
Papa Roy melangkahkan kakinya mendekati Reina. Reina tetap diam di posisinya. Ia tidak takut sama sekali dengan apa yang akan dilakukan Papanya terhadapnya. Kemudian, papa Roy memegang pundak Reina.
“Papa gak nyangka gadis kecil papa sudah besar sekarang”, ucap Papa Roy tersenyum namun terlihat matanya berkaca-kaca.
Reina memalingkan wajahnya. Ia pun tidak sanggup melihat Papanya. “Papa jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab saja Pa”, ucap Reina yang masih tidak ingin melihat wajah Papanya.
“Papa memang menyimpan cerita itu. Tapi, Papa tidak pernah berbohong. Kamu saja yang sudah tahu semuanya tidak sanggupkan memberitahukan pada Mama tadi? Apalagi Papa Rei!”, jawab Papa Roy berusaha meyakinkan Reina.
Benar, Reina juga sama sekali tidak bisa bilang itu semua ke mamanya. “Terus, kenapa Papa memilih menyelamatkan Frans dan mengorbankan kasus kak Angga?”, sambung Reina yang masih tetap ingin tahu.
“Frans memang menjadi saksi saat Angga di pukuli. Tapi, saat Baron tahu ada saksi mata, ia pun ingin membunuhnya. Saat itu, Frans juga sudah babak belur. Untungnya Papa segera menemukannya. Baron dan Papa sempat berkelahi dan Papa kalah. Lalu, dia bilang akan memberi satu kesempatan pada keluarga kita asal Papa tetap diam”, Jelas Papa Roy pada Reina.
Flashback on.
Baron menyuruh anak buahnya untuk meretas semua CCTV yang ada di sekitar lokasi kejadian. Ya, ia ingin menghilangkan bukti pada saat Angga mengalami pengeroyokan. Tapi, saat itu salah satu anak buahnya memberitahu jika ada seseorang telah melihat aksi mereka. Dengan begitu, Baron pun menjadi marah besar. Ia menyuruh anak buahnya itu, mencari informasi tentang orang tersebut.
Kemudian, di suatu sore. Di dalam gang yang sempit terjadi pengejaran. Frans yang tengah di kejar sudah tidak tahan lagi. Ia sangat kelelahan. Semakin lama, larinya semakin melambat dan ia pun tertangkap.
Saat itu, Baron sendiri yang mengambil alih. Saat itu, tangan Frans di tahan oleh anak buah Baron. Dan.... Bugh! Baron memukul Frans bertubi-tubi.
“Dasar brengsek! Ini adalah hukuman buatmu. Aku... Akan menghilangkan semua bukti!”, ucap Baron sambil mencengkeram kerah baju Frans.
“To... Tolong jangan bunuh saya Pak!”, pinta Frans yang sudah hampir tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Kenapa? Bukannya kamu bisa bersama kedua orang tuamu di neraka sana? Lagi pula tidak ada yang sedihkan, jika kamu mati?”, hina Baron pada Frans.
Frans yang mendengar ucapan Baron itu itu pun menjadi sedih dan meneteskan air matanya. Ia begitu sakit hati saat Baron menyebut orang tuanya masuk ke dalam neraka. Ia juga teringat dirinya yang hanya hidup sebatang kara. Bekerja di jalanan demi pendidikannya dan juga makannya sehari-hari. Selama ini, Orang-orang tidak ada yang kasihan padanya. Ia malah sering mendapat hinaan.
“Brengsek!”, teriak Frans di depan wajah Baron.
Frans berusaha melepaskan dirinya dari anak buah Baron. Amarahnya memuncak karena tidak Terima dengan hinaan Baron
“Lepaskan aku! Lepaskan!”, sambung Frans.
Plak! Baron menampar Frans dengan sangat kuat. Ia juga sangat marah saat Frans menghinanya.
“Lepaskan aku! Aku ingin membunuhnya. Siapa kau menghina orang tuaku, brengsek! Aku lebih baik hidup sebatang kara ketimbang hidup menjadi manusia gila sepertimu!”.
“Banyak omong!”, ucap Baron geram lalu melayangkan pukulan pada Frans.
Baron pun melihat orang itu yang ternyata adalah Roy. Roy berlari mendekat pada Baron. Kemudian ia melihat anak yang tengah di hajar oleh sahabatnya itu. Roy sangat kasihan melihatnya yang sudah babak belur.
“Lepaskan dia! Apa sebenarnya maumu?”, tanya Roy geram.
Baron menyunggingkan senyumannya, “Kau tau kan, menghilangkan bukti adalah keahlianku”.
Roy tidak tahan lagi, ia langsung mencengkeram kerah baju Baron dengan sangat kuat. “Kau sudah melewati batas Baron! Ini tentang kita! Kenapa kau melukai anakku!”, ucap Roy dengan tubuh yang bergetar sangking marahnya.
“Anakmu, juga sudah melewati batas! Tidak seharusnya dia ikut campur sampai sejauh itu!”, balas Baron tak kalah marah.
__ADS_1
Roy menatap Baron dengan tajam, “Kau tidak tahu bagaimana lukanya hati seorang ayah melihat anaknya tidak berdaya di rumah sakit. Dia hanya ingin membuktikan jika ayahnya tidak bersalah. Tapi, kau malah ingin membunuhnya”.
Roy perlahan melepaskan genggamannya, namun tangannya meraba ke leher Baron. Ya, Roy saat itu ingin sekali mencekik Baron. Dengan kuat, Roy mencekik leher Baron.
Baron langsung gelagapan, ia langsung mencengkeram tangan Roy yang tengah mencekiknya. Ia berusaha melepaskannya.
Bugh! Seseorang memukul punggung Roy dengan kuat. Sehingga sekali pukul saja Roy sudah tumbang. Tidak mengulur-ulur waktu lagi, Baron langsung gantian menghajar Roy. Sehingga Roy pun babak belur.
Dengan segala sisa kesadarannya, Roy menatap Baron dengan tatapan sedihnya. Dari hati yang terdalam, ia menganggap Baron tetaplah sahabatnya. Ia juga merasa sedih Baron telah berubah sejauh ini.
Tatapan itu, berhasil membuat hati Baron sedikit luluh. Ia dapat mengingat kembali saat-saat kebersamaan mereka yang indah. Ke mana-mana selalu berdua dan saling mendukung.
“Kali ini aku akan berbaik hati padamu! Aku tidak akan mengganggu keluargamu asal kalian tahu batasan kalian. Tetaplah diam dan tidak tahu apa-apa. Kalau tidak, tidak ada ampun lagi untuk kalian!”, ucap Baron.
Lalu, tangan Roy menunjuk ke arah Frans, “Lepaskan dia. Aku yang akan mengurusnya”.
Flashback off.
Reina masih mencerna apa yang di ucapkan Papa Roy. Dan terlihat Reina sepertinya belum bisa terima.
“Baron itu, sangat berbahaya. Semakin kalian tidak tahu itu membuat kalian semakin aman. Tapi, nyatanya kamu terus saja menyelidiki semua ini. Maka dari itu, Baron mengincarmu”, sambung Papa Roy.
“Apa orang seperti itu masih bisa dianggap sahabat? Apa sebenarnya yang Papa dan Kak Angga lakukan? Kenapa dia sangat ingin membunuh kita semua? Apa Pa?”, Tanya Reina yang masih belum puas.
__ADS_1
“Hah! Dulu saat papa susah, dia adalah satu-satunya orang yang selalu menyemangati dan mendukung Papa...”, Jawab Papa Roy sambil mengingat masa lalunya.
***