
Flashback sebelum Tasya di jatuhkan.
Saat itu, Reina dan Frans yang di tugaskan untuk membuat sesuatu untuk menyelamatkan orang yang akan terjatuh itu sangat kebingungan. Tidak ada benda-benda yang dapat di gunakan di sekitar mereka. Dan mereka tidak punya banyak waktu lagi.
Kemudian, Frans mempunyai ide. Walaupun ia tak yakin ide ini akan berhasil atau tidak. Jadi, di bawah orang yang akan jatuh itu, Frans menyuruh beberapa anak buahnya untuk membuat 4 barisan yang saling berhadapan dan merapatkan tubuh mereka perbarisan. 2 barisan yang saling berhadapan masing-masing saling berpegangan tangan.
Kemudian, anak buah yang lainnya menyangga tangan mereka yang saling berpegangan dari bawah. Ya, karena akan menangkap seseorang dari tempat ketinggian seperti itu pasti sangat berat. Jadi harus ada penahannya agar tangan mereka tidak terlepas.
Entahlah. Apakah cara itu berhasil atau tidak. Apakah orang itu bisa tepat jatuh di tempat yang telah dibuatnya atau tidak. Makanya ia buat empat barisan berjaga-jaga di mana orang itu akan terjatuh nanti.
“Jaga kuda-kuda kalian! Kalian harus bersiap-siap mulai sekarang. Kita tidak tahu kapan dia akan terjatuh”, perintah Frans.
Reina sangat kagum dengan Frans yang bisa mendapatkan ide di saat genting seperti ini. Bahkan sedikitpun ia tidak pernah memikirkannya.
Dan tidak lama kemudian, benar saja. Orang itu pun terjatuh. Reina sampai menutup matanya karena tidak kuat melihat apa yang akan terjadi nanti.
Bugh! Terdengar suara sesuatu yang telah jatuh. Reina masih menutup matanya. Ia takut jika kemungkinan terburuk terjadi di depan matanya.
“Kak, apakah kita berhasil?”, tanya Reina pada Frans.
“Kamu bisa membuka mata Rei. Kita berhasil menangkapnya”, jawab Frans sambil memegang pundak Reina.
Reina pun segera membuka matanya. Ia berjalan untuk melihat siapakah orang tersebut. Dan Reina pun membelalakkan matanya saat melihat wajah orang tersebut.
__ADS_1
“Tasya? Ya ampun Tasya!”, ucap Reina sambil memegangi pipi Tasya.
Tasya begitu terlihat mengenaskan. Wajahnya begitu banyak lebam. Dan di ujung bibirnya juga mengeluarkan darah. Di tambah lagi kondisi Tasya yang tidak sadarkan diri.
Frans langsung meminta Reina untuk membawa Tasya ke rumah sakit segera. Tapi, Reina menolaknya. Ia tidak mau meninggalkan kakaknya sendirian di sini. Ia ingin ikut mencari Mila sampai ketemu.
Frans mencoba bernegosiasi dengan Reina. Karena hanya Reina saat itu yang paling cocok untuk mengantarkan Tasya ke rumah sakit. Sedangkan soal Angga, Pap Roy dan Mila, Frans berjanji bahwa ketiganya akan baik-baik saja. Tasya lebih membutuhkan pertolongan saat ini, begitulah Frans membujuk Reina yang pada akhirnya ia menyetujuinya.
Reina pun bergegas menuju mobil bersama dengan Tasya yang di gendong oleh salah seorang anak buahnya. Pandangan Reina tak lepas dari atas rumah itu. Ia sebenarnya sangat ingin ikut dengan Angga. Dan Reina pun pergi dari tempat tersebut.
Sebenarnya mereka mendengar samar-samar suara teriakan dari atas sana. Namun, mereka tidak bisa menerka itu suara siapa. Dan setelah kepergian Reina, suara tembakan pun terdengar lagi. Perasaan Frans jadi tidak enak. Ia pun segera masuk ke rumah itu lagi mencari jalan ke atas dan ia melihat ada tombol di dinding tersebut. Ya, Papa Roy sengaja meletakan bingkai itu di lantai agar yang lain tahu cara naik ke atas.
Flashback off.
***
“Baron!”, teriak Papa Roy. Ia pun segera mendatangi Baron dan mencengkeram kerah bajunya. “Kenapa kau lakukan itu pada anakku? Apa salahnya? Ini adalah masalah kita berdua! Kenapa kau libatkan keluargaku!”, ucap Papa Roy yang marah besar. Wajahnya hingga memerah.
