Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 45. Pertengkaran Reina dengan Papa Roy


__ADS_3

Begitu Reina sampai di kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling. Ia masih belum bisa menerima semuanya. Ia pun menangisi ketidakadilan di keluarganya.


Lalu, Reina mendengar suara dari kamar mandinya. Ia pun terduduk memikirkan siapa kira-kira yang berada di dalam. Dan saat pintu terbuka keluarlah seorang pria tampan yang sangat dikenalnya. Ia hampir lupa jika saat ini telah memiliki suami. Namun, dalam hati Reina bertanya-tanya sejak kapan Farhan berada di rumah ini. Dan lagi-lagi Reina tidak ingin menduga-duga lagi. Ia yakin suatu hari nanti Farhan akan mengerti. Demi cintanya Reina rela membuang semua pikiran buruk terhadapnya.


Farhan keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaiannya. Ia pun tidak pernah berpikir akan melakukan hal yang lebih jauh lagi dengan Reina. Ia tengah memperhatikan Reina. Ia melihat mata Reina memerah.


“Ada apa Rei? Kamu terlihat sedih begitu?”, tanya Farhan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Walau begitu Reina tetap tidak percaya dengan Farhan. Tidaklah mungkin Reina menceritakan apa yang telah ia ketahui. Reina akan terus berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan Farhan.


“Aku cuma merasa capek aja”, jawab Reina sambil memberi sedikit senyuman pada Farhan agar ia percaya.


“Ya sudah. Kalau begitu kamu bersihkan tubuhmu”, perintah Farhan.


Tentu Reina langsung menganggukkan kepalanya. Ia bergegas sambil memperhatikan Farhan. Dan Farhan melewati Reina begitu saja. Ia tidak tahu jika Reina memperhatikannya.


Perasaan Reina semakin sedih. Ia bisa merasakan bagaimana perubahan Farhan. Padahal sejak dulu Farhan selalu menyenangkan menurutnya. Tapi, sejak setelah pernikahan mereka, Farhan lebih banyak diam.

__ADS_1


Dan saat Reina masuk ke kamar mandi, Farhan pun langsung melihat jam tangannya. Ia akan mulai menghitung berapa lama Reina berada di kamar mandi.


Dan saat setengah jam berlalu, Reina pun keluar dari kamar mandi. Farhan tersenyum ke arah Reina. Begitu juga Reina yang telah berpakaian dari dalam kamar mandi. Ya, Reina juga masih merasa tidak nyaman jika ia harus terlihat menggoda.


“Oh ya, kamu mau makan apa nanti malam? Biar aku buatkan”, tawar Reina.


“Apa saja. Apa pun yang kamu masak aku akan memakannya. Asalkan makanan itu pedas. Kamu taukan?”, jawab Farhan.


Reina menganggukkan kepalanya. Ia pun segera keluar kamar dan pergi ke dapur. Membuat Farhan merasa sedikit lega. Ia melihat sekeliling kamar itu.


“Tidak ada bukti apa pun di sini. Di mana ia menyimpannya? Tidak mungkin Reina tidak memiliki bukti. Dia adalah wanita yang sangat cerdas”, ucap Farhan sedikit geram sambil terus melihat ke berbagai penjuru.


Di lantai bawah, saat Reina hendak ke dapur. Mama Siska dan Papa Roy baru tiba di rumah. Langkah Reina pun terhenti begitu melihat Papa Roy. Ia menatap nanar Papa Roy. Dan itu berhasil membuat kedua orang tuanya merasa ada yang aneh. Mama Siska ingin bertanya tentang pandangan lain itu pada Reina. Tapi, Reina langsung memotongnya.


“Ma, aku bisa minta tolong untuk di buatkan makan malam? Aku ingin meminta tolong sesuatu pada Papa”, ucap Reina dengan tenang.


“Apa ini tentang si penembak itu? Apa kamu sudah menemukannya?”, tanya Mama Siska antusias. Ia merasa mempunyai anak perempuan yang sangat hebat seperti hero.

__ADS_1


Reina tersenyum pada Mama Siska sambil menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Papa Roy, ia terlihat senang karena putrinya meminta bantuan padanya. Karena Papa Roy tahu sejak dulu Reina selalu mempercayainya.


“Oh ya Ma, untuk Farhan buat yang pedas ya”, lanjut Reina. “Ayo Pa, kita ke ruang kerja”.


Reina dan Papa Roy pun menaiki anak tangga untuk masuk ke ruang kerja di rumah itu. Dan sampai di sana, Reina langsung menanyakan yang ingin ia ketahui tanpa basa-basi lagi.


“Pa, tolong kali ini Papa jujur sama Reina. Apa sebenarnya tujuan Papa dengan menutup kasus kak Angga?”, tanya Reina dengan tatapan tajam pada Papa Roy.


“Rei, sudah Papa bilang. Papa gak mau orang-orang itu membahayakan kalian lagi. Kalau kasus itu di lanjutkan, akan ada korban lagi”, jawab Papa Roy yang masih bernada lembut.


“Papa kira aku anak kecil? Apa menurut Papa jawaban itu masuk akal? Dengar Pa! Papa menutup kasus kakak hanya untuk menyelamatkan anak dari teman Papa itukan? Oh, bukan! Tapi, anak yang seharusnya menjadi saksi untuk kak Angga! Ya kan Pa!” ungkap Reina dengan nada yang kuat.


Papa Roy terdiam seribu bahasa. Ia terus menatap Reina. Tapi, raut wajahnya begitu sedih. Karena, baru kali ini Reina berbicara dengan nada setinggi itu terhadapnya. Ya, ia baru menyadari putrinya sekarang sudah menjadi dewasa. Sungguh cepat sekali waktu berlalu baginya. Dimana putrinya yang selalu manja dan meminta apapun padanya kini telah mampu berbicara seperti itu padanya.


“Kenapa Papa diam? Papa kaget aku tau semuanya? Kak Frans udah cerita semuanya padaku. Tapi, anehnya dia bilang kalau aku harus percaya pada Papa. Apa menurut Papa, Papa pantas di percaya? Setelah aku mendengar obrolan Papa dengan sahabat Papa itu? Kenapa sih Pa, Papa gak jujur aja sama kami? Apa Papa nggak pernah mikir perasaan kami? Lalu gimana jika mama sampai tau jika Papa telah berbohong selama ini? Gimana kalau Mama tau jika Papa juga dari bagian atas kecelakaan kak Angga dan penembakan itu?”, Reina benar-benar berbicara tanpa henti.


Papa Roy masih belum juga menjawab. Mereka saling berpandangan. Reina dengan tatapan marahnya dan Papa Roy dengan tatapan sedihnya.

__ADS_1


***


 


__ADS_2