
Sungguh pagi hari yang sangat indah. Mila terbangun dari mimpi indahnya. Ia sengaja menarik badannya untuk merenggangkan otot-otot yang di rasa sangat kaku. Terlihat di wajahnya yang tersenyum tanda ia begitu bahagia sembari membuka matanya ia melihat ke samping. Mila pun semakin tersenyum melihat wajah tampan Angga.
Kemudian, ia tersadar bahwa dirinya tidak memakai apa-apa. Ia lihat ke lantai dan benar saja ia menemukan pakaian beserta pakaian dalamnya berserakan di lantai. Memikirkannya saja ia sudah sangat malu.
Dengan mengandalkan selimut yang melilit di tubuhnya, perlahan Mila turun dari ranjang. Sebelum Angga bangun dan melihat tubuh polosnya itu. Dia harus memungut pakaiannya itu dan segera membersihkan diri. Pelan-pelan ia mengambil pakaiannya dan dengan tangan satunya lagi ia memegangi selimut agar tidak terlepas dari tubuhnya.
“Ehem!”, Angga berdehem.
Seketika Mila berhenti bergerak. Ia sangat terkejut mendengar suara Angga. Kemudian, ia pun melihat ke belakang. Dan benar saja, Angga terlungkup dengan posisi badan ke arah Mila. Dan kepalanya berasa di tepi ranjang untuk melihat Mila. Mila hanya bisa tersipu malu.
“Sayang... Kamu lagi ngapain?”, tanya Angga sambil tersenyum.
Mila tidak menjawabnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar malu saat itu. Mila kembali memandang pakaiannya dan ingin segera mengambilnya. Tapi, Lagi-lagi di gagalkan oleh Angga.
“Kamu kenapa masih pakai selimut itu? Padahal aku sudah melihat semuanya loh”, ungkap Angga menggoda Mila.
Mila pun semakin malu mendengarnya. Ia sampai menggigit bibirnya di bagian bawah.
“Hah! Ternyata punya istriku masih sangat kecil”, goda Angga lagi sambil tersenyum. “Apa perlu suamimu ini terus memijat itu tiap malam agar semakin.....”.
“Mas Angga! Ih mulutnya!”, teriak Mila dengan menutup mulut Angga.
Tapi, satu tangannya lagi masih memegang selimut itu. Dan Angga langsung menahan tangan Mila. Kemudian memeluk Mila dan menariknya lagi naik ke atas ranjang. Mata Mila pun terbelalak karena kaget dengan perlakuan suaminya.
“Aku masih kangen banget sama kamu”, ucap Angga manja sambil memeluk Mila.
“Mas, lepasin aku! Aku mau mandi. Bentar lagi azan subuh”, ucap Mila.
“Gimana kalau kita melakukannya lagi sebelum sholat subuh?”, ajak Angga sambil menciumi leher Mila.
__ADS_1
“Mas..ah..”, ucap Mila yang di akhiri sebuah *******.
“Sekali aja.. Pakai mode cepat”, rayu Angga lagi.
Mila tidak bisa bilang apa-apa lagi. Karena itu adalah permintaan suaminya. Bagaimana ia bisa menolaknya? Tangan Angga pun dengan lembut melepaskan selimut yang melilit di tubuh Mila. Dan tampaklah tubuh indah itu. Angga sudah langsung melahap bibir Mila yang menjadi candunya itu. Dan...
Ting... Tong.. Bunyi bel
“Angga! Mila! Apa kalian di dalam?”, seseorang berteriak dengan sangat kuat dari luar apartemen itu sambil menggedor pintu.
“Mama!”, ucap Angga yang terkejut melepaskan ciumannya
Dan begitu juga dengan Mila. Sontak ia menjadi salah tingkah. Ia langsung melepaskan pelukannya dari Angga dan turun dari ranjang. Mila pun terbirit-birit berlari ke kamar mandi tanpa ia sadari dirinya tidak memakai apa-apa.
Angga yang melihatnya menjadi terkekeh. Lalu, dengan santai Angga berjalan keluar dari kamarnya dan langsung membuka pintu. Dan tampaklah Ibu, ayah, adik beserta iparnya berkumpul di balik pintunya.
