Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 75. Nyawa Tasya Terancam


__ADS_3

“Brengsek kau Baron!”, teriak Tasya yang penuh emosi.


Tasya pun membabi buta menyerang Baron. “Dasar tua bangka tidak tahu diri! Gak punya hati! Tega sekali membuat adikku tersiksa! Dasar gak punya perasaan!!!!”, ucap Tasya dengan sangat kuat karena rasa marahnya yang sudah teramat tidak bisa di tahan lagi.


Tasya memukul dan menarik-narik kerah baju Baron. Tentu saja Baron pun geram dengan sikap Tasya itu. Dia adalah orang yang terhormat. Seorang Bos yang kaya raya, yang patut dihormati. Dan perlakuan Tasya terhadapnya ini sungguh sudah melebihi batas.


Baron pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan Tasya dan mengikatnya seperti Mila. Beberapa pria berbadan kekar menarik Tasya yang sedang memukuli Baron. Tasya tidak pantang menyerah, ia tidak mau dilepaskan. Sampai ia di seret-seret karena terus berontak. Dan HP yang di pegang Tasya sudah jatuh di lantai dan tertendang entah ke mana.


Farhan yang mendengar perkataan Tasya dan melihat perlakuan Baron pada Tasya, membuat ia semakin geram. Ia mengepalkan tangannya bukti bahwa dirinya juga sangat marah atas sikap Baron yang telah mempermainkan mereka berdua. Kesedihan dan kelemahan mereka di jadikan alat untuk Baron agar ia bisa menjatuhkan Roy yang dari awal tidak salah apa-apa.


Lalu Farhan menerima sebuah pesan. Ia tampak berpikir lalu, ia mengetikkan sesuatu dengan cepat agar tidak diketahui oleh Baron.


“Kau sudah menipu adikku! Kau tidak tahu betapa di senangnya saat ia punya pekerjaan dengan gaji yang banyak! Tapi, kau malah membuatnya menderita! Sampai ia harus mengakhiri hidupnya karena rasa malu akibat ulahmu!”, Tasya tetap berteriak mengeluarkan semua unek-uneknya walaupun saat itu ia tengah di ikat di sebuah kursi.


“Nggak usah munafik! Adikmu sendiri yang menyanggupi semuanya. Sayangkan kalau aset sebagus itu aku abaikan begitu saja? Ha.. Ha.. Ha.. Dasar orang miskin! ”, ucap Baron yang sedikit pun tidak ada rasa bersalahnya.


“Diiiiaaamm! Jangan coba-coba menghina Yumi!” Teriak Tasya yang tidak senang dengan penghinaan Baron. “Cuuuiihh! Kau lebih rendah dari binatang Baron!” Tasya meludah untuk gantian menghina Baron.


“Cepat kalian habisi dia!”, perintah Baron yang amarahnya juga sudah memuncak.


Tapi, sepertinya para anak buahnya ragu untuk melakukannya. Ada rasa iba pada wanita yang malang itu.


“Ayo cepat kerjakan! Atau saya tidak akan membayar kalian semua sepersen pun!”, Baron kembali memerintah karena anak buahnya tidak ada yang bergerak.


Mendengar jika mereka tidak di bayar, mereka pun harus tega menghajar Tasya. Dua orang di antara mereka telah maju ke hadapan Tasya. Tasya menatap tajam ke arah mereka.


Plak!


Sebuah tamparan yang sangat kuat membuat seketika pipi Tasya merah dan dari bibirnya keluar darah. Mata Tasya sampai memerah menahan air matanya agar tidak keluar karena rasa sakit itu.


Plak!

__ADS_1


Tasya di tampar lagi dengan kekuatan yang sama.


“Hentikan!”, teriak Mila. “Tolong hentikan. Kau telah menyakitinya!”


“Tidak! Bunuh saja aku! Bunuh! Aku juga tidak mau hidup lagi, hiks”, ucap Tasya yang sudah tidak mempunyai harapan lagi.


“Hahaha, kamu dengar apa katanya? Dia sendiri yang mau mati. Aku hanya membantunya”, ucap Baron yang merasa puas.


“Tidak Tasya, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Kamu harus bertahan agar Baron mendapatkan hukuman atas semua kejahatannya”, pinta Mila.


“Cepat habisi dia! Tidak perlu mendengar ocehan wanita itu!”, perintah Baron lagi yang terus ingin menghabisi Tasya.


Bugh!


Satu pukulan dengan sepotong balik mengenai punggung Tasya. Tasya sudah seperti melayang. Di lihatnya dunia ini sudah berputar-putar.


“Tidak! Hentikan! Jangan memukulinya! Ku mohon! Lepaskan Tasya....!” teriak Mila memohon.


“Cukup Hentikan! Hiks... Aku mohon hentikan...”, lanjut Mila hingga ia menangis karena tidak sanggup lagi melihat Tasya menderita. “Tuan Baron tolong hentikan aku mohon, hiks. Kak Han, apa kakak tega melihat Tasya di perlakukan seperti itu?”, ucap Mila yang akhirnya berharap pada Farhan.


