
Drian menarik wanita itu untuk ke kamarnya, ia ingin bicara empat mata dengan Queen.
"Mau kemana sih?" Queen terseret tarikan tangan Drian.
Sesampainya di kamar Drian langsung menutup pintu kamarnya, ia kembali menarik Queen sampai Queen duduk di sofa, bukannya langsung bicara Drian malah terdiam memandangi Queen, tampaknya ia bingung harus bicara apa, di otaknya sudah terangkai banyak kata-kata, tapi ia tidak bisa menjelaskannya pada Queen.
"Mau apa sih?" tanya Queen membalas tatapan Drian.
"Gue mau ngurus anak Wilona bareng-bareng, kita lanjutkan aja pernikahan ini sampai Daniel tumbuh Dewasa," Drian malah menjadikan Daniel sebagai alasannya, padahal alasan utamanya bukan itu, ia hanya sudah tidak mau pisah dengan Queen.
Queen menghela nafasnya, setelah mendengar ucapan Drian tampaknya ia sedikit kecewa, mengapa Daniel yang jadi alasan pernikahan ini berlanjut.
"Kalau masalah Daniel lu enggak perlu pikirin, gue sama nyokap gue pasti bisa kok besarin Daniel," balas Queen malas.
"Enggak bisa gitu dong."
"Kenapa gak bisa? Gue sanggup dan mampu besarin Daniel tanpa adanya lu. Bukannya yang dari dulu pengen pernikahan ini cerai tuh kan elu, kenapa setelah waktunya tiba lu malah jadiin Daniel alasan," Queen berdiri di hadapan Drian, ia tidak menyangka bila Drian ternyata masih belum punya rasa apapun padanya.
"Kok jadi marah sih? Kalau emang lu mau cerai bilang aja, elu kan yang mau cerai sebenernya?"
Queen mengerutkan keningnya bingung, "Lu yang mulai duluan, tau ah pusing gue," Queen meninggalkan kamar Drian.
Drian menaikkan bahunya bingung dengan apa yang Queen maksud, "Jadi sebenarnya kau mau kita cerai atau tidak?" teriak Drian.
"Entahlah," balas Queen acuh tidak acuh.
Queen dengan wajah cemberutnya berjalan ke kamar sambil terus mengumpat, "Jadi selama ini Drian masih aja sama ternyata, nyebelin dan gak tau diri," umpat nya.
__________
Malamnya Drian memilih untuk pergi ke kafe menemui Niana dan Juan, ia ingin membicarakan masalahnya dengan Queen. Karena Niana adalah teman dekatnya Queen mungkin Niana bisa memberinya sedikit pencerahan.
Niana telah datang ke kafe yang disepakati, "Sorry gue ngajak kalian ketemu malam ini, padahal tadi kalian baru aja selesai tunangan. Soalnya penting," Drian merasa tidak enak.
__ADS_1
"Santai aja, emangnya ada apa sih?" Niana tidak masalah dengan hal itu karena ia tau kalau ini menyangkut Queen sahabat terbaiknya.
"Kontrak pernikahan gue sama Queen akan berakhir minggu depan, gue bingung sama perasaan gue sendiri. Harusnya gue seneng dong akhirnya semua telah berakhir, tapi entah kenapa hati kecil gue malah gak mau pisah sama Queen," jelas Drian, pria yang biasa terlihat galak ini kini tampil berbeda.
Niana tersenyum kecil, "Bilang aja udah cinta gitu," ledek Niana sembari menatap Juan dan mereka tertawa bersama.
"Yah mungkin begitu, tapi pas tadi gue minta buat mempertahankan pernikahan ini sama Queen, dia malah marah-marah sambil cemberut, apa Queen enggak ngerasain apa yang gue rasain yah. Tapi enggak masalah sih kalau Queen emang memilih untuk cerai," lanjut Drian pasrah.
"Gue gak yakin deh kalau misalkan Queen kayak gitu, soalnya gue juga tau kalau sebenarnya Queen udah suka sama lu. Kalian berdua tuh dari jaman sekolah juga udah keliatan kali saling sukanya," Timpa Niana.