Mereka juga tampak heran, melihat Angga dari atas hingga ke bawah ia hanya memakai celana boxer. Dan menampilkan sesuatu yang berada di dalamnya menonjol.
“Sayang, apa kami mengganggu kalian?”, tanya Mana Siska yang tampak menyesal namun ia tersenyum juga karena senang mengetahui keduanya sedang bermesraan.
“Ma! Kita kesini karena mengkhawatirkan kak Angga dan Mila! Mama malah memikirkan yang lain”, ucap Reina yang malu dengan ucapan Mamanya.
Angga mendesah sambil memijat kepalanya, “Kenapa kalian pagi-pagi begini datang? Masuklah!”
Berbeda dengan Farhan. Ia begitu marah dalam hatinya memikirkan apa yang telah terjadi pada Mila dan Angga. Sungguh rasanya ia tidak rela. Padahal selama ini dialah yang bermimpi menjadi pertama untuk Mila. Pikirannya sangat kacau. Tanpa di sadarinya ia telah mengepalkan tangannya.
Saat semuanya ingin masuk, Farhan malah pamit keluar sebentar karena ada sesuatu yang tertinggal. Padahal itu hanya alasan saja untuk ia bisa sendirian. Ia pun pergi ke toilet yang pastinya sepi.
Bugh! Farhan memukul dinding toilet itu untuk melampiaskan amarahnya. Ia juga sampai menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak frustrasi. Kemudian, ia ingat siapa orang yang harus di salahkan.
__ADS_1
Farhan segera menelepon Tasya.
“Kau! Semua ini gara-gara kamu! Kamu tahu, gara-gara ide bodohmu Angga dan Mila jadi bercinta tadi malam!”, bentak Farhan pada Tasya yang di seberang telepon.
(“Loh, kok jadi kamu yang marah-marah? Kamu tuh ya, taunya mikirin gadis kampungmu... aja! Apa kamu pikir aku cuma main-main? Sampai saat ini semua cara sudah aku lakukan untuk menjatuhkan Angga! Biar apa? Biar si tua Roy itu tau bagaimana rasanya melihat orang yang di cintai itu hancur!”, jawab Tasya gak kalah marah dengan Farhan.)
“Ya! Tapi apa? Apa yang udah kamu dapat dengan ide-ide bodohmu itu ha? Nothing! Kamu benar-benar tidak berguna!”, sahut Angga lagi dan langsung mengakhiri panggilannya.
“Aaarrrghh! Sial! Sial! Sial!”, ucap Farhan sambil memukul-mukul wastafel.
Sementara itu...
Papa Roy, Mama Siska dan Reina, sedang bengong sambil melihat Angga yang terlihat agak lain. Ia dari tadi senyum-senyum terus.
“Ih, kakak kesurupan ya? Dari tadi senyum-senyum gak jelas! Biasa aja kali!”, ucap Reina yang geli melihat tingkah kakaknya.
Yah, bagaimana lagi. Walaupun itu adalah kedua kalinya, tapi bisa dikatakan ia begitu candu dengan istrinya. Sampai-sampai ingatan-ingatan indah itu tidak pergi dari kepalanya.
“Angga apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bisa sampai nginap di apartemen?”, tanya Papa Roy.
“Tau nih! Mana di telefon gak diangkat-angkat! Gak tau apa semua orang cemas!”, sahut Reina dongkol.
Angga pun menarik napasnya. Ia sedang berpikir apakah ia harus memberitahukan keluarganya kejadian tadi malam atau tidak. Ia hanya takut semua akan ikut khawatir. Tapi, bagaimana ia menutupinya sekarang. Yah, Angga tidak ada pilihan lain selain menceritakan semua kejadian tadi malam. Dimana Tasya menjebaknya.
Mama dan Papa Roy, sangat terkejut mendengar Tasya bisa senekat itu. Padahal selama ini, mereka mengenal Tasya dengan sosok yang lembut.
“Hah, tapi semua ini ada hikmahnya. Kalau nggak gitu kapan lagi kita punya cucu, yakan pa?”, ucap Mama Siska yang begitu senang.
Mereka tidak tahu saja wanita yang di dalam kamar itu sedang gelisah. Mau menemui keluarganya, ia pun merasa sangat malu.
__ADS_1
***