
Angga memperhatikan nomor yang tertera di pintu ruangan Mila. Ia pun semakin yakin jika dulu ini adalah ruangannya saat ia di rawat. Kemudian, Angga pun masuk dan mendapati Mila yang tengah resah sambil melihat ke arah jam dinding. Melihat hal itu, Angga pun menjadi tersenyum. Ia mengerti jika Mila sudah sangat haus dan juga lapar. Tetapi ia belum juga bisa minum dan juga makan.
“Ngga, Mama sama Papa pulang dulu ya. Sekalian mau ambil baju ganti untuk kalian berdua”, ucap Mama Siska sambil membelai kepala Mila dengan tersenyum.
Angga dan Mila pun menyetujuinya. Kedua orang tua itu pun pergi dan tinggallah pasutri baru dalam ruangan itu. Angga tersenyum pada Mila kemudian duduk di sampingnya.
“Kamu tau, ini adalah ruangan dimana aku pernah di rawat. Sepertinya kita benar-benar berjodoh”, ungkap Angga dengan tersenyum.
“Hm, ilmu cocokologi!”, ejek Mila.
“Wah! Istriku bukan tipe baperan ternyata”, jawab Angga sambil bertolak pinggang.
Mila tidak menjawab lagi. Ia menarik selimutnya dan langsung memejamkan matanya. Salah jika Angga menganggapnya seperti itu. Nyatanya Mila takut karena ia merasa hatinya akan mulai luluh.
Angga mengambil hp-nya di saku celananya. Kemudian, ia menelepon Frans dan menanyakan apakah Mila sudah di perbolehkan untuk minum atau belum. Angga pun tersenyum lega mendengar ucapan Angga dan kemudian mengakhiri panggilannya.
Angga kembali melihat Mila yang tengah memejamkan matanya. Matanya terpejam namun bukan berarti ia sedang tidur. Angga yakin Mila hanya berpura-pura tidur dengan melihat kelopak matanya yang agak bergerak-gerak. Lagi-lagi Angga di buat tersenyum oleh tingkah Mila.
__ADS_1
Angga mendekatkan wajahnya pada wajah Mila. “Sayang, aku cium sedikit ya”, bisik Angga.
Sontak membuat mata Mila menjadi terbelalak dan langsung menggeser badannya menjauh dari Angga. Angga pun tersenyum karena dugaannya benar. Mila hanya berpura-pura tidur.
Ingin rasanya Mila memukuli Angga saat itu. Kalau saja badannya tidak remuk seperti itu, bahkan ia ingin memiting Angga karena sudah membuatnya malu.
“Kenapa? Tenang aja aku cuma bercanda kok. Tadi, Frans bilang kamu sudah boleh minum tapi, jangan terlalu banyak. Apa kamu mau minum?”, tanya Angga.
Tidak di sangka tanpa diminta Angga mengerti apa yang Mila inginkan. Mila menjadi terharu dengan tindakannya itu. Mila pun menganggukkan kepalanya. Karena, ia memang benar-benar sangat kehausan.
Dengan senang hati Angga menuangkan air hangat ke dalam gelas. Kemudian, ia meletakkan sebuah sedotan agar Mila bisa minum sambil berbaring.
Perlahan Mila meminum air itu. Matanya menatap pada Angga dan juga sebaliknya. Tidak di sangka jika Angga punya sisi yang lembut seperti itu, membuat jantung Mila berdegup semakin kencang.
“Permisi!”, ucap Frans yang tiba-tiba masuk ke ruangan.
Ia tersenyum melihat pasangan tersebut. Ia masuk bersama seorang perawat wanita. Kemudian, perawat itu menjelaskan semua keadaan Mila yang intinya kondisi Mila sudah stabil.
__ADS_1
“Ibu Mila sudah buang angin?”, tanya Frans.
Agak risih rasanya Mila mendengar Frans memanggilnya formal seperti itu. Padahal biasanya ia suka menggoda Mila. Namun, pertanyaannya tidak kalah membuat risih. Mila melirik ke arah Angga dan kembali melihat Frans lalu menggelengkan kepalanya. Frans paham dari bagaimana Mila memandang Angga.
“Nggak apa-apa. Nanti juga pasti buang angin kok”, ucap Angga bermaksud menenangkan Mila.
“Hadeh...! Masa kamu gak paham sih. Gimana dia mau buang angin kalau kamu selalu di sini!”, ucap Frans geram.
“Loh, kenapa emangnya? Gak masalah kok kalau Mila mau buang angin. Gak mungkinkan aku marah. Bagus malah kalau bisa buang angin secepat mungkin”, jawab Angga yang tidak merasa bersalah.
“Shh! Anak ini, lemotnya gak ilang-ilang!”, ucap Frans geram sambil menarik tangan Angga untuk keluar dari ruangan.
Angga berusaha melepaskan dirinya. Ia tidak ingin jauh dari Mila saat ini. Frans juga sudah payah untuk menarik Angga keluar. Walau harus bergelut dan adu argumentasi dengannya. Perawat wanita itu pun terkekeh melihat keanehan dua pria itu. Dan pada akhirnya Angga pun berhasil di bawa keluar oleh Frans.
Momen itu tidak akan di sia-siakan oleh Mila. Perutnya yang sudah terasa kembung dari tadi akhirnya bisa ia balaskan. Brrrr.... Suara lembut dari bokongnya akhirnya bisa keluar juga. Mila bisa menarik napas lega. Oh, betapa nikmatnya buang angin ini, ucap Mila dalam hati.
Di luar, Frans masih berusaha menghalangi Angga yang mau masuk ke ruangan. “Udah belum Mil?”, teriak Frans dari luar.
__ADS_1
Mau saja Mila menjawabnya, ia kemudian mencium aroma kebusukan. Ia pun berniat untuk tidak memberitahukannya sekarang. Sambil berusaha menghempaskan bau busuk itu. Dari mengipasnya dengan tangan, meniupnya sampai menghirupnya kembali agar tidak tercium oleh yang lain. Kalau tidak ia akan sangat malu sekali. Dan ia yakin akan di ejek oleh pria-pria aneh itu.
***