"Lo bicara apa sih? Mana ada gue pas sekolah cinta sama dia, dia tuh cewek gila."
"Eh pepatah mengatakan, kalau kita terlalu membenci seseorang perasaan benci itu lama kelamaan malah akan jadi cinta tanpa kalian sadari. Makannya kalau benci sama orang tuh jangan keterlaluan, jadi cinta kan lu sekarang," Juan ikut bicara.
"Ah gak bener cerita sama kalian berdua," Drian berdecak sebal.
"Emang lu ngomong apa sama Queen sampai dia marah-marah?" tanya Niana penasaran.
"Gue bilang gue mau mempertahankan pernikahan itu karena Daniel," balas Drian dengan polosnya.
"Kenapa? Emang gue salah?"
"Iya salah bodoh," balas Juan dan Niana berbarengan.
"Salahnya dimana coba?"
"Coba deh lu jujur sama Queen tentang perasaan lu sama dia," titah Niana.
"Mana bisa gue jujur sama dia, entar kalau tiba-tiba gue di permalukan dia mau gue taro dimana muka gue coba?"
"Lu mau malu atau di tinggalin Queen buat selamanya, ini kesempatan bagus buat lo tau," Juan memukul tangan Drian pelan.
"Emang lu berdua gak pernah lakuin hubungan suami istri selama ini?" tanya Juan agak melenceng.
__ADS_1
Drian menggeleng.
Juan dan Niana cukup kaget dengan balasan Drian, "Bisa-bisa nya lu gak hilap," ledek Niana tertawa kecil.
"Gini deh, gue kasih lu saran. Mau lu lakuin atau enggak itu terserah lu, Lu tinggal jujur aja sama apa yang lu rasain ke Queen, dulu Queen pernah bilang mau di tembak sama orang di atas taburan bunga," jelas Niana.
"Oke," walaupun masih bingung bagaimana caranya Drian langsung memikirkan ide, selain memikirkan ide ia juga harus memikirkan kata-katanya.
Sementara itu di rumah Queen sedang makan snack sembari nonton televisi, ia masih kesal dengan Drian. Pintu utama terbuka, di sana Drian langsung berjalan menghampiri Queen, Queen sok cuek pada Drian ia tidak peduli dengan kedatangan Drian sama sekali.
Drian duduk di sofa, "Bikinin mie instan sana gue lapar," titah Drian.
"Kan ada pelayan, minta mereka aja."
"Gak mau, gue pengen lu sendiri yang buat."
"Ribet deh jadi orang," walaupun dengan wajah yang cemberut Queen tetap menurut, ia berjalan ke dapur untuk memasak Mie di temani oleh salah satu pelayan rumahnya.
"Non biarkan saya yang masak Mie instan nya," pinta pelayannya itu.
"Gak usah saya aja," balas Queen.
"Baik Non."
Sementara itu Drian sengaja meminta salah satu pelayannya untuk menemani Queen ia ingin Queen lama di dapur, Drian meminta pelayannya untuk melakukan apapun agar Queen lama di dapur, sedangkan Drian dan pelayan yang lain tengah menaburkan bunga di ruang tengah, Drian juga membeli sebuket bunga mawar yang besar.
"Duh Mba gimana sih?" Queen kesal karena mie Instan yang telah ia buat malah tumpah di senggol pelayannya.
"Maaf Non saya benar-benar tidak sengaja, saya bereskan dulu dan akan saya buatkan yang baru."
"Hati-hati dong Mba."
"Iya Non sekali lagi saya minta maaf."
__ADS_1
Queen kembali memasak mie instan dari awal, semua persiapan telah selesai, Drian kini berdiri di tengah-tengah bentuk Love yang tadi ia gambar menggunakan taburan kelopak bunga mawar. Para pelayan yang tadi membantu Drian juga bubar, Drian hanya ingin mengungkapkan semua isi hatinya pada Queen.
Drian sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan ia dapatkan nanti, setidaknya ini akan membuatnya tidak menyesal dan lega karena telah ia ungkapkan pada Queen.