Baron hanya menatap datar pada Roy. Lalu, pistol yang ada di tangannya ia angkat dan di todongkan tepat di dahi Roy.
“Tentu keluargamu terlibat. Karena aku membencinya. Dasar pengkhianat! Apa kau tau rasa sakit yang kurasakan? Melihat sahabatnya sendiri lebih memilih bekerja sama dengan orang lain dan meninggalkanku begitu saja! Kau tidak pernah menganggapku sebagai sahabat”, ucap Baron memperingatkan Roy akan sakit hatinya.
Baron sangat benci dengan kata keluarga. Karena ia terbuang oleh keluarganya sendiri. Ia dianggap hanya sebagai benalu yang hanya menyusahkan di keluarganya. Keluarganya itu hidup sederhana. Tapi, Baron yang merupakan anak paling besar malah tidak memiliki keahlian untuk bekerja. Bahkan sekolah pun ia tidak tamat.
__ADS_1
Namun, itu bukan karena keinginan Baron. Orang tuanya saat itu kekurangan uang untuk membiayai sekolah Baron dan juga adik-adiknya. Makanya ia di minta untuk berhenti sekolah demi membiayai sekolah adik-adiknya. Karena itu, Baron harus lapang dada menuruti kemauan orang tuanya.
Tapi, saat semuanya telah berlalu. Dan adik-adiknya menjadi orang yang sukses, Baron malah di campakkan. Bahkan ia dikatai tidak berguna dan tidak berpendidikan. Setiap hari ia harus mendengar cacian itu. Apakah itu salahnya? Padahal ia sudah merelakan pendidikannya untuk adik-adiknya. Dari situ ia merasa dikhianati dan sangat membenci keluarganya.
“Tidak! Aku selalu menganggapmu sebagai sahabat. Aku memberitahu kepada orang-orang bahwa kau adalah sahabatku...”, Roy mencoba untuk menjelaskan.
“Bohong! Kalau kau menganggapku sahabat, kenapa kau malah bekerja sama dengan orang asing yang baru kau kenal itu dan meninggalkanku begitu saja. Lalu, pada saat aku memintamu bekerja sama denganku kau menolaknya dengan mentah-mentah. Apa kau pikir aku tidak sakit hati? Bahkan aku melihatmu sangat bahagia. Kau menikah dan mempunyai anak, mempunyai kekuasaan. Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia di atas penderitaanku! Kau harus tahu bagaimana rasa sakit yang ku alami!”, kata Baron panjang lebar yang tak kalah geram dengan Roy.
“Apakah kau tidak ingat? Aku pernah mengajakmu untuk bekerja sama, tapi kau menolaknya. Lalu kau datang memintaku bekerja sama denganmu di perusahaan kotormu itu. Apa kau pikir aku tega memberi uang haram pada istri dan anakku? Tidak Baron! Aku tidak mau mengotori diri mereka dengan uang haram”, jawab Roy menjelaskan alasannya biar Baron bisa memahaminya.
“Halah, nggak usah sok suci kamu! Kau taukan? Aku sangat benci dengan kata keluarga”, ucap Baron geram dengan kata-kata Roy.
Roy menatap wajah Baron. Jelas, Roy sangat tahu cerita tentang Baron dan keluarganya. Dan betapa Baron sangat membenci keluarganya. Baron telah menceritakan semuanya dulu padanya.
“Tapi, itu bukan berarti kau semena-mena merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain!”, ucap Roy yang masih kesal.
Tapi, Baron malah tertawa mendengar ucapan Roy. Lalu, ia memasang wajah seriusnya lagi. Dan, tiba-tiba hp-nya berdering. Baron pun segera mengangkat panggilan itu dengan tangan yang masih menodongkan pistol pada Roy.
Dengan seksama Baron mendengarkan suara dari seberang sana. Dan lama-kelamaan, dahinya mengerut. “Apa kebakaran? Bagaimana bisa? Kalian semua memang tidak becus! Itu adalah aset utamaku brengsek! Aku pastikan kalian akan aku hukum semua!”, ucap Baron marah-marah lalu membanting hp-nya ke lantai sangking marahnya.
Lalu, Baron menatap tajam ke arah Roy, “Pasti kau yang telah melakukannya kan? Kau yang telah membakar semua usaha penginapanku! Kau benar-benar tidak takut mati ha?”.
***
__ADS_1