Menikah Dengan Mr. Arogan

Menikah Dengan Mr. Arogan
Bab 68. Mama Siska Terjebak


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Mama Siska mulai curiga. Ia juga hawa di kamarnya seperti agak lain. Dan benar saja, ia melihat kobaran api yang sudah mengelilinginya. Mama Siska langsung loncat dari kasurnya sambil berteriak minta tolong. Ia melihat pintu dan berlari ke arahnya. Di bawah pintu itu juga sudah terdapat api. Ketika Mama Siska mencoba memegang pegangan tangannya, ia langsung menjerit karena ke panasan.


Mama Siska pun mundur lagi mencari tempat yang belum terkena api. Ia terus berteriak sambil terbatuk-batuk.


Sedangkan di tempat lain, Papa Roy berada di halaman belakang sedang melamun memikirkan berita penyimpangan tentang dirinya yang kini telah tersebar luas.


Dan Angga sedang berada di ruang kerjanya. Awalnya ia ingin masuk ke kamarnya. Tapi, niat itu di batalkannya karena di kamar itu pasti ia akan teringat pada Mila. Sedangkan saat ini ia masih tidak ingin mengingatnya. Ia duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Lalu, ia tersadar jika ada bau yang sangat kuat di sana.


“Inikan, bau bensin?”, ucap Angga yang masih menerka-nerka.


Ia terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Kemudian, samar-samar ia mendengar suara minta tolong.


“Mama!”, ucapnya lalu buru-buru keluar dari ruangan itu.


Dan benar saja, asap keluar dari kamar orang tuanya juga dari kamarnya. Seketika semua orang berkumpul di lantai bawah dan menyaksikan asap yang banyak itu. Beberapa asisten rumah tangga yang wanita berteriak ada kebakaran dan minta tolong. Dan suara itu terdengar jelas di telinga Papa Roy.


Papa Roy pun bergegas masuk ke rumah. Ia langsung teringat dengan istrinya yang berada di kamar. Ia menaiki tangga namun, di halangi oleh Angga.


“Mundur Pa! Ini terlalu berbahaya!” ucap Angga yang tidak mau Papanya ikut kenapa-napa.


Sedari tadi Angga sudah menggedor-gedor pintu namun, tidak ada sahutan dari dalam. Dan... Tiba-tiba sekeliling rumah itu sudah di penuhi api. Orang-orang yang tadi masih di bawah dan melihat kini mereka langsung bergegas keluar.

__ADS_1


“Tolong! Bawa Papa saya juga untuk keluar dari sini”, pinta Angga pada mereka.


“Tidak! Papa mau nyelamatin Mama”, bantah Papa Roy.


“Biar Angga yang mengurus Mama, Pa. Angga janji akan bawa Mama keluar dari sini dengan selamat”, jawab Angga penuh keyakinan.


“Tapi... Kamu...”, ucapan Papa Roy terhenti karena tiba-tiba plafon di atasnya rubuh dan hampir mengenai dirinya.


Pada pekerja itu pun buru-buru membawa tuan besarnya itu untuk keluar sebelum sesuatu terjadi pada mereka. Dan Angga sudah mengancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Tentu itu sangat sulit. Sudah beberapa kali di dobrak pintu itu belum terbuka juga. Angga mulai kesakitan dan kelelahan. Di tambah lagi asap yang sudah banyak terhirupnya.


Sedangkan di luar, Papa Roy menyuruh Pak Bob yang ada di sampingnya yang tengah memeganginya untuk memanggil pemadam kebakaran dan ambulan. Ia sampai menangis tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan ada dua nyawa di dalam sana yang masih berjuang. Di lihatnya rumahnya yang sedang terbakar itu. Dalam hatinya ia rela, sangat rela semua hartanya habis terbakar. Tapi, hanya satu pintanya pada Allah agar menyelamatkan istri dan anaknya yang masih di dalam sana. Tangisnya begitu pecah. Hingga yang lain ikut merasakan kesedihan Papa Roy.


