
Di sebuah ruangan yang dikelilingi jendela kaca, David berdiri memandang wajah Devid di depannya. Pria itu sengaja menemui Devid di ruangan itu karena ia sudah tahu di mana tempat Devid tinggal selama ini. Devid terlihat tenang melihat David ada di depannya. Ia sama sekali tidak merasa memiliki beban walau jelas-jelas baru saja ketahuan berbohong.
"David, bagaimana kabarmu? Oh ya, sejak kapan kau bisa berjalan dan berbicara? Sepertinya kita perlu mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhanmu ini," ucap Devid sambil menuang minuman ke dalam gelas. Ia menuang 1 botol minuman yang sama ke dalam dua gelas dan meneguk salah satunya lebih dulu. Setelah itu Devid berjalan mendekati David untuk memberikan gelas yang satunya
"Minumlah. Aku tidak memberi racun di dalamnya."
David menerima minuman tersebut dan mulai meneguknya secara perlahan. Pria itu meletakkan gelasnya di meja yang ada di dekatnya.
"Apa tujuanmu melakukan semua ini?" tanya David tanpa mau basa-basi lagi.
"Tujuanku?" Devid menunjuk dirinya sendiri. "Tujuanku untuk sebuah kesuksesan. Aku melakukan semua ini agar bisnis kita bisa berkembang lebih luas lagi."
"Demi bisnis?" David masih tidak paham dengan tujuan Devid. Di matanya Devid melakukan semua ini hanya karena ingin membuat hidupnya hancur suatu saat nanti.
"Ya. Apa kau tahu kalau secara diam-diam aku dan Logan membuat sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang pasti akan di kunjungi oleh semua orang yang ada di dunia ini. Sayangnya sebelum rumah sakit itu selesai 100%, kau sudah muncul dan mengetahui keberadaanku. Tapi itu semua tidak jadi masalah. Aku masih memiliki rencana cadangan," jawab Devid dengan senyuman.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku soal bisnismu ini sejak awal? Bukankah kita saudara? Aku bisa membantumu jika memang tujuanmu untuk bisnis keluarga kita."
__ADS_1
Devid tertawa meledek. "Memberi tahumu?" Devid menggeleng pelan. "Tidak. Aku juga harus memastikan kau dalam keadaan benar-benar cacat atau tidak. Setelah rumah sakit itu selesai, aku akan muncul sebagai David yang sehat. Aku akan mengatakan kepada dunia kalau berkat perawatan yang dilakukan oleh dokter-dokter pilihan yang ada di rumah sakitku, aku bisa sembuh seperti ini. Dan kau, kau akan kembali menjadi bayangan David. Kau hanya pantas berada di belakang layar. Hanya aku yang berhak melakukan peran sebagai David."
"Tidak! Aku tidak mau menjadi bayanganmu lagi, Devid," protes David tidak terima.
"Tidak mau? Tapi sayang sekali, penolakanmu tidak akan mengubah apapun. Sebenarnya melihat keadaanmu yang sekarang aku sempat kaget. Seharusnya kau tetap menjadi pria cacat yang bisu. Tapi, itu tidak sulit. Aku akan membuatmu merasakannya nanti. Bagaimana rasanya tidak bisa berbicara dan tidak bisa berjalan. Itu hal yang sangat mudah bagiku," ujar Devid di sertai tawa meledek.
"Aku akan mencegahmu melakukan semua itu. Aku akan lebih dulu mengumumkan kesembuahnku di depan publik sebelum rumah sakitmu selesai!" ancam David gantian.
"Bagaimana caranya? David, kau memang pria yang cerdas, aku akui itu. Tapi, kau bukan pria yang kuat. Menentangku tidak akan mudah bagimu!"
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara omong kosong seperti ini." David memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu.
"Oh ya, satu lagi. Kau tidak perlu repot-repot mencari Albert. Karena kini dia sedang tidur di sebuah kamar yang sangat nyaman," ujar Devid dengan senyuman liciknya.
David mengepal kuat tangannya. Pria itu melangkah cepat mendekati posisi Devid berada.
"Apa yang kau lakukan kepada Albert? Jangan lukai dia. Masalah yang terjadi di antara kita tidak ada hubungannya dengan Albert!" teriak David dengan lantang.
__ADS_1
"Ckckck. Kau benar, David. Masalah di antara kita tidak ada hubungannya dengan Albert. Tapi, tanpa dia kau tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah kekuatanmu ada pada Albert?" Devid melangkah pelan mendekati David. "Tanpa dia kau hanya pria lemah! Bahkan tidak ada bedanya saat kau cacat atau tidak!"
David masih berusaha menahan emosinya. Ia tidak mau berkelahi dengan Devid karena memang tujuannya menemui Devid hanya untuk berbicara baik-baik. Walaupun memang semua yang ia harapkan tidak bisa ia dapatkan. David memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Devid di sana. Tiba-tiba saja Devid memegang pundak David dan menahan pria itu agar tidak bisa melangkah.
"Soal Shazia. Dia wanita yang cantik dan tangguh. Wanita seperti dia sangat pantas menjadi istriku, David. Hanya aku yang bisa melindunginya dari bahaya. Jadi, sebaiknya kau mundur saja dan kembali menjadi bayanganku di bawah. Biar aku yang menggantikan posisimu sebagai suami Shazia."
Kali ini David tidak lagi bisa meredam emosinya. Ia mengepal kuat tangannya dan segera berbalik. Satu pukulan ia daratkan di wajah Devid. Hal itu juga membuat Devid kaget. Selama ini ia belum pernah melihat sikap David yang berani seperti itu. Bisa di bilang David pria yang penakut dan pengasih hingga tidak mau melukai orang lain.
"Kau memukulku?" ledek Devid dengan senyuman.
"Aku tidak hanya berani memukulmu. Tapi, aku juga bisa membunuhmu! Satu hal yang harus kau ingat sampai kapanpun. Kau sudah mati sejak dulu. Hanya namaku yang hidup. Jika kau mau menunjukkan keberadaanmu, kau akan berurusan dengan polisi. Aku adalah David yang asli dan selamanya akan menjadi David yang dikenal semua orang. Mulai sekarang, bersiaplah untuk menjadi bayanganku karena memang itu posisi yang pantas untukmu, Devid!"
David melangkah pergi setelah puas menyampaikan isi hatinya. Devid hanya diam melihat punggung David yang semakin menjauh. Banyak sedikitnya perkataan David memang benar. Maka dari itu selama ini Devid tidak pernah muncul. Ia tidak mau mendapat masalah dengan polisi. Logan lah yang selalu menjadi tangan dan kakinya jika ia ingin melakukan sebuah tindakan.
David terus berjalan dengan wajah emosi. Sebenarnya detik ini ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu benar bagaimana kekuatan yang dimiliki Devid. Mungkin dalam satu genggaman saja ia akan remuk dan menjadi abu yang bertebaran di udara.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin, cepat atau lambat Devid pasti akan melakukan sebuah tindakan. Dan dengan mudahnya ia menyingkirkanku. Apa ketika nanti aku sudah tiada, semua orang akan tahu kalau mereka bersama dengan Devid. Atau, mereka tidak pernah sadar dan hidup bahagia bersama dengan Devid untuk selamanya?"
__ADS_1