
“Apa maksudmu? Aku tidak pernah menyentuh milikmu!” Teriak Roy tidak senang dengan tuduhan Baron.
“Aku yang telah melakukannya! Dan kau pantas mendapatkannya karena ulah kotormu itu! Kau telah banyak membuat orang lain menderita Baron!”, jawab Frans yang sudah tiba di sana.
“Diam! Kalian semua sama saja. Kalian pasti sudah sekongkol! Aku tidak terima ini!” ucap Baron marah besar. Ia begitu frustasi mendengar tempat yang menjadi sumber utama keuangannya terbakar ludes.
Frans mencoba melangkah untuk mendekati Roy dan Baron. Tapi, Baron langsung mengancamnya. “Selangkah lagi kau mendekat aku akan menembakmu dan Roy juga!”.
“Sudahlah Baron, bagaimanapun kau bersalah. Mengakulah dan bertaubatlah. Aku yakin hidupmu akan jauh lebih tenang. Aku mengatakan ini karena kau adalah sahabatku. Aku tidak ingin kau jatuh ke lubang yang lebih dalam lagi”, Roy mencoba memperingatkan Baron.
“Dengar Roy, hatiku sudah lama mati. Saat kau mengkhianatiku, saat itu juga aku sudah tidak menganggapmu sebagai sahabat lagi. Aku adalah orang yang selalu ingin menghabisimu. Dan sekarang kau sendiri yang datang kepadaku. Terimalah kematianmu Roy!”, ucap Baron yang sudah sangat gelisah.
Baron pun bersiap-siap untuk menekan pelatuk pistolnya. Dan...
Dor.. Dor... Suara tembakan itu pun terdengar. Seketika keheningan terjadi dan hanya menyisakan suara hujan yang semakin deras. Gemuruh pun bersahut-sahutan di langit yang gelap itu.
Baron dan Roy sama-sama terduduk. Dan, tangan Baron terjatuh begitu dengan pistol yang ada di tangannya. Dan Baron pun terkulai ke lantai. Ya, Baron telah terkena tembakkan. Dan orang yang menembaknya adalah Farhan yang masih sadarkan diri meskipun itu adalah kesempatan terakhirnya.
Mila tercengang melihat Farhan yang masih berusaha untuk menolong mereka dalam keadaannya yang sekarat. Farhan terlihat berbaring sambil memegang pistol itu. Mila ingin sekali menghampiri Farhan tapi, ia juga tidak mau meninggalkan Angga yang juga sekarat.
“Mila, maaf”, ucap Farhan dengan berat karena ia memang tengah susah untuk berbicara lagi. “I..ni sudah berakhir. Hiduplah bahagia”, ucap Farhan sebagai kalimat terakhirnya. Ia meninggalkan mereka dengan setetes air mata yang tak tampak karena air hujan.
Papa Roy buru-buru menghampiri Farhan. Ia mencoba membangunkan Farhan tapi, Farhan sudah tidak bernyawa lagi. Papa Roy pun perlahan menutup mata Farhan.
Dan kemudian, Mila pun berteriak sambil menangis. “Aa....! Aa...!”
Mila mengeluarkan semua rasa yang ada di dadanya. Sungguh menyesakkan menyaksikan kejadian tragis berulang-ulang di depan matanya. Mana keadaan suaminya juga semakin sekarat. Ia terus memeluk Angga sambil menangis tersedu-sedu.
Sungguh, Mila sebenarnya tidak mau kehilangan Farhan. Ia ingin melihat Farhan hidup bahagia tanpa rasa dendam lagi. Tapi, takdir berkata lain. Dan pada akhirnya juga, Lagi-lagi Farhanlah yang menolong Mila dan mereka semua. Dan lagi-lagi Mila tidak bisa membalas semua kebaikan Farhan untuknya.
***
Reina baru kembali dari melihat jasad Farhan. Di sana, Reina merasakan kesedihan yang mendalam. Bagaimana pun Farhan adalah pria yang dicintainya. Walaupun, Farhan telah menipunya. Kini harapannya benar-benar musnah untuk memiliki keluarga yang bahagia bersama Farhan. Reina memeluk tubuh Farhan untuk terakhir kalinya dengan tangisan yang menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Lalu setelahnya, Reina memberikan baju pada Mila yang sedang di ruang tunggu, menunggu Angga yang sedang di operasi. Mila menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan itu bahkan ia tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah kedinginan. Ia tidak mau ke mana-mana meninggalkan Angga.
Tapi.... Bruk! Tiba-tiba Mila terjatuh dan pingsan. Reina menjadi kaget dan langsung berusaha menyadarkan Mila.
“Tolong! Dokter! Suster!”, teriak Reina sambil menangis takut terjadi sesuatu pada Mila.
Frans yang kebetulan hendak lewat langsung menolong mendengar teriakan Reina dan melihat Mila yang sudah tergeletak di lantai. Frans segera menyuruh para perawat untuk mengambil bangsal dan membawa Mila ke ruang pemeriksaan. Reina menunggu dengan rasa yang begitu cemas. Reina mengira jika Mila terlalu kelelahan sehingga tubuhnya tidak kuat lagi dan ia pun pingsan.
