Tubuhnya berkata lain, ya tentu saja tubuhnya menginginkan Tasya yang terus saja menggodanya. Dengan sebuah senyuman jahatnya, Tasya menuntun Angga untuk mengikutinya.


Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Tasya pun menjadi heran karena seperti ada yang menariknya. Dan saat ia melihat ke belakang Angga ternyata Mila sudah menarik tangan Angga yang satunya lagi.


“Lepaskan Angga”, ucap Mila pelan namun tegas. “Tidak akan aku biarkan dia pergi bersamamu!”, sambungnya lagi dan langsung memeluk tubuh Angga dengan erat.


Tentu saja Angga semakin tidak tahan karena tubuhnya lagi-lagi tersentuh oleh seorang wanita. Namun, Angga tahu jika wanita itu adalah Mila makanya, ia langsung membalas pelukan Mila dan memakai pundak Mila sebagai sanggahan kepalanya.


Dan, ya tentu saja Mila juga merasa kegelian saat Angga melakukannya. Tapi, Mila tetap menampilkan wajah yang biasa saja. Padahal jantungnya pun sudah berdegup sangat kencang.


“Kamu! Berani sekali kamu menghalangiku. Dengar ya, kamu tidak akan pernah menang melawanku!”, ucap Tasya yang sangat marah dengan tindakan Mila.


Mila juga tak kalah marah. Biar bagaimana pun Angga adalah suaminya. Dan dia tahu jika suaminya akan di jebak oleh Tasya. Ini sangat jahat bagi Mila.


Dengan begitu, Mila menghempaskan tangan Tasya dari tangan Angga yang satunya dengan sangat kuat. Kemudian, ia menarik tangan Angga dan melingkarkannya di pinggangnya. Dan Mila membalikkan badannya yang membuat Angga memeluknya dari belakang.


“Kau!”, teriak Tasya yang sudah sangat marah.


Ia langsung mendatangi Mila, tapi Mila tidak kalah cepat ia langsung mendorong Tasya dengan sekuat tenaganya. Hingga Tasya terduduk di lantai. Sampai-sampai isi tasnya pun berserakan.


Kemudian, mata Mila langsung tertuju pada foto yang keluar dari dalam tas Tasya. Foto seorang gadis yang sedang di rangkul oleh Tasya. Mila mengamatinya sampai lama.


“Dasar wanita sialan!”, teriak Tasya sekuat-kuatnya sangking kesalnya.

__ADS_1


Dan semua mata pengunjung pun kini tertuju pada mereka. Tasya berdiri kembali dan masih berusaha mendekati Mila. Saat itu, Mila tahu jika tangan Tasya bergerak hendak menamparnya. Dan lagi-lagi Mila berhasil menghentikan tindakan Tasya. Ia menangkap tangan Tasya dengan cepat.


“Kamu sudah kalah. Tidak usah menyangkal lagi. Aku akan membawa suamiku. Aku berhak atas suamiku. Apa kamu tidak malu pada dirimu sendiri? Padahal Angga sudah menolakmu. Tapi aku rasa kamu memang tidak tahu malu dan tidak punya harga diri lagi. Lihatlah! Semua orang melihat kita. Aku yakin mereka tahu mana yang suami istri dan mana pelakornya! Apa kamu tidak lihat mereka, yang memandangmu dengan jijik?”, kata Mila panjang lebar supaya Tasya sadar.


Tasya pun melihat sekelilingnya. Dia lupa jika tempat itu juga memiliki pelanggan selain dirinya. Dan ya, ia melihat orang-orang melihat dan membicarakannya dengan sinis. Di sela-sela itu, Mila pun pergi membawa Angga keluar dari kafe itu walau dengan sedikit kesusahan karena Angga tengah terbius oleh obat pembangkit gairah itu.


Kemudian, Mila membantu Angga masuk ke dalam mobilnya. Lalu, ia duduk di bangku pengemudi. Mila menarik napas panjang. Antara lelah dan bingung harus menyetir mobil. Ia langsung menghidupkan mobil itu dan menyalakan AC yang paling dingin. Karena ia melihat Angga yang sangat kegerahan.


Angga sudah tidak tahan lagi. Ia membuka kancing bajunya. Mila yang melihatnya langsung melotot.


“Eh... Jangan-jangan!”, ucap Mila menghentikan aksi Angga. “Kamu sebenarnya kenapa mas? Ka.. Kamu masih bisa tahan sampai rumahkan?”


“Nggak! Jangan ke rumah”, ucap Angga dengan suara yang serak dan sangat menggairahkan untuk di dengar.


Mila yang mendengar suara Angga sampai ternganga. Angga juga terlihat sangat mempesona dengan keringat yang ada di dahinya yang merembes hingga ke lehernya. Membuat Mila menelan salivanya beberapa kali.


Lalu, Mila pun tersadar dan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sampai memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri yang telah berpikiran kotor tadi saat melihat Angga.


“Kita ke apartemen aja. Sudah dekat dari sini. Cepatlah!”, sambung Angga.


Mila masih mengatur napasnya. Ia sangat gugup harus menyetir. Pasalnya, ia baru beberapa kali di ajarkan oleh almarhum ayahnya yang bekerja menjadi supir angkot dan itu pun sudah sangat lama sekali. Ia pun akhirnya harus nekat demi keselamatan suaminya. Apalagi sampai Tasya mengejar mereka. Dan..


Brum... Wush...


Mila pun terkejut karena ia menginjak gas dengan kuat. Untung saja lagi sepi. Ia pun mendadak menghentikan mobilnya


“Ma.. Maaf mas”, ucap Mila tidak enak. Karena ia melihat Angga terantuk oleh dashboard saat ia mengerem tadi.


“Ah..! Cepatlah Mila! Aku sudah hampir tidak bisa menahannya lagi!”, ucap Angga yang terus mendesah walaupun kepalanya kesakitan.


“I... I.. Iya Mas”.


Lalu, perlahan Mila melakukan mobil itu naik ke jalan raya. Ia pun lega akhirnya bisa mengendalikan mobil tersebut. Ia pun nekat menambah kecepatannya. Lagi pula jalanan memang lagi sepi.


Kemudian, tibalah di persimpangan. Dan apartemen mereka belok ke kanan di persimpangan itu. Nah, karena lampu hijau masih menyala, dari jauh Mila sudah ngebut saja agar ia tidak terkena lampu merah.


Namun, saat belok bukannya ia menginjak remaja sedikit, malah ia menginjak kopling yang menyebabkan mobil itu berjalan seperti seluncuran. Dan mengakibatkan Angga tidak terkendali dan menghimpit Mila.


Tidak segan-segan tapi sebenarnya tidak di sengaja juga, pipi Mila tercium Angga dan tangan Angga menempel tepat di bagian dada Mila. Membuat sang empu menjadi kaget. Tentu Mila menjadi gugup dan kakinya mencari rem untuk menghentikan mobil itu.

__ADS_1


Ciiiiiit! Mobil itu pun berhasil berhenti. Jantung Mila berdegup dengan kencang. Ditambah harus melihat wajah Angga sedekat ini lagi. Mana wajahnya sudah berubah warna menjadi kemerah-merahan.


***


__ADS_2