Ya, Farhan pun sebenarnya sudah tidak tahan ingin menolong Tasya. Tapi, pikirannya sedang rumit sekali. Namun, karena Mila yang telah memohon. Ia pun langsung beraksi. Tidak ada pilihan lain lagi dan tidak ada kesempatan lagi untuk berdiam diri saja. Bisa-bisa nyawa Tasya bisa melayang.


Farhan berlari dan langsung menendang anak buah Baron yang tengah memukuli Tasya. Bukan hanya itu, Farhan juga menumbuk wajah pria itu dengan sangat kuat.


Tidak senang dengan apa yang dilakukan Farhan, Baron pun memberikan kode pada anak buah yang lainnya untuk menyerang Farhan. Farhan tidak peduli jika ia hanya sendirian melawan banyaknya anak buah Baron.


Awalnya, Farhan dengan mudah menumbangkan mereka satu demi satu. Namun, Lama-lama dan tiada hentinya berkelahi membuat tubuh Farhan semakin letih. Sedangkan masih banyak anak buah Baron yang masih belum ia hajar.


Akhirnya, kelemahan itu menjadi kesempatan untuk mengalahkan Farhan. Farhan terperangkap, ia di keroyok habis-habisan. Mila yang melihatnya pun menjadi gemetaran. Ia menjadi merasa bersalah pada Farhan. Karena dirinya lah yang menyuruh Farhan untuk menolong Tasya tadi.


Dan tidak lama, Farhan pun dapat di taklukkan. Ia berlutut sambil di pegangi oleh beberapa pria kekar itu agar Farhan tidak bisa terlepas. Sedang Tasya sudah dari tadi ia tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


Kali ini, Mila benar-benar ketakutan. Kini ia baru merutuki dirinya karena terlalu berani mengambil risiko yang berakibat fatal bagi orang lain. Sekarang tinggal dirinya yang belum di serang. Kira-kira permainan seperti apa yang akan di hadapi olehnya? Mila pun hanya bisa menerka-nerka.


Baron berjalan mendekati Farhan. Kemudian, di jambaknya rambut Farhan sehingga Farhan mendongak. “Anak bodoh! Ngapai kamu ikut-ikutan menolong perempuan itu? Berani-beraninya kamu menentangku? Dasar tidak tahu di untung!”


“Aku bukan anakmu! Pria brengsek! Kau yang tidak tahu di untung! Kau menipuku selama ini hanya untuk kesenanganmu! Aku sudah tahu semuanya. Dan aku tidak akan percaya lagi denganmu”, ucap Farhan dengan lantang.


“Apa? Apa yang bisa kamu lakukan sekarang ha? Nggak ada kan? Siapapun tidak akan ada yang bisa lepas dariku begitu saja. Lihatlah pertunjukan ku berikutnya”, jawab Baron dengan sebuah senyuman liciknya.


“Kalian!”, perintah Baron pada tiga orang anak buahnya. “Cepat jatuhkan wanita yang hampir mati itu”.


“Tidak!”, teriak Mila saat mendengar perintah Baron.


Mila meronta-ronta memohon pada Baron agar menghentikan aksinya untuk menjatuhkan tubuh Tasya dari ketinggian lima lantai itu. Tapi, Baron hanya tersenyum dan tidak menghiraukan permintaan Mila.


Sedangkan di bawah, di pekarangan rumah Baron. Angga, Reina dan Frans beserta anak buah mereka telah sampai di sana. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung mengepung rumah itu dan langsung masuk begitu saja.


Namun, alih-alih menemukan Mila, mereka semua bahkan tidak melihat seorang pun di rumah itu. Pelayan? Apakah tidak ada pelayan ? Yang melayani Baron selama ini hanyalah anak buahnya. Dan sekarang semua anak buahnya juga ikut berada di atas untuk menyaksikan malam penyiksaan ini.


Angga, Reina dan Frans pun kebingungan. Mereka sudah mencari ke setiap penjuru rumah itu tapi, sama sekali tidak ada jejak. Mereka sama sekali tidak bisa menemukan pintu rahasia untuk naik ke atas. Mereka sama sekali tidak tahu jika rumah itu punya rooftop yang luas.


“Apa mungkin Baron membawa mereka ke tempat lain?”, ucap Frans menyimpulkan.


“Tapi, di mana kak? Sama siapa lagi kita bertanya? Bahkan di sini tidak ada siapa-siapa”, jawab Reina yang hampir putus asa.


“Aku juga nggak tahu. Tapi, kita harus tetap berusaha mencari Mila. Tidak ada waktu lagi. Berdiam di sini pun kita tidak ada gunanya kan?”, jawab Han.


Akhirnya, mereka pun keluar dari rumah itu. Mereka sudah memastikannya berkali-kali bahwa memang tidak ada siapa-siapa di sana. Namun, berbeda dengan Angga yang terus menatap rumah itu.


“Kenapa? Kenapa aku merasa Mila ada di sini. Tapi, kamu di mana Mil?”, ucap Angga dalam hati yang tak rela meninggalkan rumah Baron begitu saja.


Angga terus saja menatap rumah Baron sambil berjalan ke arah mobilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2