Mila yang baru turun dari taksi, matanya langsung terbelalak di suguhkan oleh pemandangan kebakaran itu. Tubuhnya langsung gemetaran. Ia merasa tulangnya menjadi lunak. Seakan masa lalunya terulang kembali. Dimana penggusuran itu sangatlah kejam. Selain di hancurkan, rumah-rumah itu juga banyak yang terbakar. Mila perlahan mengatur napasnya yang tidak stabil akibat rasa traumanya.


Ia berlari menyukai Papa Roy. Mereka pun langsung berpelukan. Dan Papa Roy langsung bilang pada Mila jika Mama Siska dan Angga masih berada di dalam.


Ser! Darah Mila rasanya seperti habis seketika. Di lihatnya rumah itu yang sudah di penuhi kobaran api. Ia langsung menangis memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi pada keduanya.


Tidak, Mila tidak mau hal itu terjadi. Ia pun langsung berlari menuju pintu utama. Namun, sayangnya ia di halau oleh beberapa orang.


“Lepaskan! Ma! Mas Angga!”, teriak Mila memanggil keduanya dengan air mata yang bercucuran.

__ADS_1


Ia terus berusaha ingin mencoba masuk ke dalam tapi, ia tidak bisa mengalahkan kekuatan orang-orang yang tengah menghalanginya. Di titik ini ia merasa tidak berguna sama sekali. Padahal walaupun mati ia ikhlas asalkan suami dan mamanya bisa selamat. Mereka adalah orang-orang baik. Yang telah menerima Mila di saat tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Ia merasa inilah saat ia membalas budi.


Suara sirene pun terdengar yang tengah memasuki pekarangan rumah. Mereka bergegas untuk memadamkan.


“Apakah di dalam masih ada orang?”, tanya salah seorang petugas damkar apda Mila.


“Tolong Suami dan mama saya pak! Cepat!”, pinta Mila yang tidak sabaran.


“Baik bu!”, jawab pria itu tegas.


Tapi, ternyata mereka melihat sosok di dalam sana yang sedang berjalan ke arah keluar. Mereka pun tertegun sesaat untuk melihat sosok itu. Dan ternyata itu adalah Angga dan ia tengah mengendong Mama Siska yang sudah pingsan.


Angga langsung menaruh tubuh Mama Siska ke bangsal yang telah di siapkan oleh petugas ambulan. Mereka langsung membuat pertolongan pertama untuk Mama Siska terutama menyuplai oksigen ke tubuhnya. Mereka juga memeriksa keadaan Angga untuk melihat kondisinya.


Papa Roy langsung mendatangi istrinya sambil menangis. Ia pun ikut saat Mama Siska di bawa ke rumah sakit.


“Kak! Kenapa bisa terjadi?”, ucap Reina pada Angga. Ia baru saja sampai dan sangat syok melihat rumahnya terbakar.


“Entahlah! Kakak juga tidak tahu”, jawab Angga tapi matanya tertuju pada Mila seakan ingin menyalahkan Mila.


Mila tahu, jika saat ini Angga kemungkinan besar marah padanya. Ia tahu betul Angga tadi melihatnya. Ia tanda dengan mobilnya. Bukannya ia sengaja ingin membuat Angga salah paham. Tapi, hanya cara ini agar Angga tidak menghalanginya untuk bertemu dengan Baron.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, tangan seseorang menarik tangan Mila. Dan orang itu adalah Farhan. Ia menarik Mila untuk menjauh dari mereka. Angga jelas melihatnya. Tapi, kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk beradu. Mila pun terlihat diam saja mengikuti arahan Farhan. Makanya, Angga juga tidak terlalu perduli. Jika saja raut wajah Mila saat itu tampak memohon padanya, Angga pasti mengusahakannya


***


__ADS_2