Reina memikirkan kejadian yang telah mereka alami. Ya, memang sudah berakhir. Baron telah meninggal dan begitu juga dengan Farhan. Lalu, Tasya sedang dalam penyembuhan. Dan Angga sedang berjuang di ruang operasi. Belum lagi mama Siska yang belum sadarkan diri. Untungnya ada Papa Roy yang selalu setia menemani mama Siska. Lalu, sekarang Mila yang tiba-tiba pingsan. Reina benar-benar frustasi memikirkannya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Dr. Frans keluar dari ruangan tersebut. Reina langsung mendekati Dr. Frans.
“Kak, gimana keadaan Mila? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia gak apa-apa kan?”, pertanyaan bertubi-tubi dari Reina.
“Tenang Rei. Mila nggak kenapa-napa kok. Dia hanya kelelahan saja”, jelas Dr. Frans.
“Hah, syukurlah”.
“Tapi, sepertinya dinding rahimnya telah mengalami penebalan”, sambung Dr. Frans.
Dr. Frans tersenyum. Ia pun menggelengkan kepalanya. Tentu sikapnya itu membuat Reina menjadi bingung. Ia tidak tahu sama sekali maksud Frans.
Lalu, Frans mendekati Reina. Kemudian, membisikan sesuatu pada Reina, “Kemungkinan besar, sebentar lagi kamu menjadi onty”.
Mendengar ucapan Dr. Frans, mata Reina langsung berbinar. Ia sangat bersyukur masih ada kabar bahagia di balik semua kejadian ini.
***
Dua bulan kemudian...
Mila yang tengah hamil muda tak luput dari rasa mual. Dan juga ingin makan ini dan itu pastinya. Oleh karena itu, semua anggota keluarga sibuk memenuhi keinginan bumil tersebut.
Dan suatu ketika, Mila sangat ingin sekali buah manggis. Tapi, sayangnya saat itu lagi tidak musim buah manggis. Angga, Reina, Papa Roy, Mama Siska dan beberapa pekerja harus mencari buah Manggis di seluruh penjuru kota. Tapi, tetap nihil.
__ADS_1
Mila pun merasa sedih dan selalu murung. Karena ia tidak mendapatkan yang ia inginkan. Bahkan Mila sempat ngambek pada Angga dan tidak mau bicara pada Angga sampai buah manggis itu ketemu.
Akhirnya, mau tidak mau Angga pun meluncur ke puncak demi buah manggis. Dan syukurnya ada dan Angga memborong hingga 5kg. Dari pada nanti kurang dan ia harus kembali lagi ke situ. Lebih baik ia beli sekaligus banyak saja.
Sampai di rumah, Angga dengan bangga membawa buah manggis tersebut. Bumil yang ngidam itu pun matanya langsung berbinar melihat buah manggis yang segar-segar itu. Mila pun mengambil sebuah lalu, menggosok-gosokkannya ke perutnya dengan gerakan melingkar. Dan, setelah itu ia kembalikan lagi buah Manggis itu ke dalam plastik.
“Loh, kenapa nggak jadi dimakan?”, tanya Angga bingung.
“Siapa juga yang mau makan? Aku kan nggak ada bilang mau makan manggis. Aku hanya minta dibelikan aja”, jawab Mila tanpa berdosa.
“Apa? Jadi buah manggisnya cuma untuk di usap-usap gitu aja?”, tanya Angga yang masih tidak percaya.
Dan Mila hanya mengangguk dengan wajah polosnya. Kemudian, ia pun pamit untuk masuk ke dalam kamar. Sontak semua orang di buat terkulai lemas di buat Mila. Apalagi Angga yang seperti orang gila, tertawa sendiri. Karena usahanya sampai ke puncak untuk mencari manggis sampai membelinya 5kg dan yang di gunakan hanya 1 buah. Itu pun tidak di makan.
“Yang sabar ya Ngga. Namanya juga lagi hamil. Pasti banyak maunya”, ucap Mama Siska menghibur Angga.
Angga menganggukkan kepalanya dengan lesu. Kemudian, ia berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Di sana ia melihat Mila yang sedang berdiri di balkon menikmati angin malam. Angga berjalan mendekatinya dan kemudian memeluknya dari belakang. Mila begitu merasa nyaman saat di pelukan Angga.
“Jangan lama-lama, ntar masuk angin loh”, ucap Angga.
“Lihat deh langitnya mas. Cantik banget. Banyak bintangnya”, ucap Mila sambil tersenyum melihat ke langit.
“Hm, tapi Mila istriku lebih cantik di banding bintang-bintang itu”, jawab Angga sambil menghadapkan tubuh Mila ke arahnya. “Lihatlah wajahnya bersinar begitu cerah. Kamu cantik sekali sayang”, ucap Angga sambil menangkup pipi Mila.
Kemudian, Angga mencium kening Mila. Lalu, kedua pipinya. Dan yang terakhir tentu saja bibirnya. Mereka berdua begitu menikmatinya. Sungguh malam yang sangat indah.
TAMAT
***
Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pembaca setia novel MDMA. Tanpa kalian karya saya ini bukan apa-apa.
Terimakasih atas dukungan kalian semuanya. Mungkin setelah ini akan ada Bab spesial juga. Tapi, nggak banyak-banyak... Kira-kira setuju gak? atau ada yang punya masukan untuk buat cerita apa yang akan ada di bab spesialnya? tulis di komentar ya...
__ADS_1
Terimakasih...