
“Dia!”, ucap Mila sambil menunjuk ke arah Baron. “Dia adalah orang yang telah membunuh kedua orang tua kakak!”.
“Apa?”, ucap Farhan yang tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya dari Mila.
Untuk sesaat waktu terasa seperti berhenti berputar. Hening... sangat hening.
“Tutup mulutmu bocah sial*an! Kau jangan mencoba untuk membalikkan Fakta!”, ucap Baron geram sekaligus sedikit takut jika kebohongannya terbongkar.
“Saya? Saya membalikkan Fakta? Anda yang telah membalikkan fakta! Dengan menuduh Papa Roy sebagai orang yang telah menghancurkan desa dan membunuh orang tua kak Han! Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau anda lah pembunuh itu! Jika orang tua saya masih hidup, mereka juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang saya katakan”, tekan Mila.
“Oh, begitu ya? Sebaik apa sih si tua Roy itu padamu? Sehingga kamu begitu membelanya? Atau.. Jangan-jangan kamu sudah......”, ucap Tasya yang tiba-tiba datang dan berjalan mendekati meja makan.
Perkataan Tasya itu sungguh melegakan untuk Baron. Pasalnya dia punya seseorang yang juga bisa menghina Mila. Itu sesuatu yang bagus. Mempermalukan perempuan tidak tahu malu itu di depan orang banyak, terutama Farhan yang telah tergila-gila padanya. Itulah yang ada di benak Baron. Karena rasanya sungguh sial mempunyai saksi atas apa yang telah di lakukannya. Rasanya Baron ingin segera menyingkirkan Mila saja.
Mila memandangi Tasya dengan rasa tidak sukanya. Tapi, mengingat kebodohan Tasya, ia pun menyunggingkan senyumannya.
“Apa perlu saya bongkar juga kebusukan anda pada Tasya mengenai adiknya?”, ucap Mila tanpa gentar.
__ADS_1
Brak! Baron mendobrak meja.
“Tutup mulutmu!”, amarah Baron memuncak.
Seketika itu, Tasya menjadi terheran melihat Baron yang sebegitu marahnya dengan ancaman Mila. Tasya pun menjadi sedikit mencurigai Baron. Jika tidak kenapa ia harus semarah itu dan tatapannya sebenci itu pada Mila. Sedangkan Mila hanya terlihat santai. Dan, ya begitu juga dengan Farhan. Ia pun sempat berpikir jika ada yang di sembunyikan Baron darinya. Namun, ia belum bisa percaya sepenuhnya pada Mila walaupun Mila terlihat meyakinkan.
“Cepat pegang dia!” perintah Baron pada anak buahnya untuk memegangi Mila.
Baron tidak bisa membiarkan Mila terus berbicara. Lama-lama kebohongannya selama ini akan terbongkar. Dan Baron pun menyuruh para anak buahnya itu untuk membawa Mila ke atas gedung rumahnya itu. Tapi, sebelum semuanya bergerak, Farhan menghentikan mereka. Ia tidak ingin jika Mila sampai di hukum. Ia tahu bagaimana kejinya Baron yang tak pandang buluh itu.
“Mil, berhenti bermain-main. Dan bilang jika semua yang kamu katakan tadi bohong”, pinta Farhan sambil memegangi kedua pundak Mila.
Farhan menundukkan kepalanya. Bukan itu yang jawaban yang Farhan inginkan. Kenapa Mila harus seberani ini? Kenapa dia tidak menyerah saja? Bukankah dia sudah tahu jika dirinya dalam bahaya? Pertanyaan-pertanyaan itu berkutat di kepala Farhan. Dengan cara apa dia harus menolong Mila sekarang?
“Aku tahu, kak Han adalah orang yang baik. Kakak selalu membuat orang-orang di sekitar kakak merasa bahagia. Tapi, lihat diri kakak sekarang? Gara-gara Baron kakak berubah menjadi monster yang kejam. Coba kakak bandingkan diri kakak yang dulu dan yang sekarang? Apa kakak tenang hidup seperti ini?”, ucap Mila dengan meneteskan air matanya, berusaha membuat Farhan sadar kembali.
Farhan kembali menatap Mila. Ya, Mila adalah wanita yang baik, yang selalu manja kepadanya dahulu. Dan bisa di bilang jika Farhan lebih tahu seperti apa Mila itu. Tidak mungkin jika Mila ingin menyakitinya. Yang ada, sudah berkali-kali Farhan menyakiti Mila.
__ADS_1
“Kalaupun seandainya Papa Roy orang jahat itu, aku juga nggak rela kakak menjadi jahat seperti ini. Kak, Balas dendam nggak bisa mengubah apapun. Malahan, balas dendam akan terus membekas dan akan menjadi turun temurun dikemudian hari”, lanjut Mila.
“Jika orang itu benar-benar orang yang baik, apakah orang baik akan menyuruh seorang anak untuk melakukan kejahatan? Apakah orang baik, sanggup melecehkan seorang wanita? Apakah orang baik mampu menyakiti sahabatnya sendiri?” ucap Mila lagi yang tidak kenal putus asa.
“Sudah cukup! Cepat bawa dia!”, perintah Baron yang sudah sangat gerah dengan kalimat-kalimat yang akan meracuni Farhan.
Perlahan Farhan melepaskan pegangannya dari batu Mila. Ia membiarkan Mila di bawa begitu saja. Baron mendekati Farhan dan bertanya mengenai keyakinannya.
“Aku percaya pada Ayah”, ucap Farhan dan langsung pergi begitu saja.
Baron pun merasa lega. Melihat putranya itu tetap berada di pihaknya. Sungguh malang nasib Mila. Sudah rencananya gagal dan sekarang harus menanggung akibatnya. Baron menyunggingkan senyumannya.
Ia juga pergi dari tempat itu dan berjalan ke sebuah ruangan. Ia merasa senang karena kali ini ia akan mendapatkan mainan lagi. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk menghukum Mila. Mengambil beberapa senjata untuk di gunakannya.
Ruangan itu kini telah kosong. Semua anak buah sudah ikut ke atas gedung menjaga sandera mereka. Tinggallah Tasya yang masih mematung memikirkan dan mencermati yang tengah dikatakan Mila. Jujur, ia sangat penasaran dengan apa yang diketahui oleh Mila. Apakah benar selama ini ia salah menuduh orang?
Tasya pun melihat situasi. Ia merasa dirinya punya waktu untuk berbicara dengan Mila tanpa diketahui Baron. Tanpa pikir panjang lagi, Tasya juga ikut naik ke atas di mana Mila berada.
__ADS_1
***