
Reina masuk ke dalam ruang pemulihan. Dari pintu masuk, ia sudah bisa melihat Mila yang tengah berbaring belum sadarkan diri. Dengan perlahan Reina menghampiri bangsal Mila. Ia begitu sedih melihat kondisinya. Apalagi melihat banyaknya alat bantu pada tubuh Mila.
Reina memegang jemari Mila kemudian duduk di sebelahnya. Ia pun kembali menangis.
“Maaf Mila. Hiks. Seharusnya bukan kamu yang berada di sini”, ucap Reina menangis. “Bangunlah Mil. Kalau tidak aku akan merasa bersalah seumur hidupku”.
Namun, tidak terjadi apa-apa. Bahkan tidak ada gerakan dari Mila sedikitpun. Membuat Reina terus menangis. Ia sangat berharap Mila sesegara mungkin sadarkan diri. Setidaknya itu bisa menghilangkan sedikit kekhawatirannya.
***
Plak! Plak! Plak!
Di area parkiran, Angga memukuli anak buahnya. Ia begitu geram karena tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menangkap pelaku penembakan itu.
“Kalian tidak berguna sama sekali!”, teriak Angga yang tengah murka dengan matanya yang memerah.
Semua pria-pria tegap itu hanya bisa menunduk merenungi kesalahan mereka. Ya, mereka datang tidak membawakan hasil apa-apa. Justin menghilang dari kejaran mereka. Hal itu, tentu membuat Angga sangat marah.
“Aaarrgghh!”, teriak Angga sambil memukuli tembok yang ada di dekatnya.
Ia terus memukuli tembok itu dengan mengucap kata “sial” dan “brengsek” berulang kali. Tidak ada yang bisa menghentikan Angga saat itu. Tangan Angga sudah memar hingga berdarah. Di hatinya ia juga menyalahkan dirinya yang sangat tidak berguna itu.
Ia sangat ingin sekali menangkap penjahat itu tapi, saat ini juga ia harus tetap berada di sisi Mila. Bagaimanapun ia harus memastikan bahwa Mila baik-baik saja. Kalaupun terjadi sesuatu setidaknya ia berada di dekat Mila. Ia sungguh menyesal membiarkan Mila sendirian waktu itu.
“Pergi kalian semua! Dan jangan pernah menampakkan wajah kalian sebelum kalian tahu di mana si brengsek itu berada!”, perintah Angga yang masih begitu marah.
__ADS_1
Kemudian, pria-pria itu mematuhi perintah Angga. Mereka pun segera bubar untuk mencari orang yang mereka cari itu. Salah seorang dari mereka mendekati Angga. Ia menyerahkan sebuah Flashdisk pada Angga. Dan Angga pun mengambilnya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah sakit. Kemudian, ia mengirim pesan pada Reina jika ia ingin berbicara dengannya.
Sesampainya di depan ruang pemulihan, Reina sudah menunggunya di depan pintu. Hati Reina pun bertanya-tanya hal apa yang akan di bicarakan oleh kakaknya itu.
“Kakak? Tangan kakak kenapa?”, tanya Reina terkejut saat melihat tangan Angga berdarah.
“Diamlah! Nanti mama dengar!”, jawab Angga sambil melihat mamanya yang masih duduk di ruang tunggu. “Kakak mau nanya. Apa kamu memberikan undangan pada Tasya ke pesta kita?”
“Nggak”, jawab Reina dengan mengerutkan dahinya.
“Lalu, kenapa Frans bilang jika dia melihat Tasya datang ke acara kita?”, tanya Angga lagi seolah tidak percaya.
“Tidak mungkin!”, ucap Reina spontan karena terkejut mendengar apa yang dibilang Angga.
Reina sadar di sudah salah ucap. Angga memang belum tahu soal Tasya yang di kurung dan di jaga ketat di apartemen. Tasya menjadi bingung ingin menjawab apa. Takutnya Angga akan semakin marah jika ia memberitahukan Angga apa yang dia tahu. Dan dia juga belum punya buktinya.
“Ya, tidak mungkin dia bisa tahu jika tidak ada yang memberitahunya. Atau dia melihat berita di media sosial atau di mana gitu. Apa dia juga masuk ke dalam?”, jawab Reina pura-pura tegas.
“Kakak juga nggak tahu. Frans bilang ia hanya melihatnya masih di luar pintu masuk saat ia pergi dari pesta kita”, jawab Angga.
Reina ingin sekali memastikannya. Tapi, ia tidak mau Angga sampai tahu untuk saat ini. Ia pun menyuruh Angga masuk ke ruang pemulihan untuk menjaga Mila. Tentu saja Angga langsung menyetujuinya.
Saat Angga sudah masuk, Reina buru-buru menelepon salah seorang dari yang menjaga Tasya. Tapi, tidak di jawab. Reina mencoba menelepon yang lainnya. Tapi, tidak ada jawab juga. Lalu, ia mencoba lagi dan kali ini ada yang mengangkat.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa Tasya bisa keluar dari Apartemen?”, tanya Reina dengan nada marah.
Namun, seketika raut wajahnya berubah saat ia mendengar suara dari telepon itu. Reina begitu ingat dengan suara itu. Suara pria yang ingin menembaknya itu.
Justin mengatakan bahwa ia telah menyandera semua anak buahnya. Dan satu-persatu mereka akan di musnahkan jika Reina tidak datang menemuinya.
Ada rasa takut dihati Reina. Kali ini ia tidak bisa bertindak sendirian. Tapi, siapa yang akan menolongnya kali ini? Lalu, ia mendapatkan sebuah ide. Ia pun langsung mematikan panggilannya. Ia ke ruang tunggu dan melihat hanya Mama Siska yang berada di sana.
“Ma”, panggil Reina lembut.
“Rei, gimana kondisi Mila?”, tanya Mama Siska yang masih khawatir.
“Mama, nggak perlu khawatir. Kak Frans tadi juga bilang kalau Mila sudah melewati masa kritisnya”, jawab Reina yang tidak ingin Mamanya tambah khawatir. “Oh iya, Papa dan Farhan ke mana Ma?”
“Farhan tadi katanya dia mau keluar sebentar. Kalau Papa lagi menelepon di sana”, jawab Mama Siska sambil menunjuk ke arah Papa Roy yang berada di balik tembok.
Kemudian, Reina pun langsung ingin menemui papanya. Ia ingin papanya membantunya dalam menyelesaikan masalahnya dan menangkap penjahat itu. Tapi, Reina malah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.
“Ini sudah kelewatan! Kenapa kamu mengincar anak-anakku? Kamu hanya punya masalah denganku. Jadi, jangan ganggu anak-anakku dan istriku. Atau aku juga akan memberikan pelajaran padamu. Selama ini aku diam karena aku masih menganggapmu sebagai sahabatku....”, ucap Papa Roy dalam percakapannya lewat handphone.
Reina semakin kalut memikirkannya. Ia menghindar seperti tidak ingin mengetahui apapun. Ia takut jika ia akan membenci ayahnya.
***
Di tempat lain, Justin mengawal para pengawal itu yang tengah di pingsan di sebuah kerangkeng. Walaupun ia dalam kondisi yang begitu lemah karena habis di hajar Farhan, ia harus tetap melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
“Awas kau Farhan. Aku akan membalas perbuatanmu ini!”, sumpahnya sambil mengobati bagian tubuhnya yang terluka.
***